Notification

×

Iklan

Ratusan Aktivis Siap Pecah Blokade Gaza

Selasa, 12 Agustus 2025 | 19:46 WIB Last Updated 2025-08-12T12:46:00Z

Ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara siap memulai misi berisiko tinggi menembus blokade Israel di Jalur Gaza 


Jakarta, Rakyatterkini.com – Ratusan aktivis kemanusiaan dari berbagai negara bersiap melaksanakan misi berisiko tinggi untuk menembus blokade ketat yang diberlakukan Israel di Jalur Gaza. Rencana ini melibatkan peluncuran puluhan kapal dalam aksi armada pembebasan yang dijadwalkan mulai berlayar pada akhir Agustus 2025, dengan tujuan utama mengirimkan bantuan kemanusiaan serta menyuarakan solidaritas dunia terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Salah satu tokoh yang ikut ambil bagian dalam aksi ini adalah Greta Thunberg, aktivis lingkungan asal Swedia yang dikenal luas secara internasional. Thunberg bergabung dalam kelompok Global Sumud Flotilla, yang menjadi inisiator utama dari pelayaran ini. Armada kapal ini akan memulai perjalanan dari pelabuhan di Spanyol pada tanggal 31 Agustus dan selanjutnya bertemu dengan rombongan kapal dari Tunisia serta sejumlah pelabuhan internasional lainnya pada 4 September untuk melanjutkan perjalanan bersama menuju Gaza.

Melalui unggahan di akun Instagram-nya pada Selasa (12/8/2025), Greta Thunberg menyampaikan bahwa lebih dari 44 negara terlibat dalam misi ini, baik dalam bentuk demonstrasi serentak maupun dukungan langsung terhadap armada kapal. “Kami memobilisasi solidaritas global untuk menentang blokade ilegal yang diberlakukan Israel. Ini adalah bentuk nyata dukungan bagi rakyat Palestina yang telah lama menderita akibat pemutusan akses terhadap kebutuhan dasar mereka,” ujarnya.

Misi ini bukanlah yang pertama bagi Thunberg. Pada bulan Juni lalu, ia bersama 11 aktivis lainnya pernah ditangkap oleh pasukan keamanan Israel saat mencoba menembus blokade Gaza dalam misi kemanusiaan yang digagas oleh Freedom Flotilla Coalition. Para aktivis tersebut ditahan selama beberapa jam dan dihadapkan pada tekanan untuk menandatangani dokumen deportasi. Meski demikian, sebagian dari mereka menolak menandatangani dan baru dideportasi setelah menjalani proses sidang selama beberapa hari.

Blokade yang diberlakukan Israel terhadap Jalur Gaza telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun. Dampaknya sangat signifikan, menghalangi akses warga Palestina terhadap kebutuhan pokok seperti makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan dari dunia luar. Kondisi ini memperparah krisis kemanusiaan yang sudah berlangsung lama di wilayah tersebut.

Meski menghadapi risiko tinggi berupa penangkapan, intimidasi, hingga deportasi, para aktivis menyatakan tekad kuat mereka untuk terus melanjutkan perjuangan ini. “Setiap kapal yang berlayar membawa pesan penting bahwa dunia tidak akan tinggal diam menyaksikan penderitaan rakyat Gaza,” ujar salah satu aktivis yang bersiap mengikuti pelayaran tersebut.

Selain tujuan kemanusiaan, armada kapal ini juga berfungsi sebagai simbol perlawanan terhadap blokade yang dianggap ilegal oleh banyak komunitas internasional. Aksi ini diharapkan dapat menarik perhatian dunia agar lebih aktif dalam mencari solusi damai dan membuka akses kemanusiaan yang selama ini terhambat.

Rencana pelayaran ini pun mendapat dukungan dari berbagai organisasi non-pemerintah dan kelompok solidaritas internasional, yang berkomitmen untuk memantau situasi dan memberikan bantuan sesuai kebutuhan. Mereka juga berharap aksi ini dapat mendorong tekanan diplomatik terhadap Israel agar blokade Gaza dapat segera diakhiri dan hak-hak dasar rakyat Palestina terpenuhi.

Dengan berbagai tantangan dan risiko yang mengintai, para aktivis ini tetap optimis bahwa keberanian mereka akan menginspirasi dunia untuk terus memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan di tengah konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update