Notification

×

Iklan

Libur Nasional Dorong Pertumbuhan Pariwisata dan Ekonomi

Senin, 25 Agustus 2025 | 09:45 WIB Last Updated 2025-08-25T02:45:00Z

Salah satu objek wisata

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) merilis hasil kajian terbaru yang menyoroti potensi sekaligus tantangan dalam memanfaatkan momentum libur nasional sebagai penggerak pertumbuhan pariwisata dan perekonomian.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf, Martini Mohamad Paham, menjelaskan kajian bertajuk “Dampak Libur Nasional terhadap Sektor Pariwisata” ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana libur panjang, mulai dari Tahun Baru, Isra Mikraj, Imlek, Idulfitri, libur sekolah hingga Natal, memengaruhi mobilitas wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Setiap libur nasional selalu menjadi pendorong utama pergerakan wisatawan. Namun, pemanfaatannya masih belum merata. Ada destinasi yang justru kewalahan menghadapi lonjakan kunjungan, mulai dari keterbatasan layanan, kapasitas yang tidak memadai, hingga promosi yang belum terintegrasi dengan kalender libur,” ujar Martini, Minggu (24/8/2025).

Menurutnya, memahami pola tersebut sangat penting karena pariwisata tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat identitas budaya serta membuka lapangan pekerjaan baru.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, perjalanan wisatawan nusantara meningkat tajam menjadi 1,02 miliar perjalanan, naik dari 839,7 juta pada tahun sebelumnya. Lonjakan terbesar tercatat saat libur sekolah, cuti bersama, dan hari raya nasional.

Peningkatan mobilitas wisatawan itu berdampak langsung pada berbagai sektor. Tingkat hunian hotel naik, restoran dan destinasi wisata dipadati pengunjung, transportasi semakin bergairah, hingga UMKM lokal ikut merasakan efek berganda.

Meski begitu, masalah klasik seperti kemacetan, keterbatasan fasilitas umum, serta kebersihan lingkungan masih menjadi tantangan yang harus segera diatasi. “Diperlukan kerja sama lintas sektor agar destinasi wisata Indonesia mampu bersaing lebih baik,” tambah Martini.

Sementara itu, Asisten Deputi Manajemen Strategis Kemenparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani, memaparkan kajian ini juga meneliti dampak libur sekolah di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan okupansi hotel meningkat hingga 60 persen, kunjungan destinasi melonjak 73,1 persen, sementara pendapatan hotel dan objek wisata masing-masing naik 40 persen dan 80,7 persen.

Dari sisi sosial, liburan sekolah terbukti memperkuat ikatan keluarga. Sebanyak 58,9 persen wisatawan memilih bepergian bersama keluarga, dengan 99,3 persen di antaranya menyatakan puas dengan pengalaman berlibur.

“Kajian ini merekomendasikan sejumlah langkah strategis, mulai dari promosi yang selaras dengan kalender libur nasional, manajemen kapasitas destinasi, hingga peningkatan kualitas layanan saat musim puncak. Sinergi lintas pihak menjadi kunci,” tegas Dewi.

Ia berharap kajian ini dapat menjadi pijakan bagi kebijakan pariwisata yang lebih adaptif. “Jika dikelola dengan pendekatan terintegrasi, inklusif, dan berkelanjutan, libur nasional tak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga instrumen penting untuk mempercepat pemulihan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ekosistem pariwisata nasional,” pungkasnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update