Payakumbuh, Rakyatterkini.com– Kota Payakumbuh, Sumatera Barat, dikenal luas dengan julukan The City of Rendang atau Kota Rendang. Identitas tersebut tidak hanya melekat pada rendang sebagai makanan tradisional Minangkabau, tetapi juga terlihat dari beragam kreasi kuliner berbahan dasar rendang yang menjadi daya tarik wisata gastronomi di kota ini.
Salah satu kuliner yang patut dicoba adalah Martabak Kubang. Hidangan ini berasal dari Kubang, sebuah nagari di Kabupaten Lima Puluh Kota, yang kemudian dikenal sebagai salah satu sajian khas dalam khazanah kuliner Payakumbuh.
Bagi pencinta wisata kuliner malam, Martabak Mesir H. Wan menjadi salah satu tempat yang bisa dikunjungi. Kedai legendaris yang berada di kawasan Simpang Tugu Adipura tersebut menawarkan Martabak Kubang dengan harga Rp23.000 per porsi.
Penulis buku Rendang: Minang Legacy to the World, Reno Andam Suri, menyebut bahwa keunikan kuliner malam Payakumbuh terletak pada kreativitas masyarakat dalam mengolah rendang menjadi berbagai jenis makanan.
Menurutnya, sejumlah tempat kuliner di Payakumbuh menawarkan produk turunan rendang yang diolah menjadi kudapan dengan cita rasa khas. Martabak Kubang menjadi salah satu contoh perpaduan tradisi kuliner lokal dengan inovasi pengolahan bahan makanan.
Keistimewaan Martabak Kubang terletak pada isiannya yang menggunakan suwiran daging rendang. Berbeda dengan martabak telur pada umumnya yang memakai daging cincang, hidangan ini memadukan daging rendang, telur, dan irisan daun bawang sebagai bahan utama.
Adonan kulit martabak terlebih dahulu dibuat tipis, kemudian diisi dengan campuran bahan tersebut. Setelah dilipat, martabak dipanggang di atas wajan datar hingga matang dan berwarna kecokelatan.
Martabak Kubang biasanya disajikan dalam kondisi hangat bersama kuah cuka bercita rasa asam yang dilengkapi irisan bawang bombai dan cabai rawit hijau. Perpaduan daging rendang yang kaya rempah dengan kuah pendamping memberikan sensasi rasa yang berbeda dari martabak pada umumnya.
Reno menilai penggunaan suwiran daging rendang menjadi pembeda utama kuliner tersebut. Jika martabak di daerah lain umumnya menggunakan daging cincang yang dicampur telur, daun bawang, dan bumbu kari, Martabak Kubang justru mengandalkan rendang sebagai komponen utama isiannya.
Keberadaan kuliner khas tersebut turut memperkuat daya tarik Payakumbuh sebagai destinasi wisata. Kota ini sebelumnya lebih sering menjadi tempat singgah bagi pelancong yang melakukan perjalanan darat dari Provinsi Riau, khususnya Pekanbaru, menuju Bukittinggi.
Namun, perkembangan ragam makanan khas membuat Payakumbuh kini memiliki alasan tersendiri untuk dikunjungi. Wisatawan tidak hanya melintasi kota ini dalam perjalanan menuju daerah lain, tetapi juga dapat meluangkan waktu untuk mengeksplorasi kekayaan kulinernya.
Selain Martabak Kubang, terdapat sejumlah makanan khas lain yang layak masuk dalam daftar wisata kuliner, di antaranya Sate Danguang-Danguang dan Pastel Padeh. Beragam sajian tersebut menunjukkan bahwa potensi kuliner Payakumbuh masih luas untuk digali dan diperkenalkan kepada wisatawan.
Dengan kekayaan cita rasa serta inovasi olahan makanan tradisional, Payakumbuh semakin memperkuat posisinya sebagai tujuan wisata kuliner di Sumatera Barat. Julukan Kota Rendang pun tidak sekadar menjadi identitas, tetapi juga mencerminkan keragaman gastronomi yang dapat dinikmati oleh para pengunjung.(da*)


