Notification

×

Iklan

Karhutla Ancam Lukisan Gua Berusia 45.000 Tahun

Jumat, 16 Oktober 2026 | 22:47 WIB Last Updated 2026-10-16T15:47:00Z

Kondisi Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan, menimbulkan ancaman serius terhadap kelestarian lukisan gua prasejarah yang diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun.

Warisan arkeologi bernilai tinggi tersebut berisiko mengalami kerusakan permanen akibat paparan panas dan asap kebakaran. Ancaman ini menjadi perhatian karena lukisan gua tersebut merupakan salah satu bukti penting perkembangan seni dan peradaban manusia pada masa lampau.

Arkeolog dari Griffith University, Australia, Basran Burhan, menjelaskan bahwa dampak kebakaran terhadap gambar cadas tidak hanya terjadi ketika api menyentuh permukaan lukisan secara langsung. Panas yang tinggi serta partikel asap juga dapat mempercepat kerusakan situs bersejarah tersebut.

Basran menyampaikan peringatan itu saat menanggapi kebakaran yang terjadi di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, Jumat.

Ia menjelaskan, terdapat dua faktor utama yang dapat merusak lukisan prasejarah, yakni perubahan suhu secara ekstrem dan penumpukan jelaga yang berasal dari asap kebakaran.

Peningkatan suhu di sekitar gua dapat mengubah kondisi lingkungan secara drastis. Situasi tersebut berpotensi mempercepat pelapukan batuan kapur serta menimbulkan retakan-retakan kecil yang dapat memengaruhi lapisan pigmen pada lukisan.

Menurut Basran, kerusakan tetap dapat terjadi meskipun kobaran api tidak mengenai gambar cadas secara langsung. Perubahan temperatur di sekitar situs sudah cukup berpotensi mempercepat proses pelapukan, terlebih apabila api mencapai permukaan lukisan.

Selain paparan panas, asap kebakaran juga membawa partikel karbon yang dapat menempel pada dinding gua dan membentuk lapisan jelaga. Endapan tersebut berisiko menutupi gambar, mengaburkan detail, serta menyulitkan peneliti mengenali bentuk dan warna asli pigmen yang digunakan manusia purba.

Jelaga yang menempel pada permukaan batuan dapat menghalangi pengamatan terhadap gambar cadas. Akibatnya, kejelasan bentuk dan warna asli lukisan menjadi berkurang sehingga proses identifikasi maupun penelitian dapat terganggu.

Konservasi Situs Prasejarah Menghadapi Ancaman
Basran menilai kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan serius bagi pelestarian situs prasejarah di kawasan Maros-Pangkep. Selama ini, berbagai upaya konservasi telah dilakukan untuk menjaga kondisi lingkungan gua agar tetap stabil.

Salah satu langkah yang diterapkan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan adalah membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang di setiap gua. Kebijakan tersebut bertujuan mengurangi gangguan terhadap kondisi suhu dan kelembapan yang berpengaruh terhadap kelestarian lukisan.

Ia menilai, jika aktivitas manusia yang dapat memengaruhi suhu lingkungan saja sudah menjadi perhatian dalam upaya konservasi, kebakaran berskala besar tentu membawa risiko yang jauh lebih besar.

Perubahan suhu akibat karhutla, lanjutnya, tidak hanya berdampak pada permukaan lukisan, tetapi juga berpotensi mengganggu iklim mikro di dalam gua. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kestabilan lingkungan yang dibutuhkan untuk mempertahankan keutuhan gambar cadas.

Kawasan karst Maros-Pangkep sendiri dikenal memiliki kekayaan peninggalan prasejarah berupa lukisan hewan dan cap tangan yang diperkirakan berusia lebih dari 45.000 tahun. Temuan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah ekspresi artistik manusia sekaligus warisan arkeologi yang memiliki nilai internasional.

Ancaman kebakaran di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung juga tidak terbatas pada situs bersejarah. Ekosistem karst, tumbuhan, habitat satwa endemik yang dilindungi, serta keanekaragaman hayati di kawasan tersebut turut menghadapi risiko kerusakan.
Area Terbakar Bertambah Menjadi 93,43 Hektare

Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, mengungkapkan bahwa luas lahan yang terdampak kebakaran terus mengalami peningkatan.

Berdasarkan data yang disampaikan, area terbakar bertambah dari 34,74 hektare pada Senin (12/10) menjadi 93,43 hektare pada Kamis (15/10).

Kebakaran tersebut pertama kali dilaporkan pada Minggu (11/10) sekitar pukul 21.00 WITA di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.

Meluasnya kebakaran menambah kekhawatiran terhadap keberlangsungan ekosistem karst dan situs arkeologi di kawasan tersebut. Jika tidak segera dikendalikan, karhutla berpotensi merusak lingkungan sekaligus mengancam peninggalan manusia purba yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update