Notification

×

Iklan

Tradisi dan Identitas Bertemu dalam Body Migration

Kamis, 31 Juli 2025 | 13:44 WIB Last Updated 2025-07-31T06:44:00Z

Koreografer asal Pariaman Refleksikan Arti Rumah Lewat Pertunjukan

Pariaman, Rakyatterkini.com – Ratapan lirih sarat makna terdengar di panggung GoetheHaus Jakarta, Minggu malam (27/7/2025), saat koreografer Minangkabau, Siska Aprisia, melantunkan bait Sijobang, tradisi lisan khas ranah Minang: “Oi guruah sampaian pasan, baju baguntiang tak bajaik, talotak apo ka gunonyo lai”—sebuah ungkapan penuh tanya tentang nasib dan ketidakselesaian.

Bait itu menjadi pembuka karya tari kontemporer bertajuk Body Migration – I Do(n’t) Want, kolaborasi antara Siska dan komponis Jay Afrisando. Suara ombak, hembusan angin, deru kendaraan hingga trem, menjadi latar akustik yang perlahan membentuk atmosfer perjalanan dan keterasingan.

Karya ini merupakan hasil residensi Siska di Jerman dalam program REFLEKT bersama TanzFaktur 2024, yang difasilitasi oleh Goethe-Institut Indonesia. Pertunjukan perdana Body Migration telah digelar di Köln, Jerman, pada 22 November 2024.

Gerak Tubuh sebagai Metafora Perjalanan
Pada bagian awal, Siska tampil anggun dengan dress merah menyala, membawa sebatang bambu hijau sepanjang dua meter. Bambu tersebut ia junjung dari bawah panggung hingga ke atas, menciptakan kesan harapan yang perlahan berubah menjadi simbol beban berat seorang perantau meninggalkan tanah kelahirannya.

Dengan ekspresi tegang dan gerakan mendayung perlahan, tubuh Siska seolah mengarungi perjalanan panjang hingga akhirnya rebah di lantai panggung, diiringi gemuruh ombak yang kian menggema.

Lampu meredup. Ia kemudian mengambil sarawa galembong, celana tradisional silat Minangkabau, dan menyarungkannya ke kepala, seakan menutupi pandangan. Adegan ini merefleksikan keterasingan dan kehilangan arah seorang perantau di negeri asing.

Pertunjukan semakin dalam ketika interaksi penonton dimunculkan—beberapa melemparkan koin ke arah Siska, disusul adegan mengecat rambut dan tubuhnya. Fragmen ini menyoroti perjuangan identitas, tentang bagaimana seorang perantau terkadang harus “menyamar” demi bisa diterima, meski mengorbankan jati diri.

Jejak Tradisi dalam Karya Kontemporer
Gerakan tari Siska kental dipengaruhi oleh Ulu Ambek, seni bela diri tradisional dari Pariaman. Gerak kuda-kuda hingga jatuhan tubuh menjadi dasar ekspresi tubuhnya. “Ulu Ambek adalah fondasi tubuh saya,” ujar Siska.

Menariknya, pertunjukan ini juga menggunakan sound caption—tampilan teks suara di layar panggung. Sebuah pendekatan inovatif yang jarang ditemukan dalam pementasan tari, memungkinkan penonton untuk "melihat" suara sebagai bagian dari narasi visual.

Usai pertunjukan, diskusi diadakan bersama Siska Aprisia, Jay Afrisando, sastrawan Minangkabau Esha Tegar Putra, dan dimoderatori oleh Kennya Rinonce dari Komite Tari DKJ.

Tubuh, Migrasi, dan Suara
Siska menjelaskan bahwa gagasan awal karyanya berangkat dari pengalamannya sebagai perempuan Minangkabau yang merantau. Namun saat berada di Jerman, ia kesulitan menemukan komunitas Minang atau bahkan Indonesia, sehingga perspektif karyanya diperluas menjadi narasi migrasi tubuh secara global.

Ia kemudian mengumpulkan kisah para pekerja migran dari berbagai negara, yang kemudian diramu menjadi karya koreografi ini. “Body Migration – I Do(n’t) Want mengajak kita mendengarkan suara tubuh yang berpindah, kenangan yang mencoba pulang, dan pergulatan-pergulatan batin lainnya,” ujar Siska.

Di sisi lain, Jay Afrisando membangun lanskap bunyi yang menyatu dengan tubuh penari dan ruang. Ia menyisipkan suara laut, angin, hingga dentuman kapal, untuk membentuk dimensi suara yang bisa dirasakan dari berbagai arah. Penggunaan alat musik Saluang juga turut menambah kekuatan emosional, menciptakan kerinduan akan kampung halaman.

“Saluang saya mainkan dalam konteks tubuh yang terus bergerak, membangun suasana antara ingin kembali atau terus melangkah di rantau,” kata Jay.

Tradisi dan Inovasi
Sastrawan dan penyair Esha Tegar Putra menilai Siska sebagai sosok koreografer perempuan Minangkabau yang muncul menonjol dalam beberapa tahun terakhir. “Ia memiliki basis silat yang kuat serta kemampuan vokal yang mumpuni, dua hal yang membedakannya dari koreografer Minang lainnya,” ungkap Esha.

Namun, Esha juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menggali ulang tradisi. “Jika tidak cermat, ada risiko menjadi pengulang dari koreografer sebelumnya. Tapi Siska cukup berhasil memunculkan sesuatu yang segar—contohnya penggunaan galembong sebagai elemen koreografi yang tak biasa,” tutupnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update