Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Setiap bulan Safar, Ulakan, sebuah daerah di Padang Pariaman, menjadi tujuan utama ribuan bahkan ratusan ribu jemaah dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri. Mereka datang untuk mengikuti tradisi Basapa, sebuah peringatan tahunan yang menghormati wafatnya seorang ulama besar Minangkabau, Al-Mukarram Syekh Burhanuddin.
Tradisi Basapa bukan sekadar ritual keagamaan biasa, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sarat makna. Kegiatan ini juga menjadi napak tilas perjuangan Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan ajaran Islam yang kuat dan mendalam di Minangkabau, wilayah Sumatera Barat, bahkan hingga menjangkau Semenanjung Melayu. Dengan demikian, Basapa menjadi momen penting yang menghubungkan sejarah dan keimanan sekaligus memperkuat ikatan sosial antarumat Islam.
Al-Mukarram Syekh Burhanuddin wafat pada hari Rabu, 10 Safar 1111 Hijriah. Sejak saat itu, para murid dan pengikutnya mulai melakukan ziarah tanpa jadwal khusus. Namun, seiring berjalannya waktu, para khalifah beliau menetapkan ketentuan agar tradisi ini berlangsung secara teratur setiap tahunnya. Penetapan jadwal tersebut bertujuan untuk mengatur kedatangan jemaah yang semakin banyak dan menghindari kerumunan yang berlebihan dalam satu waktu.
Untuk mengelola banyaknya jemaah yang datang, tradisi Basapa kemudian dibagi menjadi tiga tahapan utama. Menurut Heri Firmansyah, yang saat ini menjabat sebagai Tuangku Khalifah XV, ketiga tahapan tersebut adalah Sapa Gadang, Sapa Ketek, dan Sapa Ungku Saliah. Ketiga tahapan ini dilaksanakan dengan jarak waktu tertentu guna memberikan ruang yang cukup bagi jemaah untuk beribadah dengan khusyuk.
Sapa Gadang merupakan acara puncak yang digelar setiap tanggal 10 Safar, tepat pada hari wafatnya Syekh Burhanuddin. Pada hari ini, jemaah yang hadir tidak hanya berasal dari Padang Pariaman, tetapi juga dari daerah-daerah lain di Sumatera Barat, serta provinsi-provinsi seperti Riau dan Jambi. Kehadiran mereka membuktikan betapa besarnya pengaruh dan penghormatan terhadap tokoh ulama ini.
Setelah Sapa Gadang, dilanjutkan dengan Sapa Ketek yang diadakan pada hari Rabu berikutnya. Tahapan ini biasanya dihadiri oleh jemaah lokal dari Padang Pariaman dan sekitarnya. Sapa Ketek menjadi waktu yang lebih intim dan memungkinkan masyarakat sekitar untuk lebih mendalami makna ziarah ini.
Tahapan terakhir adalah Sapa Ungku Saliah yang diadakan pada hari Sabtu setelah Sapa Ketek. Kegiatan ini menutup rangkaian ziarah dengan penuh khidmat. Pada momen inilah seluruh jemaah berkumpul kembali untuk bersama-sama mengenang dan mendoakan perjuangan serta ajaran Syekh Burhanuddin.
Tuangku Khalifah XV menambahkan bahwa menjelang puncak Basapa, seluruh pemangku kepentingan, tokoh masyarakat, dan warga lokal bekerja sama menyiapkan berbagai kebutuhan jemaah. Mereka menyediakan fasilitas air bersih, tempat ibadah yang memadai, serta penginapan bagi jemaah yang datang dari jauh. Persiapan ini penting agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan para jemaah merasa nyaman selama menjalankan ibadah.
Bagi para jemaah, Basapa merupakan kesempatan langka dan sangat berharga. Mereka tidak hanya berziarah ke makam ulama besar, tetapi juga mengikuti pengajian tarekat, berzikir bersama, dan menyentuh langsung benda-benda peninggalan Syekh Burhanuddin yang diyakini memiliki keberkahan. Pengalaman spiritual ini memberi kepuasan batin sekaligus memperkuat rasa kecintaan terhadap warisan agama dan budaya.
“Bagi kami, Basapa adalah momen sakral untuk mendapatkan keberkahan dari ilmu dan perjuangan yang diwariskan oleh Syekh Burhanuddin,” ungkap Tuangku Khalifah dengan penuh rasa bangga.
Meski zaman terus berubah dan teknologi memudahkan perjalanan, tradisi Basapa tetap menjadi magnet spiritual yang mampu mempersatukan umat dari berbagai latar belakang. Acara ini bukan hanya sebuah tradisi lama, melainkan juga sarana untuk menghidupkan kembali jejak sejarah dan menjaga keberlangsungan dakwah para ulama besar Minangkabau. Dengan demikian, Basapa tetap relevan dan terus menjadi bagian penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat Minangkabau hingga kini.(da*)


