Notification

×

Iklan

Ketika Nyawa Harus Menunggu Rujukan: Indra Sakti Nauli Pergi Setelah Ditinggal Sistem Birokrasi

Sabtu, 25 Oktober 2025 | 10:14 WIB Last Updated 2025-10-25T03:14:21Z

Alm Indra Sakti Nauli bersama istri.

Padang, Rakyatterkini.com — Duka mendalam menyelimuti dunia pers Sumatera Barat. Wartawan senior Indra Sakti Nauli, dikenal tegas dan bersahaja, meninggal dunia setelah diduga tidak mendapat penanganan cepat di beberapa rumah sakit di Kota Padang.

Peristiwa memilukan itu bermula saat azan Subuh baru berlalu. Indra merasakan benjolan keras di lehernya. Ia sempat meminta sang istri mengoleskan minyak but-but seperti biasa. Namun tak lama kemudian, rasa sakit makin hebat hingga membuatnya sulit bernapas.

Sang istri panik dan membawa Indra ke RS H—m—na, tempat pertama mereka mencari pertolongan. Namun dokter menyarankan rawat inap sementara pihak rumah sakit menyatakan kamar penuh. “Kalau mau cepat, cari rumah sakit lain,” ujar petugas.

Pasangan itu berpindah ke RS Y— S—so, tetapi penanganan pun tertunda karena dokter spesialis THT baru praktik sore hari. Mereka lalu menuju RSUP M. D—mil, rumah sakit rujukan terbesar di Sumbar. Di sana, Indra diperiksa oleh sejumlah dokter muda, namun tidak segera mendapat tindakan medis.

Ketika diminta menuju poli THT, petugas menolak pendaftaran karena tidak ada surat rujukan faskes. “Tanpa rujukan, tak bisa daftar,” kata petugas.

Sementara kondisi Indra kian memburuk, sistem administrasi seolah lebih penting dari nyawa. Sang istri sempat memohon agar suaminya dirawat sebagai pasien umum, tetapi Indra sudah terlalu lemah untuk berbicara.

Mereka berpindah lagi ke RS Ib— S—a, namun tetap ditolak karena alasan serupa. Sang istri akhirnya kembali ke faskes untuk mengurus rujukan di tengah suaminya yang semakin kritis.

Malamnya, Indra sempat dirawat di RSUD, dan dokter memastikan pembuluh darah lehernya pecah. Operasi dijadwalkan, tetapi tak sempat dilakukan. Indra Sakti Nauli mengembuskan napas terakhir di pelukan istrinya.

Kisah pilu itu viral di media sosial, memicu gelombang kemarahan publik terhadap layanan kesehatan yang dinilai kaku dan tidak berempati.

“Kami sudah berusaha, Bu… tapi Allah berkehendak lain,” kata dokter usai menyatakan Indra meninggal dunia.

Publik pun bertanya: Apakah nyawa harus menunggu surat rujukan untuk diselamatkan?

Kepergian Indra Sakti Nauli bukan hanya kehilangan bagi dunia jurnalistik, tetapi juga tamparan keras bagi sistem kesehatan Indonesia. Ia yang selama hidupnya menulis tentang nasib rakyat kecil, justru berpulang karena terjebak dalam birokrasi yang mematikan.

Semoga tragedi ini membuka mata bahwa dalam darurat, nyawa manusia tidak boleh dikalahkan oleh tanda tangan dan aturan administratif. (*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update