Notification

×

Iklan

LPS Ingatkan Anak Muda Waspadai Judi Online

Senin, 19 Oktober 2026 | 00:44 WIB Last Updated 2026-10-18T18:22:06Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengimbau generasi muda untuk lebih berhati-hati dalam memanfaatkan layanan keuangan digital. Kemudahan akses melalui teknologi perlu diimbangi dengan pemahaman yang baik agar masyarakat tidak terjerat masalah keuangan, seperti judi online, pinjaman online ilegal, hingga perilaku konsumtif.

Wakil Ketua Dewan Komisioner LPS, Farid Azhar Nasution, menilai perkembangan layanan keuangan berbasis digital belum sepenuhnya disertai pengetahuan masyarakat yang memadai mengenai risiko yang dapat ditimbulkan.

Dalam kuliah umum di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur, Minggu, Farid menjelaskan bahwa kepemilikan telepon pintar telah memudahkan masyarakat untuk menggunakan berbagai produk keuangan. Namun, kondisi tersebut juga membuka peluang munculnya perilaku belanja berlebihan, penggunaan pinjaman ilegal, dan keterlibatan dalam perjudian.

Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 69,5 persen. Sementara itu, tingkat inklusi keuangan tercatat lebih tinggi, yakni sebesar 93,6 persen.

Perbedaan kedua angka tersebut memperlihatkan bahwa akses masyarakat terhadap layanan keuangan masih belum sepenuhnya sejalan dengan tingkat pemahaman mereka dalam mengelola keuangan. Karena itu, peningkatan edukasi keuangan dinilai penting agar masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut secara aman dan bertanggung jawab.

Farid turut menyoroti praktik judi online, termasuk taruhan olahraga atau sport betting, yang berpotensi memengaruhi kondisi finansial anak muda, terutama kalangan Generasi Z.

Ia merujuk pada data Bloomberg yang menyebutkan sebanyak 52 persen responden pernah memindahkan dana investasi mereka untuk digunakan dalam taruhan olahraga. Selain itu, 26 persen responden menilai aktivitas tersebut sebagai salah satu bagian dari strategi keuangan jangka panjang.

Menurut Farid, kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi generasi muda untuk memperkuat pemahaman finansial sejak dini. Mahasiswa diharapkan mampu menilai risiko suatu produk keuangan, menentukan prioritas pengeluaran, serta membedakan kebutuhan pokok dari keinginan sesaat sebelum mengambil keputusan.

Selain meningkatkan literasi keuangan, Farid mengajak generasi muda membiasakan diri menabung secara konsisten. Ia memperkenalkan prinsip “Sisihkan, Bukan Sisakan”, yaitu menyisihkan sebagian uang saku atau pendapatan di awal sebelum digunakan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

Kebiasaan tersebut dapat membantu membangun dana darurat sekaligus mempersiapkan kebutuhan finansial pada masa depan. Dengan pengelolaan uang yang disiplin, generasi muda diharapkan lebih siap menghadapi berbagai kebutuhan yang tidak terduga.

Farid menambahkan, mempersiapkan masa depan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan uang atau membangun tabungan. Pengembangan pengetahuan, pembentukan karakter yang baik, serta memperluas jaringan pergaulan yang positif juga merupakan modal penting untuk mencapai kemandirian finansial.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update