
Penulis: Fifi Yarni, Spd.kim
Guru SMAK Padang
RAKYATTERKINI.COM - Pupuk organik merupakan jenis pupuk yang berasal dari bahan-bahan alami, seperti sisa tumbuhan, kotoran hewan, bagian tubuh hewan, dan limbah organik lainnya.
Pupuk ini bisa berbentuk padat maupun cair dan umumnya telah melalui proses rekayasa, baik dengan penambahan mikroba maupun mineral, sehingga mampu meningkatkan kandungan hara serta memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah (Peraturan Menteri Pertanian, 2019).
Dalam sektor pertanian dan peternakan, limbah organik sering kali menjadi persoalan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Limbah seperti kotoran hewan dan sisa tanaman dapat mencemari udara, air, dan tanah, serta menjadi sumber penyakit dan mengganggu estetika lingkungan (Nenobesi et al., 2017).
Misalnya, seekor kambing dapat menghasilkan 0,5–1 kg kotoran per hari atau sekitar 1.530 kg per bulan. Jika tidak dimanfaatkan, limbah ini menjadi beban lingkungan. Namun, ketika dikelola dengan benar, limbah ini memiliki potensi besar sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik yang dapat meningkatkan kualitas lahan, hasil pertanian, dan pendapatan petani (Nugraha & Amini, 2013).
Pemupukan merupakan salah satu cara untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah. Penambahan bahan organik dan anorganik yang tepat tidak hanya mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal, tetapi juga memperbaiki struktur tanah serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia (Munawar, 2011).
Kotoran Hewan sebagai Sumber Pupuk Organik
Kotoran hewan, khususnya kambing, mengandung unsur hara penting seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta unsur mikro lainnya seperti kalsium, magnesium, natrium, dan belerang (Hapsari, 2013; Surya, 2013).
Kotoran kambing diketahui memiliki kandungan hara yang cukup tinggi, terutama karena tercampur dengan urin yang juga kaya nutrisi. Dalam praktiknya, limbah dari kegiatan peternakan bersifat kontinu. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pengelolaan limbah ini secara berkelanjutan agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan (Kusnadi & Suyanto, 2015).
Menurut Subhan et al. (2008), kotoran kambing mengandung unsur hara makro dan mikro sebagai berikut:
Nitrogen (N): 4,3%
Fosfor (P): 0,73%
Kalium (K): 1,35%
Kalsium (Ca): 1,95%
Magnesium (Mg): 0,56%
Mangan (Mn): 4,68%
Zat besi (Fe): 2,89%
Tembaga (Cu): 4,2%
Seng (Zn): 2,91%
Sementara itu, darah sapi juga merupakan limbah peternakan yang memiliki potensi sebagai pupuk organik. Berdasarkan penelitian Abrianto (2011), darah sapi mengandung nitrogen 12,18%, fosfor 5,28%, kalium 0,15%, dan karbon organik 19,01%. Dengan menggabungkan darah sapi dan kotoran kambing, dapat dihasilkan pupuk dengan kandungan hara yang lebih seimbang dan berkualitas tinggi.
Pupuk anorganik memang memiliki keunggulan seperti reaksi yang cepat terhadap tanaman, kandungan nutrisi yang tinggi, serta kemudahan dalam aplikasi. Namun, penggunaannya yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan tanah dan pencemaran lingkungan.
Sebaliknya, pupuk organik lebih ramah lingkungan dan berperan penting dalam memperbaiki struktur dan kehidupan biologis tanah dalam jangka panjang (Rasyiddin, 2011).
Jenis-Jenis Pupuk Organik
Pupuk Organik Padat
Merupakan hasil pelapukan dari bahan organik seperti sisa tanaman, kotoran hewan, limbah pertanian, dan limbah kota. Contohnya adalah kompos, pupuk kandang, pupuk hijau, dan sisa panen (jerami, tongkol jagung, sabut kelapa).
Pupuk Organik Cair
Dihasilkan dari ekstraksi limbah organik yang mengandung berbagai nutrisi, mikroorganisme, dan mikroba tanah. Pupuk ini sangat efektif untuk memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan penyerapan unsur hara oleh tanaman.
Bahan Baku Pembuatan Pupuk Organik
A. Darah Sapi
Darah sapi dapat dijadikan pupuk organik padat melalui proses biologis seperti vermikomposting. Dalam proses ini, cacing tanah membantu menguraikan limbah organik menjadi pupuk yang kaya akan unsur hara seperti C, N, P, dan K (Kaviraj, 2003; Sutrisman, 2016).
B. Kotoran Kambing
Kotoran kambing yang telah terdekomposisi mengandung mikroorganisme yang mampu memperbaiki kesuburan tanah. Sebagai hewan ruminansia, sistem pencernaan kambing kaya akan bakteri dan protozoa yang berkontribusi dalam proses pembentukan kompos (Pratomo et al., 2018; Malida, 2019).
C. Molase
Molase atau tetes tebu merupakan limbah dari industri gula yang masih mengandung gula dan asam organik. Molase banyak digunakan dalam fermentasi mikroba sebagai sumber energi yang mendukung pertumbuhan bakteri dalam proses pembuatan pupuk dan probiotik.
D. Bioaktivator EM-4
EM-4 adalah campuran mikroorganisme menguntungkan seperti Lactobacillus sp., Rhodopseudomonas sp., dan Actinomycetes sp. yang berfungsi mempercepat proses dekomposisi limbah organik serta meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah (Utomo, 2010; Priambono, 2015).
Teknik pembuat pupuk organik Padat ini dilakukan fermentasi di dalam drum untuk memberi udara (aerasi) setiap hari selama 14 hari. Untuk mengatasi bau gas metan tidak sedap selama proses pengomposan.
Lubang udara pada disambungkan dengan pipa/selang yang dialirkan ke wadah/ember berisi air agar bau gas tidak langsung ke udara. Proses pembuatan kompos tidak boleh terkena sinar matahari langsung maupun hujan.
Cara kerja Pembuatan Pupuk :
1) Giling kotoran kambing dengan mesin penggiling,lalu timbang sebanyak 10 kg.
2) Masukkan kedalam wadah pengadukan.
3) Blender 2 kg darah sapi lalu masukkan ke dalam ember.
4) Tambahkan 4,5 L air sumur,lalu masukkan kedalam ember yang berisi darah sapi.
5) Tambahkan 400 gr Molase
6) Tambahkan 100 mL EM-4.
7) Aduk semua bahan yang cair hingga tecampur sempurna,lalu campurkan dengan kedalam kotoran kambing.
8) Homogenkan semua bahan lalu masukkan kedalam ember tempat fermentasi.
9) Tutup ember dengan rapat (tidak boleh ada celah).
10) Lanjutkan fermentasi selama 14 hari.
11) Setelah 14 hari pupuk organik padat dapat digunakan dan siap untuk dianalisa.
Hasil Analisa Produk (Parameter Hasil Persyaratan SNI 7763:2018)
1. Analisis Nilai pH 8,95 - Standar 4-9
2. Analisis Kadar Air metode Gravimetri 23,5455% - Standar 15 – 25 %
3. Analisis Kadar C-Organik metode Gravimetri 41,8636 % - Standar Min 15 %
4. Analisis Kadar K2O metode:
-Atom K2O = Standar 1,15 %
-N = Standar 2,44 %
-P2O5 = Standar 0,38 %
-N+P+K= 3,97% (N + P2O5 + K2O ) Standar Min 2 %
5. Analisis Besi (Fe) total 96,86 mg/Kg Maks 15.000 mg/Kg
6. Analisis Zn total 200.58 mg/Kg Maks 5.000 mg/Kg
7. Uji Salmonella Negatif < 102 MPN/g
Kesimpulan
Penggunaan pupuk organik berbasis limbah peternakan dan pertanian merupakan solusi berkelanjutan untuk mengatasi permasalahan lingkungan, meningkatkan kualitas tanah, dan mendukung pertanian ramah lingkungan.
Kombinasi antara kotoran kambing, darah sapi, molase, dan bioaktivator seperti EM-4 mampu menghasilkan pupuk berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. Pengelolaan limbah yang tepat tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan peternak. (**)

