Padang, Rakyatterkini.com – Dampak polusi udara tidak sebatas menimbulkan batuk, pilek, atau gangguan pada saluran pernapasan. Paparan udara tercemar dalam kondisi tertentu juga dapat memengaruhi organ vital, mulai dari pembuluh darah, jantung, hingga otak.
Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara memburuk, terutama mereka yang masuk kelompok rentan seperti penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
Guru Besar Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (Unand), Prof. dr. Hardisman, menjelaskan bahwa tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem pertahanan alami untuk menghadapi zat asing yang masuk melalui saluran pernapasan.
Salah satu respons awal yang paling sering muncul adalah iritasi pada saluran pernapasan yang kemudian memicu batuk. Namun, apabila paparan polutan berlangsung berulang atau dalam waktu lama, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi keluhan yang menetap.
Menurutnya, persoalan menjadi lebih serius ketika partikel pencemar berhasil mencapai bagian bawah saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sesak napas, terutama pada orang yang sebelumnya sudah memiliki penyakit pernapasan.
Pada penderita asma dan PPOK, paparan polutan dapat memperburuk kondisi yang sudah ada dan meningkatkan kemungkinan terjadinya serangan pernapasan.
Efek polusi juga tidak berhenti di organ paru-paru. Prof. Hardisman menerangkan, sejumlah zat pencemar dapat masuk ke dalam sistem peredaran darah dan memicu berbagai reaksi di dalam tubuh.
Paparan tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pada dinding pembuluh darah serta mendorong terbentuknya plak akibat penumpukan lemak. Dalam kondisi tertentu, penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.
Besarnya dampak yang ditimbulkan polusi udara juga berbeda pada setiap orang. Tingkat konsentrasi polutan, jenis bahan pencemar, lamanya seseorang terpapar, serta kondisi kesehatan masing-masing turut menentukan respons tubuh.
Sumber polusi pun memengaruhi jenis zat yang dilepaskan ke udara. Asap dari kegiatan industri, kebakaran rumah, maupun kebakaran hutan dan lahan memiliki komposisi berbeda. Kandungannya bergantung pada material yang terbakar serta proses pembakarannya.
Salah satu zat berbahaya yang dapat muncul dari proses pembakaran tidak sempurna adalah karbon monoksida (CO). Gas ini dapat mengganggu fungsi hemoglobin dalam membawa oksigen sehingga distribusi oksigen ke jaringan tubuh menjadi terganggu.
Selain itu, paparan dalam jangka panjang terhadap sejumlah partikel hasil pembakaran yang memiliki sifat karsinogenik juga dapat meningkatkan risiko terjadinya perubahan atau kerusakan sel yang berpotensi berkembang menjadi kanker.
Untuk mengurangi risiko, Prof. Hardisman mengimbau masyarakat membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kondisi buruk. Berada di dalam rumah juga bukan berarti sepenuhnya terbebas dari polutan karena partikel berukuran sangat kecil masih dapat masuk ke ruangan.
Apabila kegiatan di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat disarankan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, salah satunya respirator N95. Penggunaan masker tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus, termasuk PM2.5.
Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tanda ketika tubuh mulai terdampak polusi. Sesak napas yang muncul secara tiba-tiba, batuk berat yang tidak kunjung membaik, atau pusing hebat merupakan kondisi yang perlu mendapat perhatian.
Jika gejala tersebut muncul, seseorang sebaiknya segera menjauh dari sumber pencemaran dan mencari tempat dengan kualitas udara yang lebih baik. Namun, apabila gangguan pernapasan semakin berat, evakuasi ke tempat yang udaranya lebih bersih saja tidak cukup.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat perlu segera mendapatkan pemeriksaan dan pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Prof. Hardisman menekankan bahwa perlindungan terhadap polusi udara perlu menjadi perhatian khusus bagi kelompok rentan, terutama penderita asma dan PPOK. Mengenali potensi risiko, mengurangi paparan, serta segera mencari bantuan medis ketika kondisi memburuk merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan saat kualitas udara menurun.(da*)


