Padang, Rakyatterkini.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat mencatat sebanyak 17 kasus interaksi negatif antara manusia dan satwa liar terjadi sepanjang Januari hingga 18 Juli 2025. Dari jumlah tersebut, 10 di antaranya melibatkan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae).
"Selama periode tersebut, kami menangani 17 kasus konflik satwa liar dengan manusia di berbagai wilayah Sumatera Barat," ungkap Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, di Padang, Senin (22/7/2025).
Ia menjelaskan bahwa setiap laporan konflik segera ditindaklanjuti oleh tim BKSDA di lapangan. Satwa yang berhasil dievakuasi akan menjalani pemeriksaan medis terlebih dahulu guna memastikan kondisi kesehatannya sebelum dilepas kembali ke habitat alaminya.
“Bila ditemukan satwa yang telah lama dipelihara dan kehilangan naluri liarnya, maka kami akan melakukan proses rehabilitasi untuk memulihkan insting alaminya sebelum dilepasliarkan,” terang Hartono.
Selain harimau sumatra, jenis satwa lain yang terlibat dalam konflik meliputi beruang madu (Helarctos malayanus), tapir (Tapirus sp.), kucing emas (Caracal aurata), dan macan dahan (Neofelis nebulosa).
Hartono menyebutkan bahwa konflik ini dipicu oleh sejumlah faktor, antara lain menyusutnya ketersediaan pakan di hutan, perambahan serta pembukaan hutan secara ilegal, aktivitas perburuan liar, hingga limbah makanan manusia yang menarik perhatian satwa.
“Masyarakat perlu lebih berhati-hati, terutama dalam membuang sisa makanan seperti daging ke sungai, karena itu dapat menarik satwa mendekati permukiman,” tambahnya.
BKSDA Sumbar juga mengingatkan warga agar tidak memelihara satwa liar dan segera melaporkan jika melihat keberadaan satwa yang masuk ke lingkungan tempat tinggal.(da*)


