Notification

×

Iklan

Suporter Kecewa, Semen Padang Hanya Dapat 3 Laga Akhir Pekan

Senin, 25 Agustus 2025 | 03:45 WIB Last Updated 2025-08-24T20:45:00Z


Padang, Rakyatterkini.com – Kekecewaan mendalam menyelimuti para pecinta sepak bola nasional, terutama pendukung Semen Padang FC. Klub legendaris asal Ranah Minang itu hanya dijadwalkan tampil tiga kali di laga kandang akhir pekan (Sabtu–Minggu) dari total 34 pekan kompetisi BRI Liga 1 musim ini. Jumlah tersebut terasa timpang jika dibandingkan dengan klub lain, seperti Bali United yang mendapat 14 pertandingan kandang akhir pekan, atau Persis Solo dengan 13 laga.

Bagi sebagian orang, perbedaan jumlah laga akhir pekan mungkin tak terlalu berarti. Namun bagi suporter, khususnya perantau Minang yang tersebar di berbagai daerah bahkan mancanegara, jadwal ini sangat menentukan. Pertandingan di akhir pekan merupakan waktu terbaik untuk menyaksikan langsung di stadion atau mengikuti lewat siaran televisi tanpa terganggu kesibukan kerja.

“Ini jelas sangat merugikan kami sebagai suporter. Kenapa Semen Padang FC hanya mendapat tiga laga Sabtu–Minggu? Ketidakadilan ini nyata,” ujar Braditi Moulevey, tokoh perantau Minang sekaligus pendukung Semen Padang FC, Minggu (24/8/2025).

Ia menilai keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator liga menimbulkan pertanyaan besar. Menurutnya, distribusi jadwal yang tidak seimbang membuat publik berhak meragukan transparansi dan profesionalisme pengelolaan kompetisi. “Kami berharap PT LIB bisa lebih adil. Jangan kecewakan suporter. Jangan sampai ada indikasi praktik mafia dalam penentuan jadwal. Jika tidak segera diperbaiki, kepercayaan publik terhadap liga bisa semakin terkikis,” tambahnya.

Braditi juga meminta Ketua Umum PSSI Erick Thohir turun tangan untuk memastikan penjadwalan dilakukan secara terbuka, bukan karena kepentingan tertentu.

Sorotan pada Hak Siar dan Potensi Konflik Kepentingan

Masalah yang dikeluhkan suporter tak berhenti pada jadwal pertandingan. Hak siar pun menjadi sorotan. Braditi menyebut, Semen Padang FC adalah klub lama dengan basis pendukung luas, terutama dari kalangan perantau. Namun perhatian terhadap hak siar justru minim.

“Kami mendengar pemegang hak siar merupakan anak perusahaan PT Bali Bintang Sejahtera, pengelola Bali United. Jika benar, ini bisa memunculkan konflik kepentingan. Apalagi Bali United mendapat 14 laga akhir pekan, jauh di atas Semen Padang FC,” tegasnya.

Ia menekankan, hak siar tidak sekadar soal tontonan, tetapi menyangkut eksposur media, potensi sponsor, hingga nilai komersial klub. Klub yang lebih sering tampil di prime time Sabtu–Minggu otomatis lebih menarik perhatian publik dan sponsor. “Kalau Semen Padang FC terus dipinggirkan, dampaknya bukan hanya bagi tim, tetapi juga ekonomi masyarakat sekitar stadion yang menggantungkan hidup pada setiap laga,” jelas Braditi.

Semen Padang FC bukan sekadar klub sepak bola, melainkan bagian dari identitas masyarakat Minang. Setiap kali Kabau Sirah bermain di Stadion Haji Agus Salim, ribuan orang ikut meramaikan—mulai dari pedagang kecil, penjual atribut, tukang parkir, hingga pelaku UMKM. Minimnya pertandingan akhir pekan membuat jumlah penonton turun, sehingga pendapatan ekonomi masyarakat kecil ikut terpengaruh.

Identitas dan Rasa Kebersamaan yang Tergerus

Bagi diaspora Minang di luar negeri, pertandingan akhir pekan juga menjadi ajang silaturahmi. Dari Malaysia, Timur Tengah, hingga Eropa, laga Semen Padang FC sering menjadi momen berkumpul komunitas perantau. Dengan jadwal minim di akhir pekan, rasa kebersamaan itu ikut tergerus.

Tak hanya itu, ada pula dampak psikologis bagi suporter. “Kami sebagai perantau Minang merasa diperlakukan tidak adil. Padahal sepak bola adalah hiburan rakyat. Kalau sudah begini, bagaimana kami bisa menikmati liga dengan bangga? Yang ada hanya rasa kecewa,” ucap Braditi.

Atas dasar itu, komunitas pecinta Semen Padang FC mendesak PT LIB melakukan evaluasi menyeluruh. Mereka juga meminta PSSI memastikan tidak ada praktik merugikan klub tertentu. “Sepak bola Indonesia sudah sering tercoreng isu mafia dan ketidakadilan. Jangan biarkan terulang. Liga harus dijalankan dengan adil untuk semua klub, besar maupun kecil,” pungkas Braditi.

Ia menegaskan, kritik ini bukan sekadar suara suporter Semen Padang FC, melainkan cerminan keresahan publik atas tata kelola sepak bola nasional. Liga 1 bukan hanya kompetisi, melainkan simbol keadilan, kebanggaan, dan identitas daerah. Jika transparansi diabaikan, yang rugi bukan hanya klub, tetapi seluruh masyarakat yang hidup bersama sepak bola.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update