Notification

×

Iklan

Cegah Perpecahan Sejak Dini, Sawahlunto Perkuat Kerukunan Lintas Agama

Senin, 19 Oktober 2026 | 17:50 WIB Last Updated 2026-10-19T10:50:00Z

Wakil Wali Kota Sawahlunto, Jeffry Hibatullah, saat menghadiri Dialog Kerukunan Umat Beragama, di Hotel Khas Ombilin, Senin (19/10/2026).

Sawahlunto, Rakyatterkini.com  - Wakil Wali Kota Sawahlunto, Jeffry Hibatullah membuka Dialog Kerukunan Umat Beragama yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Sawahlunto, di Hotel Khas Ombilin, Senin (19/10/2026).

Dialog ini bukan sekadar agenda seremonial. Di tengah menguatnya polarisasi di ruang digital, FKUB Sawahlunto mengambil langkah preventif, memperkuat komunikasi lintas agama agar keharmonisan yang sudah menjadi identitas Kota Warisan Dunia ini tidak retak.

Jeffry menegaskan, kerukunan adalah aset paling mahal yang dimiliki Sawahlunto.

"Keistimewaan Sawahlunto itu kerukunannya. Beda agama, beda suku, tapi bisa hidup berdampingan dengan damai. Ini yang harus kita pelihara bersama. Pemerintah, FKUB, Kemenag, dan tokoh lintas agama harus cegah potensi perpecahan sejak dini, jangan tunggu ada api baru disiram," tegas Jeffry.

Wawako pun mendorong FKUB untuk tidak berhenti di forum dialog saja. Ia meminta optimalisasi peran FKUB melalui kegiatan-kegiatan yang menyentuh generasi muda dan relevan dengan zaman, seperti kemah lintas agama, dialog kebangsaan di sekolah, hingga aksi sosial bersama.

Pemko Sawahlunto, kata dia, sepenuhnya mengapresiasi dan mendukung setiap kegiatan yang memperkuat fondasi kerukunan.

Senada, Ketua FKUB Kota Sawahlunto Zainul Arizal Datuak Bandaro Putih mengingatkan tantangan kerukunan ke depan ada di tangan generasi penerus.

"Yang rukun hari ini adalah orang tuanya. Pertanyaannya, apakah anak dan cucu kita nanti akan serukun ini? Makanya antisipasi sejak dini itu penting, agar persatuan ini bisa kita wariskan, bukan hanya kita nikmati," ujar Datuak Bandaro Putih.

Kegiatan dialog kerukunan ini digelar selama dua hari, Senin-Selasa, 19 - 20 Oktober 2026, dengan total 80 peserta yang dibagi dalam dua angkatan. Peserta terdiri dari perwakilan tokoh lintas agama, penyuluh agama kecamatan, dan pengurus masjid se-Kota Sawahlunto.

Dengan dialog ini, Sawahlunto kembali menegaskan jati dirinya, kota yang tidak hanya merawat warisan tambang, tetapi juga merawat warisan toleransi. (benny)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update