Notification

×

Iklan

Jatmiko: Sawit Indonesia Terancam Jika Tak Berbenah

Kamis, 07 Agustus 2025 | 02:04 WIB Last Updated 2025-08-06T19:04:00Z

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa


Jakarta, Rakyatterkini.com – Holding Perkebunan PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo membeberkan sejumlah tantangan yang tengah membelit industri kelapa sawit nasional.

Dalam sebuah forum industri yang digelar di Yogyakarta bulan lalu, Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, memaparkan berbagai hambatan yang dihadapi sektor sawit, sekaligus menyampaikan strategi penting untuk memperkuat daya saing dan keberlanjutan industri ini di tengah dinamika global.

Menurut Jatmiko, meski kelapa sawit masih menjadi sumber minyak nabati dengan volume produksi dan konsumsi terbesar secara global, namun produktivitasnya di Indonesia cenderung stagnan, termasuk dalam produksi crude palm oil (CPO) nasional.

“Selama lima tahun terakhir, pertumbuhan tahunan (CAGR) produksi sawit kita hanya sekitar 1%, tanpa peningkatan signifikan,” ujarnya.

Sementara itu, lanjutnya, minyak nabati lain seperti kedelai dan rapeseed justru mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi dengan CAGR antara 3% hingga 6%. Bahkan dari sisi harga, CPO yang dulunya dikenal lebih murah, kini harganya melampaui minyak rapeseed.

Kondisi tersebut, menurut Jatmiko, menjadi sinyal penting bagi pelaku industri untuk tidak terlena. Terlebih saat ini industri sawit menghadapi berbagai tekanan, mulai dari tantangan makroekonomi, geopolitik global, perubahan iklim, hingga isu keberlanjutan.

“Kita sering mengklaim bahwa CPO adalah yang paling produktif dan paling kompetitif. Namun saat ini situasinya mulai berubah. Jika tidak berbenah, kita bisa tertinggal,” tegasnya.

Strategi Penguatan Industri

Untuk menjaga posisi strategis industri sawit nasional, Jatmiko menekankan perlunya penguatan di beberapa aspek penting. Salah satunya adalah ketersediaan bibit sawit unggul bagi petani, yang memiliki andil besar terhadap total luas lahan sawit di Indonesia.

Saat ini, produksi bibit bersertifikat dari 20 produsen resmi telah mencapai 4,1 juta stut, dan jumlah kecambah sawit menyentuh angka 241 juta. Meski jumlah ini telah memenuhi kebutuhan hingga 2025 yang diperkirakan sebesar 151 juta, namun tantangan terbesar tetap pada peningkatan kualitas varietas.

Di internal PalmCo, unit usaha Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) di bawah anak usaha PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menjadi produsen utama bibit unggul di Indonesia, menyumbang sekitar 77 persen atau 3,2 juta stut dari total produksi nasional.

“Kami berkomitmen untuk terus memenuhi kebutuhan bibit unggul, baik untuk program peremajaan (replanting) maupun ekspansi lahan baru,” kata Jatmiko.

Dorongan terhadap Peremajaan Sawit Rakyat

Penguatan berikutnya adalah percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), yang menjadi solusi atas rendahnya produktivitas petani sawit yang masih berada di kisaran 2-3 ton CPO per hektare per tahun.

Sejak diluncurkan pada 2017, realisasi PSR nasional tertinggi hanya mencapai 51 persen dari target tahunan, yakni 180 ribu hektare pada tahun 2020. Bahkan pada 2024, targetnya diturunkan menjadi 120 ribu hektare, dengan realisasi baru mencapai 18 ribu hektare.

Untuk mengakselerasi program ini, Jatmiko menilai diperlukan sejumlah kebijakan strategis, seperti penyederhanaan persyaratan PSR, penyelesaian legalitas kebun dalam kawasan hutan, serta jaminan pasokan bibit unggul.

PTPN IV PalmCo sendiri telah membantu penerbitan rekomendasi teknis bagi petani untuk program PSR seluas 11 ribu hektare hingga pertengahan tahun ini. Targetnya, hingga akhir 2025, luas lahan yang difasilitasi PSR bisa mencapai 22 ribu hektare, dan hingga 2029 mencapai 86 ribu hektare.

Mendukung Program Biodiesel Nasional

Kebutuhan akan peningkatan produksi CPO juga semakin mendesak seiring dengan kebijakan pemerintah terkait program biodiesel, termasuk implementasi B35 dan target B50 pada tahun 2027.

“B35 memerlukan sekitar 13,41 juta kiloliter biodiesel, dan B50 bisa mencapai 20,11 juta kiloliter. Tambahan kebutuhan ini setara dengan 7,2 juta ton CPO,” ungkap Jatmiko.

Ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi harus dilakukan secara optimal, agar kebutuhan CPO untuk energi tidak mengganggu pasokan pangan dalam negeri.

### Komitmen terhadap Prinsip ESG

Sebagai penutup, Jatmiko menekankan pentingnya komitmen terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai pilar utama dalam menjawab tantangan keberlanjutan industri sawit.

“Penerapan prinsip ESG adalah jawaban strategis untuk merespons tekanan yang terus menerpa industri ini,” tegasnya.

Dengan luasan areal tertanam mencapai 618 ribu hektare, PalmCo saat ini merupakan salah satu perusahaan sawit terbesar di dunia. Jatmiko pun menegaskan bahwa membangun industri sawit yang tangguh tidak bisa dilakukan sendiri.

“Diperlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, perusahaan, dan petani—dengan mengedepankan inovasi dan digitalisasi agar industri ini benar-benar menjadi berkah bagi negeri,” pungkasnya.(da*)




IKLAN



×
Berita Terbaru Update