Notification

×

Iklan

Lompong Sagu, Kuliner Langka Khas Minang

Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:47 WIB Last Updated 2026-10-07T08:47:00Z

Titin, pedagang lompong sagu di depan Rumah Gadang Datuk Ibrahim, Kuranji

Padang, Rakyatterkini.com – Sagu selama ini lebih sering dikaitkan dengan makanan pokok masyarakat di kawasan Indonesia Timur, terutama Maluku dan Papua. Namun, Sumatera Barat juga memiliki kuliner tradisional berbahan sagu yang tak kalah menarik. Makanan tersebut adalah lompong sagu, penganan khas Minangkabau yang kini keberadaannya semakin sulit ditemukan.

Lompong sagu bukan sekadar makanan tradisional dengan rasa manis dan legit. Penganan ini juga menyimpan nilai sejarah serta budaya yang kuat. Bahkan, keberadaannya pernah diabadikan dalam salah satu lagu daerah Minang yang cukup dikenal dengan penggalan lirik, “Lompong sagu, lompong sagu, di tangah-tangah karambia mudo”.

Penggalan lagu tersebut menggambarkan betapa dekatnya lompong sagu dengan kehidupan masyarakat Minangkabau pada masa lalu. Seiring perkembangan zaman, makanan tradisional tersebut mulai tersisih sehingga hanya sejumlah tempat tertentu yang masih mempertahankan pembuatannya secara turun-temurun.

Salah satu tempat yang masih dapat menjadi tujuan untuk mencicipi lompong sagu berada di kawasan Rumah Gadang Datuk Rajo Ibrahim, Kecamatan Kuranji, Kota Padang. Di sana, Ibu Titin masih mempertahankan cara tradisional dalam membuat penganan khas tersebut.

Menurut Ibu Titin, lompong sagu dibuat menggunakan beberapa bahan sederhana, di antaranya tepung sagu, pisang, kelapa, dan gula aren. Gula aren ditempatkan di bagian tengah adonan sebagai isian. Dalam istilah Minangkabau, gula aren tersebut dikenal dengan sebutan gulo saka.

“Sagu, kelapa, pisang, dan di tengah-tengahnya ada gula aren,” ujar Ibu Titin saat menjelaskan bahan yang digunakan untuk membuat lompong sagu.

Tidak hanya komposisi bahan, proses pemasakan juga menjadi salah satu faktor yang menentukan cita rasa lompong sagu. Penganan ini masih dibakar dengan cara tradisional menggunakan serabut kelapa.

Menurut Ibu Titin, penggunaan serabut kelapa membuat aroma makanan menjadi lebih harum sekaligus membantu proses pematangan hingga ke bagian dalam. Metode tersebut dinilai lebih efektif dibandingkan menggunakan batok kelapa yang terkadang membuat bagian dalam lompong sagu tidak matang secara merata.

“Kalau pakai serabut kelapa baunya harum, masaknya sampai ke dalam. Kalau pakai batok kelapa tidak sampai ke dalam, kadang ada yang kurang matang dalamnya,” jelasnya.

Lompong sagu umumnya paling nikmat disantap ketika masih hangat. Makanan tersebut dapat langsung dinikmati dari bungkus daun pisang yang telah mengalami proses pembakaran. Ada pula yang menyajikannya di atas piring dengan tambahan kelapa parut.

Bagi masyarakat Minangkabau, lompong sagu bukan sekadar kudapan sehari-hari. Makanan ini dahulu kerap hadir dalam berbagai kegiatan keluarga, seperti pesta pernikahan, acara mendoa, hingga perayaan khitanan.

Saat ini, lompong sagu masih dapat ditemukan di sejumlah pasar tradisional, meski jumlahnya tidak banyak. Penganan tersebut bahkan sering habis dibeli masyarakat sejak pagi karena produksinya terbatas. Kondisi itu membuat lompong sagu menjadi salah satu kuliner tradisional yang menarik perhatian wisatawan ketika berkunjung ke Padang.

Kedai milik Ibu Titin juga menyediakan sejumlah makanan tradisional lainnya. Di antaranya palai balado dan palai bada yang menjadi pelengkap kuliner khas Minang.

Palai balado merupakan olahan ikan yang dibungkus dan dimasak seperti pepes, kemudian diberi bumbu cabai balado. Sementara palai bada dibuat dari perpaduan kelapa parut dengan ikan teri atau bada.

Untuk menjaga kualitas masakannya, Ibu Titin berusaha menggunakan bahan laut yang masih segar. Ia bahkan harus berangkat sejak pagi menuju Pasar Gaung untuk mendapatkan ikan yang menjadi bahan utama olahan palai.

Meski jaraknya cukup jauh dari kawasan Limau Manis, Pasar Gaung tetap menjadi pilihan karena dikenal sebagai salah satu lokasi yang menyediakan ikan segar di Kota Padang.

Upaya mempertahankan bahan baku berkualitas sekaligus metode memasak tradisional membuat lompong sagu dan aneka palai di kedai tersebut memiliki cita rasa khas. Kuliner sederhana yang sarat nilai budaya itu pun menjadi salah satu jejak tradisi Minangkabau yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update