Notification

×

Iklan

Qassem Ancam Israel, Rudal Siap Hancurkan Keamanan Mereka

Kamis, 07 Agustus 2025 | 18:33 WIB Last Updated 2025-08-07T11:33:00Z

Hizbullah 

Jakarta, Rakyatterkini.com– Wakil Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, untuk pertama kalinya mengungkap jumlah besar korban yang diderita kelompoknya dalam konflik bersenjata dengan Israel tahun lalu. Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pada Selasa (5/8/2025), Qassem menyatakan bahwa sekitar 5.000 pejuang Hizbullah gugur, sementara 13.000 lainnya mengalami luka-luka.

Meski menghadapi kerugian signifikan, Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tetap berdiri kokoh dan siap melancarkan perlawanan baru apabila Israel kembali melakukan agresi terhadap Lebanon.

"Pertahanan kami akan menyebabkan rudal-rudal menghantam wilayah entitas Israel, dan seluruh sistem keamanan yang mereka bangun selama delapan bulan akan runtuh hanya dalam waktu satu jam," ujar Qassem dengan nada mengancam, dikutip dari Reuters, Kamis (7/8/2025).

Pernyataan keras ini muncul di tengah memanasnya kembali ketegangan antara Israel dan Hizbullah, menyusul serangkaian serangan militer Israel ke wilayah Lebanon. Pidato Qassem juga disampaikan bertepatan dengan sidang kabinet Lebanon yang membahas isu kontroversial soal pelucutan senjata Hizbullah.

Amerika Serikat Tekan Pelucutan, Hizbullah Menolak

Pemerintah Amerika Serikat terus mendorong Lebanon agar melucuti senjata kelompok yang dikenal memiliki dukungan kuat dari Iran ini. Bahkan, AS menawarkan paket insentif berupa bantuan rekonstruksi serta penarikan pasukan Israel dari lima titik di wilayah selatan Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan.

Namun, Qassem menolak usulan tersebut secara tegas. Menurutnya, persoalan utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah agresi berkelanjutan dari pihak Israel.

"Hentikan dulu serangan mereka, baru kita bisa mulai bicara soal pelucutan senjata," tegasnya.

Luka Perang yang Dalam, Semangat Perlawanan Tetap Menyala

Pengakuan atas jumlah korban yang sangat besar ini menegaskan besarnya dampak dari perang pada November 2024 lalu. Konflik tersebut juga merenggut nyawa pemimpin karismatik Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol perlawanan dan kini digantikan oleh Qassem.

Meskipun dilanda kehilangan besar, Hizbullah menunjukkan bahwa mereka belum menyerah. Qassem menyatakan bahwa organisasi mereka tetap bersatu, persenjataan telah dipulihkan, dan struktur komando berada dalam kondisi siap tempur.

Pernyataan ini menjadi isyarat kuat bagi Israel dan para sekutunya bahwa eskalasi di perbatasan Lebanon bisa sewaktu-waktu berubah menjadi konflik terbuka, apabila jalur diplomasi gagal meredakan ketegangan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update