Padang, Rakyatterkini.com – Panggung Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Sumatera Barat melalui Saraso Fest 2026 menghadirkan perpaduan menarik antara tradisi Minangkabau dan eksplorasi musik masa kini.
Pada Kamis malam (1/10/2026), tradisi Tagak Gala Marapulai yang berkembang di Pauh, Kota Padang, ditampilkan dalam bentuk berbeda. Prosesi adat tersebut diolah menjadi komposisi musik kontemporer berjudul TA_GA, yang mendapat sambutan meriah dari penonton.
Karya tersebut digarap oleh komposer muda asal Sumatera Barat, Rianda Putra. Lulusan SMK 7 Padang dan Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang itu tidak menghadirkan prosesi Tagak Gala secara utuh seperti dalam pelaksanaan adat. Sebaliknya, ia menerjemahkan nilai dan suasana tradisi tersebut melalui eksplorasi musikal.
Rianda menjelaskan, TA_GA berangkat dari tradisi malewakan gala atau pemberian gelar kepada seorang laki-laki yang memasuki fase kedewasaan.
Menurutnya, prosesi tersebut dapat memiliki bentuk yang berbeda di setiap daerah. Untuk karya TA_GA, ia mengambil sumber inspirasi dari tradisi yang berkembang di kawasan Pauh.
"Malewakan gala namanya bang, mungkin di tiap daerah ada yang berbeda-beda prosesi dan kebetulan saya sumbernya dari Pauh. Di sana ada pertunjukan tarinya, ada silek, ada tari kain juga," ujar Rianda seusai pertunjukan.
Konsep karya itu juga berkaitan erat dengan falsafah Minangkabau "ketek dibari namo, gadang dibari gala". Pepatah tersebut menggambarkan perjalanan seorang laki-laki dari masa kanak-kanak hingga dewasa, ketika ia memperoleh gelar sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab dalam lingkungan adat.
Bagi Rianda, gelar tidak hanya berfungsi sebagai panggilan. Gelar juga memiliki makna sosial dan budaya yang menandai kedewasaan serta kesiapan seorang marapulai dalam menjalankan tanggung jawabnya di tengah keluarga, kaum, dan suku.
Kekhawatiran terhadap semakin jauhnya generasi muda dari berbagai tahapan tradisi adat menjadi salah satu alasan Rianda mengangkat Tagak Gala ke dalam karya musik. Melalui pendekatan tersebut, ia berusaha memperkenalkan kembali nilai-nilai tradisi kepada masyarakat dengan kemasan yang lebih dekat dengan perkembangan zaman.
TA_GA memadukan berbagai instrumen tradisional Minangkabau dengan perangkat musik modern. Bunyi saluang dan bansi berpadu dengan kecapi serta talempong, kemudian disandingkan dengan gitar elektrik, gitar bass, dan elemen suara digital.
Perpaduan tersebut menghasilkan karakter musik yang tetap memiliki nuansa Minangkabau, tetapi disajikan dengan pendekatan kontemporer. Unsur tradisi tidak sekadar menjadi ornamen, melainkan menjadi dasar dalam membangun suasana dan perjalanan musikal karya tersebut.
Alur musik TA_GA juga tidak menggambarkan prosesi adat secara harfiah. Suasana, syair, serta nilai yang terdapat dalam Tagak Gala diterjemahkan menjadi motif melodi dan perubahan dinamika musik.
Komposisi diawali dengan suasana yang tenang dan khusyuk. Seiring berjalannya pertunjukan, musik berkembang menjadi lebih kuat dan dinamis, menggambarkan perubahan seorang bujang menuju sosok marapulai yang telah menyandang gelar sekaligus tanggung jawab baru.
"Ini untuk mengembangkan musik tradisional ke digital. Pasar dan sasarannya kepada musisi, musisi budaya, dan musisi pangkalannya sendiri, bagaimana untuk mengenalkan musik kita sendiri," kata Rianda.
Proses penggarapan TA_GA dilakukan secara intensif. Rianda bersama para musisi pendukung menjalani latihan selama sekitar satu bulan sebelum karya tersebut dipentaskan di Saraso Fest 2026.
Pertunjukan itu sekaligus menunjukkan bahwa seni tradisi dapat terus mengalami perkembangan tanpa harus kehilangan akar budayanya. Tradisi Minangkabau dapat dikemas melalui pendekatan baru sehingga tetap relevan dengan selera dan perkembangan zaman.
Kehadiran TA_GA di Saraso Fest 2026 menjadi salah satu bentuk upaya mempertemukan kekayaan budaya Minangkabau dengan kreativitas generasi muda. Melalui karya tersebut, nilai tradisi tidak hanya dipertahankan, tetapi juga diperkenalkan kembali dalam bentuk yang lebih inovatif kepada masyarakat luas.(da*)


