Notification

×

Iklan

IPC TPK Catat Pertumbuhan Petikemas 13,1% Jan–Okt 2025

Rabu, 19 November 2025 | 12:50 WIB Last Updated 2025-11-19T05:50:00Z

Arus barang di Pelindo Terminal Peti Kemas.

Jakarta, Rakyatterkini.com – IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) terus menunjukkan tren positif dalam kinerja operasionalnya. Pertumbuhan petikemas sepanjang Januari – Oktober 2025 tercatat mencapai 2.947.775 TEUs, meningkat 13,1% dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 2.604.740 TEUs.

“Peningkatan layanan menjadi fokus kami untuk memberikan kepastian bagi pengguna jasa, dengan tetap mengedepankan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” ujar Pramestie Wulandary, Corporate Secretary IPC TPK, Selasa (18/11/2025).

Pertumbuhan arus petikemas terbesar terjadi pada beberapa wilayah Sumatera. Area Panjang mencatat kenaikan kinerja 24,25%, terdorong oleh ekspor Refined Glycerine (458,9%), kopi (199%), karet (173,7%), udang beku (133,1%), hingga pisang segar (123,5%). Area Palembang juga meningkat 8,43%, terutama dari ekspor karet (115%), kelapa (119%), dan produk kayu (139%). Sementara itu, Area Teluk Bayur tumbuh 15,76% dengan lonjakan ekspor gambier lebih dari 100% dan Cassia Vera sebesar 6,25%. Kenaikan volume petikemas juga tercatat di Area Tanjung Priok 1 (11,7%), Tanjung Priok 2 (5,6%), dan Pontianak (7,6%).

Jumlah kapal yang sandar di terminal IPC TPK pun naik 5,7%, dari 4.114 unit pada periode Januari–Oktober 2024 menjadi 4.349 unit pada periode yang sama tahun ini.

Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan sekaligus menerapkan prinsip ESG, IPC TPK meluncurkan sistem Single Billing PARAMA. Sistem ini menyediakan portal terpadu bagi pengguna jasa untuk melakukan permintaan layanan, mulai dari penerimaan dan pengiriman barang hingga aktivitas pendukung lainnya secara daring. Dengan PARAMA, proses layanan diharapkan lebih efisien, transparan, dan ramah lingkungan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, nilai ekspor Indonesia Januari–September 2025 mencapai USD209,81 miliar, naik 8,14% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor pada periode yang sama tercatat USD176,32 miliar atau naik 2,62%, sehingga neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus USD33,48 miliar.

“Tren positif ini akan terus kami pertahankan sebagai kontribusi pada penguatan perekonomian serta konektivitas logistik nasional maupun internasional,” tutup Pramestie.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update