Notification

×

Iklan

Sikabu-kabu Kembangkan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:48 WIB Last Updated 2026-10-08T01:48:00Z

Wisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Nagari Sikabu-Kabu 

Limapuluh Kota – Nagari Sikabu-kabu, Kecamatan Luhak, Kabupaten Lima Puluh Kota, terus mendorong pengembangan sektor pariwisata dengan mengedepankan keterlibatan masyarakat setempat.

Melalui semangat gotong royong dan swadaya, masyarakat berupaya menjadikan potensi wisata sebagai salah satu penggerak perekonomian. Pengembangan tersebut sekaligus membuka kesempatan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk mengembangkan usaha mereka.

Konsep pariwisata berbasis masyarakat itu mendapat perhatian dari Ketua TP PKK Kabupaten Agam, Ny. Merry Yuliesday, saat berkunjung ke Nagari Sikabu-kabu pada Rabu (7/10).

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pembelajaran mengenai pengelolaan pariwisata sekaligus melihat secara langsung upaya masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata di daerahnya.

Menurut Ny. Merry, perkembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat secara langsung memiliki nilai strategis. Sebab, keberadaan sebuah destinasi wisata bukan hanya mengenai daya tarik dan keindahan lokasi, tetapi juga sejauh mana kehadirannya mampu memberikan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat sekitar.

“Pariwisata tidak hanya berbicara mengenai destinasi, tetapi juga bagaimana masyarakat ikut mengambil peran dan memperoleh manfaat dari keberadaan objek wisata. Jika masyarakat bergerak bersama, akan terbuka berbagai peluang ekonomi baru, termasuk bagi UMKM,” katanya.

Salah satu contoh pengembangan tersebut terlihat pada kawasan Nuansa Sikabu. Destinasi ini berkembang dari gagasan dan inisiatif masyarakat melalui semangat swadaya.

Kawasan tersebut mulai dirintis sejak akhir 2019 dan secara bertahap dikembangkan dengan melibatkan warga yang memiliki minat serta kemauan untuk terjun ke bidang pariwisata.

Dalam prosesnya, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai wisatawan, tetapi juga diberikan ruang untuk berperan sebagai pengelola destinasi, pelaku usaha hingga penyedia berbagai kebutuhan pengunjung.

Keterlibatan masyarakat secara langsung turut menciptakan peluang bagi pertumbuhan UMKM. Beragam produk lokal, makanan dan minuman, jasa serta hasil kreativitas warga dapat ditawarkan kepada wisatawan sehingga perputaran ekonomi tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi.

Pola tersebut sejalan dengan gagasan “pariwisata berjaya bersama”, yaitu membangun sektor wisata melalui kerja sama masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia.

Ny. Merry menilai, model seperti yang diterapkan di Sikabu-kabu dapat menjadi contoh bahwa pembangunan pariwisata tidak selalu membutuhkan investasi besar sejak awal. Kreativitas, kemauan, serta kekompakan masyarakat dapat menjadi modal utama untuk mengembangkan potensi secara bertahap.

“Yang paling penting adalah adanya kemauan masyarakat untuk bergerak dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Dengan demikian, pariwisata bisa menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkarya sekaligus membantu meningkatkan pendapatan keluarga,” ujarnya.

Selain memberikan manfaat ekonomi, pengembangan pariwisata juga perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan destinasi yang memperhatikan alam, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan UMKM dinilai dapat menciptakan manfaat yang berkelanjutan.

Pengalaman Nagari Sikabu-kabu memperlihatkan bahwa pariwisata akan memiliki dampak yang lebih besar ketika masyarakat tidak hanya menjadi penikmat, tetapi turut menjadi bagian dari proses pengelolaan dan pengembangannya.

Dengan semangat kebersamaan, sektor pariwisata diharapkan mampu terus berkembang menjadi sumber kekuatan ekonomi masyarakat, memperluas peluang usaha, memperkuat UMKM, serta mendorong semakin banyak warga untuk berkreasi dan berusaha melalui sektor wisata.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update