Jakarta, Rakyatterkini.com – Serangan yang menyasar Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026), menyebabkan sedikitnya 12 orang meninggal dunia dan 309 lainnya mengalami luka-luka. Informasi tersebut disampaikan oleh otoritas penerbangan sipil Arab Saudi.
Dari total korban meninggal, empat orang merupakan warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu orang berkewarganegaraan Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir. Sementara itu, sejumlah korban luka dilaporkan mengalami kondisi serius dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Peristiwa ini menjadi serangan ketiga yang menyasar bandara di Riyadh dalam kurun waktu satu pekan. Dampaknya, aktivitas penerbangan di bandara tersebut sempat dihentikan. Sejumlah pesawat yang dijadwalkan mendarat di Riyadh terpaksa dialihkan, sedangkan penerbangan lainnya dibatalkan.
Aktivitas Penerbangan di Riyadh Sempat Terhenti
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengumumkan bahwa seluruh penerbangan yang berangkat dari Riyadh dialihkan pada Sabtu. Penghentian operasional bandara dilakukan sementara sebagai tindak lanjut atas insiden tersebut.
Gangguan penerbangan turut memengaruhi perjalanan menuju Riyadh, ibu kota Arab Saudi yang memiliki populasi sekitar delapan juta jiwa. Berdasarkan data pelacakan penerbangan Flightradar24, sejumlah pesawat yang menuju kota tersebut dialihkan ke lokasi lain atau membatalkan penerbangannya.
Sebelum kejadian terbaru, beberapa maskapai juga telah mengambil langkah untuk menangguhkan maupun membatalkan penerbangan ke Riyadh menyusul rangkaian serangan yang berlangsung sepanjang pekan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh menyatakan telah mengetahui adanya serangan tersebut. Perwakilan diplomatik AS itu mengimbau warga negaranya untuk menjauhi bandara dan area di sekitarnya demi menghindari risiko keselamatan.
Sejumlah Korban Dievakuasi ke Rumah Sakit
Seorang saksi mata yang berada di Bandara Internasional King Khalid mengungkapkan bahwa dirinya melihat ledakan sebelum menemukan sejumlah orang tergeletak dengan kondisi terluka di dalam area bandara.
Setelah kejadian, puluhan ambulans dilaporkan dikerahkan menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi dan membawa para korban ke fasilitas kesehatan.
Seorang penumpang yang turut mengalami luka menceritakan bahwa dirinya sempat melihat sebuah benda melintas di langit. Tidak lama kemudian, sebagian plafon di sekitar gerbang keberangkatan dilaporkan ambruk.
Sejumlah rumah sakit di Riyadh menerima pasien yang dievakuasi menggunakan ambulans maupun helikopter. Beberapa di antaranya dilaporkan mengalami luka berat sehingga membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.
Arab Saudi Siapkan Respons, AS Pertimbangkan Langkah Militer
Serangan terhadap bandara tersebut terjadi ketika ketegangan konflik di Yaman kembali meningkat. Koalisi militer yang dipimpin Arab Saudi menyatakan akan mengambil tindakan sebagai respons atas insiden itu.
Konflik melibatkan pemerintah Yaman yang memperoleh dukungan Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Sebelumnya, Arab Saudi telah melancarkan sejumlah serangan terhadap kelompok tersebut untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman dalam upaya menghadapi Houthi.
Kepala kantor media Houthi melalui unggahan di platform X mengklaim bahwa kelompoknya telah berhasil membuat Bandara Internasional Riyadh tidak beroperasi. Sebelum serangan terbaru, Houthi juga telah mengeluarkan imbauan kepada maskapai penerbangan agar menghindari wilayah udara Arab Saudi yang mereka sebut sebagai kawasan operasi militer.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi perkembangan tersebut. Ia menyebut pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk ikut serta dalam operasi militer Arab Saudi terhadap Houthi.
“Kami mungkin melakukannya. Kami akan melihatnya. Kami baru mengetahui serangan terbaru ini, jadi kami akan mengambil keputusan. Kami bergerak sangat cepat,” ujar Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan keterlibatan militer Amerika Serikat masih dalam tahap pertimbangan dan belum menjadi keputusan final.
Serangan Terjadi Menjelang Konferensi Besar
Insiden di Bandara Internasional King Khalid berlangsung menjelang pelaksanaan sejumlah konferensi penting yang berfokus pada sektor energi dan investasi di Riyadh.
Meski serangan menimbulkan korban jiwa dan mengganggu aktivitas penerbangan, pihak penyelenggara menyatakan agenda konferensi tersebut masih direncanakan berlangsung sesuai jadwal.
Situasi keamanan di kawasan itu berkaitan dengan meningkatnya kembali konflik Yaman. Gencatan senjata antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang disepakati pada 2022 mulai mengalami kemunduran pada musim panas.
Setelah ketegangan meningkat, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang selama ini berada di bawah kendali Houthi. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian situasi keamanan di kawasan dan meningkatkan kekhawatiran terhadap dampaknya bagi penerbangan serta kegiatan internasional di Riyadh.(da*)


