
Sawahlunto, Rakyatterkini.com — Dari sebuah ruangan di dalam Lapas Narkotika Kelas III Sawahlunto, derap aktivitas membatik terdengar pelan namun pasti. Di balik jeruji besi, warga binaan menorehkan malam di atas kain dengan hati yang penuh harapan.
Hasilnya adalah Batik Tangsi, karya seni bernilai budaya tinggi yang lahir dari proses pembinaan dan semangat untuk berubah.
Batik Tangsi memiliki ciri khas yang tak ditemukan di tempat lain. Motifnya mengangkat kisah masa lalu tangsi orang rantai, para pekerja tambang yang menjadi bagian dari sejarah panjang Kota Sawahlunto pada masa kolonial Belanda.
Nilai sejarah ini berpadu dengan semangat baru untuk menjadikan Sawahlunto kota yang kini diakui UNESCO sebagai Kota Wisata Tambang Berbudaya Dunia, terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budayanya.
Kepala Lapas Narkotika Sawahlunto, Ressy Setiawan, menyebut Batik Tangsi sebagai simbol kerja keras dan perubahan.
“Batik Tangsi adalah hasil karya tangan warga binaan kami yang seluruhnya dibuat secara handmade. Setiap lembar batik mengandung nilai budaya, sejarah, dan semangat untuk bangkit. Ini juga bentuk dukungan terhadap produk lokal yang kini sudah memiliki hak cipta,” ujarnya.
Kini Batik Tangsi tak lagi hanya dikenal di lingkungan lapas. Banyak pejabat daerah, tokoh nasional, hingga Menteri Kebudayaan telah mengenakan batik ini dalam berbagai kegiatan.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon yang sempat berkunjung ke Sawahlunto bahkan memberikan apresiasi langsung.
“Saya sangat bangga memakai Batik Tangsi. Ini bukan hanya produk budaya, tapi juga pesan moral bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja, bahkan dari balik jeruji,” ujar Menteri dalam kunjungan tersebut.
Apresiasi juga datang dari Kalapas Perempuan Padang, Susi Pohan saat berkunjung ke Lapas Narkotika Sawahlunto, Kamis (6/11/2025) yang terinspirasi dengan keberhasilan program pembinaan kreatif di Lapas Narkotika Sawahlunto.
“Luar biasa apa yang telah dilakukan oleh Kalapas dan jajarannya. Program seperti ini membuktikan bahwa pembinaan warga binaan bisa menghasilkan karya nyata yang bernilai tinggi. Kami ingin menjalin kerja sama agar program serupa bisa diterapkan di lapas kami,” katanya.
Program Batik Tangsi kini tidak hanya memperkuat pembinaan mental dan spiritual warga binaan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Melalui kegiatan membatik, warga binaan mendapatkan keterampilan baru, rasa percaya diri, serta peluang untuk berkarya setelah bebas nanti.
Batik Tangsi menjadi bukti bahwa di balik jeruji pun, kreativitas dan budaya dapat tumbuh subur. Dari Sawahlunto, karya ini membawa pesan universal, bahwa setiap orang berhak untuk berubah, berkarya, dan memberi warna baru bagi kehidupan. (Benny)

