Notification

×

Iklan

G7 Lepas 100 Juta Barel Minyak dan Solar

Senin, 05 Oktober 2026 | 03:44 WIB Last Updated 2026-10-04T20:44:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Negara-negara anggota G7 menyepakati langkah bersama untuk menggelontorkan hingga 100 juta barel minyak mentah dan solar dari cadangan strategis ke pasar. 

Kebijakan tersebut ditujukan untuk meredam kenaikan harga energi di tengah kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan global.

Rencana pelepasan cadangan itu akan diberlakukan segera dan berlangsung selama empat bulan. Dalam 20 hari pertama, negara-negara G7 akan memprioritaskan pengeluaran stok solar dalam jumlah besar. Pasokan tambahan masih dapat dikeluarkan apabila kondisi pasar membutuhkan.

Mengutip BBC, keputusan tersebut diambil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mendorong negara-negara Eropa untuk mengeluarkan lebih banyak cadangan bahan bakar mereka. Trump bahkan sempat mengancam menghentikan ekspor diesel dari AS apabila negara-negara Eropa tidak mengambil langkah serupa.

Melalui pernyataan bersama, para pemimpin G7 menyatakan pelepasan cadangan akan dilakukan secara terkoordinasi melalui Badan Energi Internasional (IEA). Selain itu, negara-negara anggota sepakat tidak memberlakukan pembatasan ekspor terhadap energi maupun produk energi di antara sesama anggota G7.

G7 beranggotakan Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Jerman, Italia dan Prancis. Uni Eropa juga ikut ambil bagian dalam pertemuan kelompok tersebut.

Sebelumnya, Trump menyampaikan bahwa AS dapat menghentikan ekspor solar jika negara-negara Eropa tidak meningkatkan pelepasan stok bahan bakar mereka ke pasar. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menekan harga di dalam negeri AS, tetapi pada saat yang sama dapat memicu kenaikan harga di negara lain.

Trump kemudian menyampaikan melalui media sosial bahwa negara-negara Eropa telah menyetujui pelepasan cadangan diesel dalam jumlah besar dan pelaksanaannya akan segera dimulai.

Namun, Trump belakangan menegaskan bahwa rencana penghentian ekspor solar belum menjadi kebijakan yang benar-benar siap diberlakukan. Ia justru memberikan apresiasi terhadap keputusan Eropa untuk ikut mengeluarkan cadangan bahan bakarnya.

“Eropa memiliki banyak diesel dan mereka akan memberikan kontribusi besar bagi dunia, begitu juga kami,” kata Trump.

Dukungan Trump terhadap opsi pembatasan ekspor solar pertama kali disampaikan pada awal pekan sebelumnya. Sampai Kamis, pemerintah AS masih mempertimbangkan kebijakan tersebut sembari terus mendorong negara-negara Eropa menggunakan cadangan strategis mereka.

Solar menjadi salah satu komponen penting dalam kegiatan transportasi barang dan sektor pertanian. Oleh sebab itu, kenaikan harga diesel dapat meningkatkan ongkos distribusi yang kemudian berpotensi berdampak pada harga berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk pangan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan G7 telah menyepakati pelepasan cadangan hingga 100 juta barel selama empat bulan. Seluruh proses tersebut akan dikoordinasikan melalui IEA.

Menurut Macron, langkah bersama itu diharapkan dapat memberikan tekanan terhadap harga produk minyak, terutama diesel. Ia juga menegaskan kembali kesepakatan G7 untuk tidak memberlakukan larangan ekspor energi.

“Presiden Trump, khususnya, sangat jelas mengenai hal ini,” ujar Macron.

Dalam pernyataan bersama, G7 memastikan pelepasan cadangan hingga 100 juta barel akan dimulai dalam waktu dekat dan berlangsung selama empat bulan. Negara-negara anggota G7 beserta mitranya akan mengutamakan pelepasan solar dalam jumlah besar pada 20 hari pertama.

Meski demikian, belum dijelaskan secara rinci negara mitra mana saja yang akan ikut mengeluarkan cadangan serta kapan pasokan tersebut sepenuhnya masuk ke pasar.

Total 100 juta barel yang disiapkan terdiri atas kombinasi minyak mentah dan solar. Harga minyak Brent sempat anjlok hingga berada di bawah 100 dolar AS per barel, sebelum kembali bergerak naik dan berada di sekitar 102 dolar AS pada Jumat malam.

Sebelum Amerika Serikat dan Israel melakukan invasi ke Iran, harga minyak Brent masih berada di kisaran 73 dolar AS per barel.

Direktur Riset Komoditas Kpler, Matt Smith, menilai kenaikan harga kembali terjadi seiring meningkatnya serangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman.

“Harga minyak sempat turun tajam setelah pengumuman pelepasan cadangan strategis di Eropa, tetapi kembali berbalik karena rumor Arab Saudi berencana melancarkan operasi di Yaman untuk memulihkan jalur aman melalui Bab al-Mandeb,” ujar Smith.

Sebelumnya, sejumlah negara Eropa menolak desakan Amerika Serikat untuk menghentikan ekspor solar dari AS. Kondisi tersebut terjadi ketika konflik yang dipimpin AS di Timur Tengah masih berlangsung, sementara pasokan dari Rusia dan China juga mengalami penurunan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update