Notification

×

Iklan

Tiongkok Tumbuh Stabil Meski Ditekan Tarif AS

Kamis, 17 Juli 2025 | 17:30 WIB Last Updated 2025-07-17T10:30:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Perekonomian Tiongkok mencatat pertumbuhan sebesar 5,2% pada kuartal kedua tahun 2025 (April–Juni), sebagaimana dilaporkan Reuters mengutip data dari Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS). 

Capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi Negeri Tirai Bambu di tengah tekanan tarif perdagangan yang diberlakukan Amerika Serikat.

Meski sedikit melambat dibandingkan kuartal pertama yang mencatat pertumbuhan 5,4%, angka ini tetap berada di atas target pemerintah sebesar 5% untuk keseluruhan tahun 2025. Bahkan, angka tersebut melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan hanya 5,1%.

Pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh sejumlah stimulus yang digulirkan pemerintah, mulai dari kebijakan fiskal, penerbitan obligasi khusus, hingga insentif di sektor properti dan sosial. Selain itu, jeda ketegangan dalam perang dagang antara AS dan Tiongkok turut memberi ruang bagi para eksportir untuk mempercepat pengiriman barang sebelum tarif baru diberlakukan.

“Pertumbuhan Tiongkok di kuartal kedua berhasil melebihi target, salah satunya karena lonjakan ekspor,” ujar Zhiwei Zhang, Kepala Ekonom di Pinpoint Asset Management.

Di Balik Angka Positif, Tantangan Masih Membayangi

Meski terlihat stabil, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa laju pertumbuhan ini belum tentu berkelanjutan. Lemahnya daya beli masyarakat, penurunan harga barang, serta krisis di sektor properti menekan sisi permintaan domestik.

Bahkan, sektor otomotif dan elektronik menghadapi keterlambatan pembayaran. Sementara itu, beberapa perusahaan utilitas milik negara terjebak utang untuk menjaga kelangsungan operasional.

Persaingan ketat di pasar internasional juga telah memangkas margin keuntungan industri, memicu deflasi harga di tingkat pabrik, serta berdampak pada pemotongan gaji pekerja.

Para analis menyarankan agar pemerintah Tiongkok mulai mengalihkan fokus kebijakan ekonomi dari ekspor ke penguatan konsumsi domestik melalui investasi di sektor pendidikan, layanan kesehatan, dan sistem jaminan sosial.

Max Zenglein, Ekonom Senior Asia-Pasifik dari Conference Board of Asia, menggambarkan ekonomi Tiongkok sebagai “ekonomi dua kecepatan”, di mana sektor industri tumbuh pesat namun konsumsi masyarakat tertinggal. Menurutnya, ketidakseimbangan ini saling memengaruhi.

“Banyak tantangan ekonomi saat ini, seperti rendahnya profit dan tekanan deflasi, dipicu oleh ekspansi kapasitas produksi di sektor manufaktur dan teknologi,” kata Zenglein. “Konflik dagang dengan AS pun mulai berdampak langsung ke dalam negeri.”

Prospek Semester Kedua dan Dinamika Perdagangan Global

Dengan prospek pertumbuhan yang diperkirakan melambat di paruh kedua 2025, investor menanti keputusan stimulus lanjutan dari pemerintah. Rapat Politbiro yang dijadwalkan pada Juli mendatang diperkirakan akan memutuskan langkah tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan.

Lembaga riset Prognos Institute mencatat bahwa perusahaan-perusahaan asal Tiongkok kini menguasai 16% pangsa ekspor global—dua kali lipat dari Jerman—yang mendorong persaingan dagang dunia semakin ketat.

Hubungan perdagangan antara Washington dan Beijing masih diwarnai ketegangan, terutama terkait isu Taiwan, teknologi, dan akses pasar. Pada April lalu, Presiden AS mengumumkan tarif baru sebesar 145% untuk produk-produk asal Tiongkok. Namun, hasil negosiasi pada Mei menghasilkan kesepakatan sementara: tarif AS diturunkan menjadi 30% selama 90 hari guna membuka ruang dialog lanjutan. Sebagai balasan, Tiongkok juga memangkas tarif atas produk AS dari 125% menjadi 10%.

Jika konflik tarif kembali meningkat, Tiongkok diperkirakan akan mengalihkan kelebihan kapasitas produksinya ke pasar Uni Eropa—strategi yang bisa memicu gesekan baru dalam hubungan dagang antara Eropa dan AS.

Di sisi lain, ketika AS memperketat hubungan dagangnya dengan negara-negara di Amerika Latin, Tiongkok justru terus memperluas pengaruh ekonominya di kawasan tersebut.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update