Notification

×

Iklan

KAI Terima 13 Lokomotif Baru dari AS

Minggu, 27 Juli 2025 | 13:00 WIB Last Updated 2025-07-27T06:40:17Z

Gantikan 120 Truk! Ini Senjata Baru KAI Angkut Batu Bara

Jakarta, Rakyatterkini.com — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kembali memperkuat armadanya dengan mendatangkan 13 unit lokomotif baru tipe CC 205 dari Progress Rail, Amerika Serikat. 

Pengadaan ini merupakan bagian dari total 54 unit sarana angkutan barang yang dirancang untuk mendukung operasional logistik nasional.

Lokomotif-lokomotif tersebut tiba di Pelabuhan Panjang, Lampung, pada 17 Juli 2025, dan langsung dikirim ke Dipo Lokomotif Tanjungkarang. Di sana, unit-unit ini menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh sebelum resmi dioperasikan.

Proses pengecekan teknis dilakukan di Dipo Tanjungkarang yang merupakan pusat perawatan utama KAI untuk wilayah Sumatera Selatan. Tim teknis melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem traksi, pengereman, kelistrikan, perangkat pengendali digital, serta aspek keselamatan lainnya. 

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan bahwa setiap lokomotif berfungsi optimal dan siap digunakan untuk angkutan barang, khususnya batu bara.

"Keselamatan adalah prinsip utama kami. Setiap lokomotif harus melewati proses verifikasi teknis secara menyeluruh agar keandalan dan keselamatannya terjamin saat dioperasikan," ungkap Anne Purba, Vice President Public Relations KAI.

Penambahan armada ini bertujuan memperkuat layanan angkutan barang KAI, terutama untuk distribusi batu bara sebagai sumber energi nasional, serta kebutuhan logistik industri lainnya. Seluruh proses pengadaan ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang KAI senilai USD 222,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun.

KAI memproyeksikan pertumbuhan signifikan volume angkutan barang hingga tahun 2029, dengan target angkutan mencapai 111,2 juta ton batu bara dan 10,9 juta ton untuk komoditas lainnya. Proyeksi tersebut ditopang oleh pengembangan infrastruktur logistik di wilayah Sumatera bagian Selatan, termasuk proyek ekspansi Tarahan II dan Kertapati.

Dengan daya tarik hingga 61 gerbong atau setara dengan muatan 3.050 ton, satu rangkaian kereta batu bara mampu menggantikan lebih dari 120 unit truk kontainer 40 kaki. Hal ini tidak hanya berdampak pada efisiensi distribusi, tetapi juga menurunkan emisi karbon hingga 84 persen dibanding moda transportasi darat. 

Selain itu, pengalihan ke transportasi kereta api turut berkontribusi mengurangi kemacetan, menekan risiko kecelakaan lalu lintas, dan memperpanjang usia infrastruktur jalan.

KAI juga terus menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri, operator logistik, dan regulator guna mendorong peralihan moda angkutan barang ke jalur kereta. Kehadiran lokomotif-lokomotif baru ini diharapkan menjadi katalis dalam mewujudkan sistem logistik nasional yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan kompetitif.

"Kereta api adalah penggerak logistik Indonesia yang lebih cepat, berdampak nyata, dan hadir langsung di tengah masyarakat," tutup Anne.Jakarta — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kembali memperkuat armadanya dengan mendatangkan 13 unit lokomotif baru tipe CC 205 dari Progress Rail, Amerika Serikat. 

Pengadaan ini merupakan bagian dari total 54 unit sarana angkutan barang yang dirancang untuk mendukung operasional logistik nasional.

Lokomotif-lokomotif tersebut tiba di Pelabuhan Panjang, Lampung, pada 17 Juli 2025, dan langsung dikirim ke Dipo Lokomotif Tanjungkarang. Di sana, unit-unit ini menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh sebelum resmi dioperasikan.

Proses pengecekan teknis dilakukan di Dipo Tanjungkarang yang merupakan pusat perawatan utama KAI untuk wilayah Sumatera Selatan. Tim teknis melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem traksi, pengereman, kelistrikan, perangkat pengendali digital, serta aspek keselamatan lainnya. 

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan bahwa setiap lokomotif berfungsi optimal dan siap digunakan untuk angkutan barang, khususnya batu bara.

"Keselamatan adalah prinsip utama kami. Setiap lokomotif harus melewati proses verifikasi teknis secara menyeluruh agar keandalan dan keselamatannya terjamin saat dioperasikan," ungkap Anne Purba, Vice President Public Relations KAI.

Penambahan armada ini bertujuan memperkuat layanan angkutan barang KAI, terutama untuk distribusi batu bara sebagai sumber energi nasional, serta kebutuhan logistik industri lainnya. Seluruh proses pengadaan ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang KAI senilai USD 222,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun.

KAI memproyeksikan pertumbuhan signifikan volume angkutan barang hingga tahun 2029, dengan target angkutan mencapai 111,2 juta ton batu bara dan 10,9 juta ton untuk komoditas lainnya. Proyeksi tersebut ditopang oleh pengembangan infrastruktur logistik di wilayah Sumatera bagian Selatan, termasuk proyek ekspansi Tarahan II dan Kertapati.

Dengan daya tarik hingga 61 gerbong atau setara dengan muatan 3.050 ton, satu rangkaian kereta batu bara mampu menggantikan lebih dari 120 unit truk kontainer 40 kaki. Hal ini tidak hanya berdampak pada efisiensi distribusi, tetapi juga menurunkan emisi karbon hingga 84 persen dibanding moda transportasi darat. 

Selain itu, pengalihan ke transportasi kereta api turut berkontribusi mengurangi kemacetan, menekan risiko kecelakaan lalu lintas, dan memperpanjang usia infrastruktur jalan.

KAI juga terus menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri, operator logistik, dan regulator guna mendorong peralihan moda angkutan barang ke jalur kereta. Kehadiran lokomotif-lokomotif baru ini diharapkan menjadi katalis dalam mewujudkan sistem logistik nasional yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan kompetitif.

"Kereta api adalah penggerak logistik Indonesia yang lebih cepat, berdampak nyata, dan hadir langsung di tengah masyarakat," tutup Anne.Jakarta — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI kembali memperkuat armadanya dengan mendatangkan 13 unit lokomotif baru tipe CC 205 dari Progress Rail, Amerika Serikat. 

Pengadaan ini merupakan bagian dari total 54 unit sarana angkutan barang yang dirancang untuk mendukung operasional logistik nasional.

Lokomotif-lokomotif tersebut tiba di Pelabuhan Panjang, Lampung, pada 17 Juli 2025, dan langsung dikirim ke Dipo Lokomotif Tanjungkarang. Di sana, unit-unit ini menjalani serangkaian pemeriksaan menyeluruh sebelum resmi dioperasikan.

Proses pengecekan teknis dilakukan di Dipo Tanjungkarang yang merupakan pusat perawatan utama KAI untuk wilayah Sumatera Selatan. Tim teknis melakukan evaluasi mendalam terhadap sistem traksi, pengereman, kelistrikan, perangkat pengendali digital, serta aspek keselamatan lainnya. 

Pemeriksaan ini bertujuan memastikan bahwa setiap lokomotif berfungsi optimal dan siap digunakan untuk angkutan barang, khususnya batu bara.

"Keselamatan adalah prinsip utama kami. Setiap lokomotif harus melewati proses verifikasi teknis secara menyeluruh agar keandalan dan keselamatannya terjamin saat dioperasikan," ungkap Anne Purba, Vice President Public Relations KAI.

Penambahan armada ini bertujuan memperkuat layanan angkutan barang KAI, terutama untuk distribusi batu bara sebagai sumber energi nasional, serta kebutuhan logistik industri lainnya. Seluruh proses pengadaan ini merupakan bagian dari investasi jangka panjang KAI senilai USD 222,5 juta atau sekitar Rp3,56 triliun.

KAI memproyeksikan pertumbuhan signifikan volume angkutan barang hingga tahun 2029, dengan target angkutan mencapai 111,2 juta ton batu bara dan 10,9 juta ton untuk komoditas lainnya. Proyeksi tersebut ditopang oleh pengembangan infrastruktur logistik di wilayah Sumatera bagian Selatan, termasuk proyek ekspansi Tarahan II dan Kertapati.

Dengan daya tarik hingga 61 gerbong atau setara dengan muatan 3.050 ton, satu rangkaian kereta batu bara mampu menggantikan lebih dari 120 unit truk kontainer 40 kaki. Hal ini tidak hanya berdampak pada efisiensi distribusi, tetapi juga menurunkan emisi karbon hingga 84 persen dibanding moda transportasi darat. 

Selain itu, pengalihan ke transportasi kereta api turut berkontribusi mengurangi kemacetan, menekan risiko kecelakaan lalu lintas, dan memperpanjang usia infrastruktur jalan.

KAI juga terus menjalin kemitraan strategis dengan pelaku industri, operator logistik, dan regulator guna mendorong peralihan moda angkutan barang ke jalur kereta. Kehadiran lokomotif-lokomotif baru ini diharapkan menjadi katalis dalam mewujudkan sistem logistik nasional yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan kompetitif.

"Kereta api adalah penggerak logistik Indonesia yang lebih cepat, berdampak nyata, dan hadir langsung di tengah masyarakat," tutup Anne. (da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update