Notification

×

Iklan

Pelajar hingga Sanggar Meriahkan Festival Buya Hamka

Jumat, 01 Agustus 2025 | 05:33 WIB Last Updated 2025-07-31T22:33:00Z

Sanggar Meriahkan Festival Buya Hamka


Agam, Rakyatterkini.com – Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka, lahir pada 17 Februari 1908 di Tanah Sirah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sosok ulama kharismatik ini wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981. Selain dikenal sebagai cendekiawan Muslim, Buya Hamka juga merupakan sastrawan, jurnalis, politisi, sekaligus tokoh bangsa yang jejak pemikirannya tetap relevan hingga kini.

Sepanjang hidupnya, Buya Hamka melahirkan ratusan karya monumental dalam bidang sastra, sejarah Islam, dan budaya Minangkabau. Karya-karyanya seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Tuan Direktur, Sabariah, dan Terusir masih menjadi rujukan penting bagi akademisi, mahasiswa, hingga pelajar di dalam dan luar negeri.

Tak hanya sastra, Buya Hamka juga aktif menulis dalam bidang pendidikan Islam. Karya-karya penting seperti Tafsir Al-Azhar, Filsafat Islam, Akhlaqul Karimah, Pelajaran Agama Islam, dan Sejarah Umat Islam menjadi literatur wajib dalam dunia pendidikan Islam. Selain itu, ia juga menulis tentang sejarah dan budaya Minangkabau dalam buku-buku seperti Adat Minangkabau Menghadapi Revolusi dan Islam dan Adat Minangkabau.

Latar belakang kehidupan Buya Hamka yang keras dan penuh tantangan membentuk karakter kuat dalam dirinya. Ia tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai adat dan budaya Minangkabau, yang berlandaskan filosofi "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah". Nilai-nilai inilah yang membentuk dasar pemikirannya sebagai ulama berkarakter dan berwawasan kebangsaan.

Masa kecil Buya Hamka juga lekat dengan beragam seni dan permainan tradisional seperti randai, saluang, tambua tansa, talempong, hingga silek. Hal ini turut membentuk kecintaannya terhadap kebudayaan lokal.

Semangat pelestarian warisan Buya Hamka inilah yang dihidupkan kembali oleh Komunitas Pemuda Generasi Hamka (KPGH) melalui berbagai kegiatan budaya. Setelah sukses menggelar Festival Rinyuak pada 2019 dan 2020 serta Kemah Bakti Napak Tilas Buya Hamka pada 2019, 2022, dan 2024, kini KPGH kembali menyelenggarakan Festival Manikam Jajak Buya Hamka yang kedua, pada Minggu, 27 Juli 2025.

Festival ini dibuka dengan arak-arakan bajamba oleh Bundo Kanduang Nagari Sungai Batang bersama tamu undangan, diiringi irama tambua tansa menuju Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.

Fajri Datuak Mangkuto Nan Basa, selaku koordinator acara, didampingi Ketua Pelaksana Rudi Yudistira, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan tradisional di kawasan Danau Maninjau, khususnya kampung halaman Buya Hamka.

Sebanyak 10 kelompok seni tampil meriahkan acara ini, di antaranya Sanggar Randai Langgam Puri Nagari Bayua, Sanggar Gumarang dari Nagari Koto Malintang, hingga pelajar SDN 31 Batung Panjang. Tarian tradisional seperti Tari Rantak, Tari Piriang, dan pertunjukan silek tuo juga menghiasi panggung festival.

Kesuksesan acara ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Anggota DPRD Sumbar R. Datuak Tambijo melalui Pokok Pikiran (Pokir) yang disalurkan lewat Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Hadir pula perwakilan Pemerintah Kabupaten Agam, Camat Tanjung Raya, Kapolsek, hingga para wali nagari di sekitar Danau Maninjau.

Angku R. Datuak Tambijo menyampaikan apresiasinya terhadap semangat pelestarian nilai-nilai keteladanan Buya Hamka yang terus digaungkan. Ia menegaskan pentingnya menjadikan warisan pemikiran dan budaya Buya Hamka sebagai inspirasi bagi generasi muda Minangkabau dan bangsa Indonesia secara umum.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Jefrinal Arifin, menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan penguatan Pasal 18 UUD 1945 terkait peran daerah dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan lokal.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update