Notification

×

Iklan

Karhutla Riau Meningkat, BMKG Siapkan TMC

Jumat, 25 Juli 2025 | 14:44 WIB Last Updated 2025-07-25T07:44:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Status waspada ini diperkirakan akan bertahan hingga awal Agustus 2025.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa Riau memasuki musim kemarau lebih awal dibanding wilayah lain, yang menyebabkan potensi karhutla di provinsi tersebut meningkat. Menurutnya, puncak musim kemarau di Riau terjadi pada Juli, lebih cepat dari mayoritas daerah lain di Indonesia yang biasanya mengalami puncak kekeringan pada Agustus.

“Karena Riau mengalami puncak musim kemarau pada Juli, saat ini wilayah tersebut berada pada periode paling rentan terhadap karhutla,” ujar Dwikorita dalam keterangan tertulis, Kamis (24/7/2025).

BMKG memprediksi tingkat risiko karhutla di Riau mencapai level “sangat tinggi” pada 23–24 Juli 2025. Meski risiko ini sedikit menurun pada 25–26 Juli, namun diperkirakan akan kembali meningkat menjelang akhir Juli hingga awal Agustus.

Langkah Antisipatif: Teknologi Modifikasi Cuaca Disiapkan

Sebagai upaya mitigasi, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah menyiapkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan bahwa saat ini terdapat enam unit pesawat yang siap dikerahkan untuk mempercepat pembentukan awan hujan.

“Kami menargetkan agar upaya penyemaian awan ini dapat menampung air antara 25 hingga 28 Juli, karena curah hujan diperkirakan kembali menurun pada awal Agustus,” ungkap Seto.

Ia menambahkan, kondisi Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut Riau saat ini cukup mengkhawatirkan, yakni rata-rata satu meter di bawah permukaan. Pihaknya menargetkan agar TMAT dapat meningkat hingga di atas 40 cm dalam waktu sepekan ke depan, guna mengurangi risiko terjadinya kebakaran.

Selain TMC, BMKG juga terus memantau titik panas (hotspot) secara cermat melalui sistem pemantauan berbasis satelit dalam negeri seperti SiPongi. Dwikorita menegaskan bahwa tidak semua hotspot yang terdeteksi oleh satelit luar negeri mencerminkan kebakaran lahan secara akurat.

“Beberapa titik panas dari satelit luar ternyata hanya pantulan panas permukaan. SiPongi lebih andal karena mampu mengukur tingkat kepercayaan titik panas secara real-time,” jelasnya.

Curah Hujan Mulai Meningkat Pertengahan Agustus

BMKG terus memperbarui prakiraan cuaca harian dan menjalin koordinasi erat dengan BNPB untuk mendukung upaya peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan. Berdasarkan prakiraan iklim terbaru, curah hujan di Riau selama dasarian III Juli hingga dasarian I Agustus masih tergolong rendah, yakni di bawah 50 mm — bahkan beberapa wilayah hanya mencatat curah hujan di bawah 20 mm.

Kondisi ini diperkirakan mulai membaik pada dasarian II Agustus, ketika hujan mulai meningkat secara bertahap. Namun, selama curah hujan masih minim, suhu permukaan tinggi, dan lahan gambut kering, seluruh elemen masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.

Tetap pantau informasi resmi dari BMKG untuk perkembangan cuaca dan potensi karhutla di wilayah Anda.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update