Notification

×

Iklan

Pria Pun Berisiko Kanker Payudara, Meski Jarang

Kamis, 30 Oktober 2025 | 22:34 WIB Last Updated 2025-10-30T15:34:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Dokter Spesialis Bedah Umum Eka Hospital Depok, dr. Feyona Heliani Subrata, mengingatkan bahwa pria memiliki jaringan payudara yang berpotensi berkembang menjadi kanker, meski kasusnya tergolong sangat jarang.

“Meskipun angka kejadiannya kurang dari satu persen dari seluruh kasus, kanker payudara pada pria biasanya muncul pada usia lanjut dengan gejala utama berupa benjolan keras di bawah puting,” jelas dr. Feyona di Tangerang, Kamis.

Ia menekankan bahwa tidak semua benjolan di payudara merupakan tanda kanker. Benjolan bisa berupa tumor jinak maupun ganas, tergantung pada karakter pertumbuhan selnya.

Tumor jinak umumnya tumbuh terbatas, memiliki batas jelas, bertekstur halus, dan mudah digerakkan. “Yang penting, tumor jinak tidak menyebar ke organ lain dan tidak mengancam nyawa,” kata dr. Feyona.

Sementara itu, tumor ganas atau kanker bersifat agresif, pertumbuhannya tidak terkendali, batasnya tidak jelas, dan sering menempel pada jaringan di sekitarnya. “Bahaya utamanya adalah kemampuannya menyebar atau metastasis ke kelenjar getah bening, paru-paru, dan tulang,” tambahnya.

Menurut dr. Feyona, sebagian besar tumor payudara bersifat jinak, seperti fibroadenoma yang sering ditemukan pada wanita muda, serta kista yang ukurannya bisa berubah mengikuti siklus menstruasi. Sedangkan kanker payudara ganas biasanya bermula dari saluran susu atau kelenjar penghasil ASI.

Ia menambahkan, beberapa faktor risiko seperti usia di atas 50 tahun dan riwayat keluarga dengan kanker payudara memang tidak dapat diubah. Namun, gaya hidup sehat dapat membantu menurunkan risiko, misalnya dengan menjaga berat badan ideal, rutin beraktivitas fisik, membatasi konsumsi alkohol, serta menyusui bagi wanita.

“Deteksi dini sangat penting. Tidak semua benjolan berarti kanker, tetapi setiap benjolan sebaiknya diperiksa,” tegas dr. Feyona.

Pemeriksaan dapat dilakukan melalui SADARI (pemeriksaan payudara sendiri) setiap bulan, SADANIS (pemeriksaan payudara klinis), serta pemeriksaan pencitraan seperti USG atau mammografi. Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan biopsi atau pengambilan sampel jaringan.

“Wanita disarankan mulai rutin melakukan SADARI sejak usia 20 tahun, sedangkan pemeriksaan klinis dan mammografi sebaiknya dimulai pada usia 40 tahun ke atas, atau lebih awal bagi mereka yang memiliki risiko tinggi,” tutup dr. Feyona.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update