Notification

×

Iklan

Pagi Sore Padang, Kuliner Legendaris Sejak 1947

Senin, 05 Oktober 2026 | 19:45 WIB Last Updated 2026-10-05T12:45:00Z

Rumah Makan Pagi Sore di kawasan Pondok, Kota Padang 

Padang, Rakyatterkini.com – Nama Rumah Makan Pagi Sore mungkin lebih dulu dikenal masyarakat sebagai jaringan restoran masakan Padang yang memiliki cabang di berbagai daerah. Namun, Kota Padang ternyata memiliki rumah makan bernama sama yang telah berdiri jauh sebelum restoran modern bermunculan.

Rumah Makan Pagi Sore yang berada di Jalan Pondok Nomor 143, Kota Padang, telah melayani pelanggan sejak 1947. Selama hampir delapan dekade, rumah makan tersebut tetap mempertahankan keberadaannya sekaligus menyimpan cerita sejarah dan perpaduan budaya dalam setiap sajian.

Saat ini, usaha kuliner legendaris tersebut diteruskan oleh Yessy Pusaka, generasi ketiga keluarga pendiri. Menurut Yessy, nama Pagi Sore muncul dari kebiasaan rumah makan itu pada masa awal berdiri.

“Sejak 1947, rumah makan ini sudah dijalankan oleh kakek saya. Dulu kami berjualan hanya sampai sore karena saat itu rumah makan belum banyak dan pelanggan yang datang cukup ramai,” ujar Yessy saat menceritakan sejarah keluarganya.

Keunikan lainnya terlihat dari latar belakang keluarga pemilik yang memiliki keturunan Tionghoa. Pengaruh budaya tersebut kemudian ikut membentuk karakter masakan yang disajikan, sehingga cita rasanya memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan masakan Minang pada umumnya.

Yessy menjelaskan, kemampuan memasak dalam keluarganya juga diwariskan dari generasi sebelumnya. Sang ibunya belajar mengolah masakan dari juru masak yang bekerja untuk neneknya.

“Pengaruh masakan Chinese memang ada. Salah satunya pada penggunaan petai. Sambal petai kami dipadukan dengan kuah tauco sehingga rasanya cocok,” tuturnya.

Untuk mempertahankan cita rasa tersebut, Rumah Makan Pagi Sore menggunakan tauco lokal Padang merek Bintang Mas. Bahan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam sejumlah masakan yang hingga kini tetap dipertahankan resepnya.

Keberadaan rumah makan ini juga tidak lepas dari perjalanan sejarah Kota Padang. Pada masa awal setelah Indonesia merdeka, tempat tersebut disebut pernah menjadi salah satu lokasi makan tentara Belanda. Seiring waktu, pelanggan yang datang pun berasal dari berbagai generasi.

Bagi sebagian pelanggan, menyantap hidangan di rumah makan tersebut bukan hanya soal makanan, tetapi juga menjadi bagian dari nostalgia keluarga yang diwariskan dari orang tua hingga anak dan cucu.

Dari berbagai menu yang tersedia, ayam goreng menjadi salah satu hidangan yang paling banyak diminati. Pengelola menjaga proses pengolahannya secara konsisten dan memastikan bahan baku yang digunakan dalam kondisi segar.

Yessy bahkan menyebut ada pelanggan yang mampu menyantap ayam goreng dalam jumlah cukup banyak.

“Setahu saya, ada yang bisa makan sampai 10 atau 15 potong. Saya sendiri biasanya makan di tempat lain, tetapi kalau sedang ingin ayam goreng di sini, saya bisa menghabiskan tujuh potong,” katanya.

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumen, Rumah Makan Pagi Sore juga mulai beradaptasi. Sekitar tiga hingga empat tahun terakhir, Yessy memasukkan usaha keluarganya ke dalam layanan pesan-antar secara daring.

Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari sang ibu yang merasa sistem baru itu akan menambah kesibukan. Namun, seiring berjalannya waktu, layanan digital tersebut justru membantu rumah makan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Munculnya sejumlah restoran modern dengan nama Pagi Sore di kota-kota besar juga tidak dianggap sebagai ancaman bagi usaha keluarganya. Yessy memilih tetap fokus menjaga kualitas dan karakter masakan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia meyakini setiap usaha memiliki rezekinya masing-masing sehingga tidak perlu merasa terganggu dengan keberadaan restoran lain yang menggunakan nama serupa.

“Tidak masalah. Saya percaya rezeki setiap orang sudah ada bagiannya masing-masing,” kata Yessy.

Rumah Makan Pagi Sore di Jalan Pondok menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner tidak sekadar berbicara tentang rasa. Di balik sepiring makanan terdapat perjalanan keluarga, sejarah panjang, serta pertemuan berbagai budaya yang membentuk identitas kuliner tersebut.

Dengan usia yang telah mencapai puluhan tahun, keberadaan rumah makan ini sekaligus menjadi bagian dari jejak kuliner Kota Padang yang terus bertahan di tengah perubahan zaman.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update