![]() |
| Kakanmenag Sawahlunto, Dedi Wandra dalam RDP dengan DPRD. |
Sawahlunto, Rakyatterkini.com — Isu kesehatan mental di kalangan pelajar kembali menjadi sorotan serius. Menyikapi hal tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Sawahlunto, Dr. H. Dedi Wandra, hadir dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kota Sawahlunto, Senin (3/11/2025).
Rapat tersebut digelar untuk menindaklanjuti kasus bunuh diri yang terjadi di lingkungan pendidikan, dengan melibatkan berbagai unsur, antara lain pihak kepolisian, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika, serta para kepala sekolah, guru wali kelas, dan guru bimbingan konseling (BK).
Dalam forum itu, Dedi menegaskan lemahnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai agama menjadi salah satu akar persoalan yang perlu diatasi secara serius. Ia mengutip Surat An-Nisa ayat 29 yang melarang keras tindakan bunuh diri dan menegaskan bahwa tindakan tersebut termasuk dosa besar.
“Pemahaman agama yang baik harus diiringi dengan spiritualitas yang kokoh. Ketika spiritualitas lemah, anak mudah rapuh secara mental,” tegasnya.
Dedi juga memaparkan program Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang telah diterapkan di madrasah-madrasah di bawah naungan Kementerian Agama. Program ini menempatkan kasih sayang sebagai inti proses pendidikan, di mana guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga pembimbing jiwa.
“Kita ingin semua elemen sekolah, guru, petugas kantin, satpam, hingga masyarakat sekitar — berperan dalam menumbuhkan rasa aman dan diterima bagi anak,” ujarnya.
KBC, menurutnya, menjadi bentuk aktualisasi nilai-nilai spiritual yang berorientasi pada pembentukan karakter dan keseimbangan emosional siswa.
Untuk memperkuat upaya pencegahan, Kemenag Sawahlunto mendorong optimalisasi fungsi guru BK melalui berbagai inovasi, seperti:
- Pendirian pojok konseling di sekolah.
- Pengembangan peer counseling atau konseling teman sebaya.
- Pelaksanaan home visit bagi siswa dengan potensi masalah psikologis.
- Layanan bimbingan daring agar siswa mudah mengakses pendampingan emosional.
- Selain pendekatan personal, pengawasan fisik juga dianggap penting.
“Sekitar 30 persen ruang kelas madrasah sudah dipasangi CCTV. Ini membantu pengawasan perilaku siswa. Akan lebih efektif lagi bila ditambah speaker di kelas, sehingga pengawas bisa memberi teguran langsung bila diperlukan,” jelas Dedi.
RDP ini menandai keseriusan berbagai pihak dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih manusiawi, empatik, dan berakar pada nilai spiritual.
Kemenag Sawahlunto berkomitmen terus memperkuat sinergi lintas sektor demi melindungi generasi muda dari tekanan psikologis dan memastikan setiap anak tumbuh dalam lingkungan belajar yang penuh kasih dan pengertian. (Benny)


