![]() |
Pihak rumah sakit bersama keluarga pasien bayi yang meninggal. |
Pariaman, Rakyatterkini.com - Baru 13 hari lahir, bayi prematur itu mengembuskan nafas terakhirnya saat dirawat di Rumah Sakit Aisyiyah, Pariaman.
Anak pasangan Vebri Andi Suseno dan Ani Putri Dewita, warga Nagari Malai III Koto, Kecamatan Sungai Geringging itu lahir pada Selasa 23 Maret 2021 dan meninggal Minggu 4 April 2021, lantaran keterbatasan alat medis di rumah sakit tersebut.
Sebelumnya, pihak rumah sakit telah berupaya untuk merujuk ke rumah sakit lain guna mendapatkan penanganan lebih baik.
Namun, kedua orangtua si bayi menolaknya, karena tidak mempunyai biaya untuk dibawa ke Padang.
“Kami orang miskin pak, jadi kami tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan anak kami ini. Kami hanya pasrah dan berserah diri kepada Allah SWT,” kata Ani, Senin 5 April 2021.
Ia mengatakan, dirinya melahirkan bayi laki-laki pada Selasa 23 Maret 2021 di RS. Aisyiyah. Selama tiga hari setelah melahirkan, ia sudah bisa pulang ke rumah setelah melunasi pembayaran perawatan sebesar Rp5.100.000.
“Dengan cara meminjam ke sana kesini, suami saya mendapatkan uang sebanyak itu, maka saya dapat keluar dari RS. Aisyiyah. Kemudian, bayi saya diserahkan sepenuhnya kepada pihak rumah sakit. Sebelum bayi kami meninggal, pihak rumah sakit terebut mengusulkan kepada kami untuk dirujuk ke RSUD M. Djamil Padang.
Dengan kondisi keluarga kami saat ini, dirinya tidak dapat memenuhi keinginan dari pihak RS. Aisyiyah untuk merujuk anaknya ke RSUD M. Djamil Padang. Alhasil, anak laki-lakinya itu sudah tidak dapat tertolong lagi, hingga menghembuskan napas terakhirnya di RS. Aisyiyah Pariaman."
Masih ada yang berbaik hati pada pasangan ini, yang sebelumnya sudah dianggap sebagi orang tua angkat, sehingga bayi kami meninggal pukul 01.00 WIB dapat keluar sekitar pukul 18.00 WIB.
Suarni warga Sungai Geringging yang telah dianggap orang tua angkat bagi kedua pasangan suami istri bayi malang itu menyebutkan, untuk membawa bayi yang sudah menjadi mayat dari rumah sakit tersebut dengan menjaminkan satu unit sepeeda motor beserta STNK dan kunci motor.
Pasangan suami istri tersebut dari orang tidak mampu dan serba kekurangan. Untuk biaya yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit tersebut, membuat dirinya berdiam diri dan pasrah. Atas dasar itulah dirinya yang telah dianggab sebagai orang tua angkat untuk mengambil kebijakan, agar sibayai tersebut dapat dimakamkan.
Sementara anggota DPPRD Padang Pariaman Dwi Warman daerah pemilhan I menyebutkan, pihak rumah sakit tersebut seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya RS. Aysiyah itu melayani masyarakat dengan secara islami dan dapat memahami pasien yang ditangani.
Dipihak lain, Direktur Rumah Sakit Aisyiyah, melalui Maneger Operasional dr. Fauzi menyebutkan, pihak rumah sakit tidak pernah menahan pasien yang telah menjadi mayat di rumah nsakit tersebut.
Dengan kejadian pada Minggu 4 April 2021 seorang bayi laki-laki telah menghembuskan nafas terakirnya pada pukul 01.00 WIB, pihak rumah sakit telah menghubungi pihak keluarga si bayi itu.
Sebelumnya, pihak rumah sakit menawarkan kepada pihak keluarga Ani Putri dewita tersebut untuk dirujuk kerumah sakit lain. Namun, pihak keluarganya tidak bersedia untuk dirujuk.
Dengan keterbatasan alat medis di rumah sakit itu, pihak rumah sakit membuat kesepakatan dengan pihak keluarga si bayai agar sibayi dirawat di rumah saki itu sesuai dengan alat medis yang ada.
“Karena kondisi bayi itu terlahir prematur, maka pihak kami merujuk bayi tersebut ke rumah sakit di Padang guna mendapatkan perawatan dan penangan. Setelah pihak kami dengan pihak keluarga sibayi membuat kesepakatan untuk dirawat di rumah saki ini dengan seadanya diatas matrai yang ditandatanagni oleh suaminya,” kata fauzi.
Tepatnya pada Minggu 4 April 2021, bayi itu sudah tidak bernapas, dan pihak rumah sakit langsung mengabari pihak keluarga. Untuk proses pengambilan mayat di RS itu telah ada aturan dari pihak rumah sakit.
Pasien yang keluar dari rumah sakit ini telah memenuhi kewajiban untuk administrasi yaitu biaya perawatan dan lainya. Namun, bagi keluarga si bayi ini tidak pernah menyedorkan dan memberikan sepucuk surat bahwa dirinya termasuk orang miskin.
Ia mengatakan, aturan di rumah sakit tersebut tidak menyulitkan bagi pasien yang kurang mampu, dengan cara menunjukan surat bahwa pasien itu benar-benar miskin. (sgr)