![]() |
| Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan |
Padang, Rakyatterkini.com – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat penanganan dampak bencana di Sumatera Barat (Sumbar). Fokus utama diarahkan pada pemulihan wilayah terdampak banjir bandang di Kota Padang serta penanganan longsor yang mengganggu akses jalan nasional ruas Tapan–Batas Jambi di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel).
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, percepatan penanganan tersebut dilakukan untuk menjamin keselamatan warga, memulihkan akses transportasi antardaerah, dan meminimalkan potensi terjadinya bencana susulan.
Ia telah menginstruksikan seluruh jajaran balai teknis di Sumbar agar mengoptimalkan pekerjaan di lapangan, termasuk memastikan ketersediaan alat berat dan tenaga kerja yang memadai. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan infrastruktur sekaligus mengembalikan aktivitas masyarakat seperti sediakala.
“Kami bekerja tanpa jeda untuk memastikan keterisolasian wilayah bisa ditangani secepat mungkin. Keselamatan masyarakat dan kelancaran mobilitas menjadi prioritas kami,” ujar Dody dalam keterangan resmi yang dikutip pada Rabu (14/10/2026).
Penanganan Dampak Banjir Bandang di Kota Padang
Banjir bandang yang melanda Kota Padang pada 10 Oktober 2026 menimbulkan kerusakan di sejumlah lokasi. Bencana tersebut berdampak pada sekitar 120 rumah warga, merusak jaringan irigasi, bendung, serta tanggul sepanjang kurang lebih 50 meter. Dua bangunan intake Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) turut mengalami kerusakan, sementara pipa transmisi sepanjang 1,5 kilometer dilaporkan terputus. Selain itu, sebuah masjid juga terdampak bencana.
Untuk memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat, Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang melakukan sejumlah langkah darurat. Upaya tersebut mencakup perbaikan alur sungai, pembersihan sedimen yang menumpuk di bangunan intake, serta pendistribusian air bersih menggunakan lima unit mobil tangki.
Penanganan juga dilakukan di kawasan Perumahan Lumin Park. Di lokasi ini, BWS Sumatera V Padang telah menuntaskan pembangunan tanggul darurat sepanjang 200 meter di aliran Sungai Batang Air Dingin, tepat di seberang kawasan perumahan.
Tanggul dengan ketinggian sekitar tiga meter tersebut dibangun untuk menekan risiko banjir susulan sekaligus memberikan perlindungan tambahan bagi permukiman warga.
Pekerjaan itu didukung tiga unit excavator yang mulai dikerahkan secara bertahap sejak Minggu (11/10/2026). Pembangunan tanggul darurat menjadi bagian awal dari penanganan bencana, sedangkan program rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur sungai disiapkan untuk memperkuat perlindungan di kawasan terdampak.
Kementerian PU juga merencanakan rehabilitasi dan rekonstruksi pada Sungai Batang Air Dingin serta Sungai Batang Kuranji. Program tersebut meliputi normalisasi sungai, pembukaan kembali alur yang terganggu, peninggian atau pembangunan tanggul pengendali banjir, serta pembangunan sabo dam dan check dam untuk membantu mengendalikan aliran air dan material sedimen.
Untuk mendukung pelaksanaan pekerjaan, mobilisasi tambahan alat berat dijadwalkan berlangsung secara bertahap mulai 15 Oktober 2026. Kementerian PU juga menyiapkan tim kaji cepat dari Balai Teknik Sungai dan Sabo Dam guna menilai kondisi di lapangan dan memberikan rekomendasi teknis bagi penanganan lanjutan.
Selain itu, pengerukan muara direncanakan dimulai pada 13 Oktober 2026 dengan perkiraan durasi pengerjaan sekitar dua bulan. Tim pengukuran telah diterjunkan untuk mempersiapkan pekerjaan permanen, termasuk pembangunan check dam yang diperkirakan membutuhkan waktu enam bulan. Pekerjaan tersebut akan dilaksanakan bersamaan dengan perbaikan tanggul dan normalisasi sungai.
Sebanyak 14 Titik Longsor di Ruas Tapan–Batas Jambi Ditangani
Di Kabupaten Pesisir Selatan, Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat juga mempercepat penanganan kerusakan jalan akibat banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang terjadi pada 9–11 Oktober 2026.
Bencana tersebut melanda Nagari Jangki Ayam, Kecamatan Ranah Ampek Hulu, wilayah Tapan, dan mengakibatkan material longsor menutupi badan jalan nasional pada ruas Tapan–Batas Jambi.
Gangguan tersebar di 14 titik sepanjang kurang lebih 16,2 kilometer, mulai dari KM 219+100 hingga KM 235+300. Kondisi tersebut sempat menghambat kelancaran lalu lintas dan membutuhkan penanganan segera agar akses transportasi kembali dapat digunakan.
Sejak Senin (12/10/2026), ruas jalan tersebut sudah kembali fungsional dan dapat dilalui kendaraan melalui satu jalur. Meski demikian, BPJN Sumbar tetap melanjutkan pembersihan sisa material longsor serta memasang rambu peringatan dan garis pengaman untuk mengantisipasi risiko bagi para pengguna jalan.
Penanganan darurat dilakukan dengan mengerahkan empat unit excavator PC200, satu excavator mini, dua wheel loader, dan satu dump truck. BPJN Sumbar juga menambah satu unit wheel loader untuk mempercepat proses pembersihan dan pemulihan akses jalan.
Sebagai langkah lanjutan, Kementerian PU menyiapkan penanganan permanen pada titik KM 219+100 melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Pekerjaan yang direncanakan berupa pembangunan retaining wall concrete (RWC) atau dinding penahan beton untuk memperkuat struktur badan jalan dan mengurangi kemungkinan jalan kembali terputus akibat longsor.
Kementerian PU terus menjalin koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi terkait untuk mempercepat penanganan darurat dan mempersiapkan pemulihan infrastruktur secara menyeluruh.
Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah berupaya mengembalikan fungsi infrastruktur yang terdampak bencana, menjaga kelancaran konektivitas antardaerah, serta meningkatkan perlindungan dan keselamatan masyarakat di Sumatera Barat.(da*)


