Jakarta, Rakyatterkini.com – Banjir melanda Kampung Rendahan, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada Jumat (16/10/2026). Peristiwa tersebut berdampak pada 128 kepala keluarga (KK) dan menggenangi sedikitnya 90 rumah warga.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat meluapnya Sungai Parpayakan dan Sungai Sordang setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama beberapa hari.
Menurut Berton, kondisi tersebut menyebabkan air sungai melimpah hingga menggenangi permukiman penduduk.
Berdasarkan laporan sementara, banjir juga mengakibatkan dua fasilitas umum, satu ruas akses jalan, dan satu jembatan terdampak. Hingga Jumat (16/10/2026), genangan air belum sepenuhnya surut. Meski demikian, warga yang terdampak masih bertahan di rumah masing-masing dan belum mengungsi.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Simalungun bersama sejumlah instansi terkait telah turun ke lokasi untuk melakukan pendataan dan penanganan darurat.
Saat ini, warga membutuhkan sejumlah perlengkapan untuk mendukung aktivitas di tengah genangan, terutama tali tambang atau tali pemandu guna membantu melintasi jalan yang terendam. Selain itu, bantuan bahan kebutuhan pokok juga diperlukan.
BNPB mengingatkan masyarakat yang bermukim di daerah rawan banjir agar tetap waspada terhadap hujan lebat dan peningkatan debit sungai. Warga diminta mematuhi arahan petugas, mengutamakan keselamatan apabila harus melakukan evakuasi, serta mengikuti perkembangan informasi dari lembaga resmi, seperti BNPB, BPBD, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Karhutla di Grobogan dan Semarang
Selain banjir di Simalungun, BNPB melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah serta bencana kekeringan di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, selama periode Jumat hingga Sabtu (16–17/10/2026).
Kebakaran lahan pertama terjadi di Desa Nglobar, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 15.07 WIB. Hasil kaji cepat BPBD Kabupaten Grobogan menunjukkan bahwa luas lahan yang terbakar mencapai tiga hektare.
Tim gabungan langsung melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api maupun titik panas yang dapat memicu kebakaran susulan. Api berhasil dikendalikan, sementara kondisi di lokasi dilaporkan aman. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Kejadian serupa juga berlangsung di kawasan Hutan Penggaron, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, pada hari yang sama. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar empat hektare lahan.
Penanganan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Semarang bersama petugas pemadam kebakaran, Perhutani, Polres Semarang, dan masyarakat setempat. Selain membantu proses pemadaman, petugas juga membagikan masker kepada warga yang terdampak asap.
Berdasarkan laporan terakhir, kebakaran di kawasan Hutan Penggaron telah berhasil dipadamkan. Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam kejadian ini.
Kekeringan Berdampak pada 443 KK di Muara Enim
Sementara itu, kekeringan melanda Desa Hidup Baru, Kecamatan Benakat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Jumat (16/10/2026). Kondisi ini dipicu oleh tidak adanya hujan dalam jangka waktu yang cukup panjang sehingga sejumlah sumber mata air mengering.
Bencana tersebut berdampak pada sekitar 443 kepala keluarga yang membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BPBD Kabupaten Muara Enim telah melakukan pendataan, berkoordinasi dengan pemerintah setempat, serta menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pada Jumat (16/10/2026), sebanyak 30.000 liter air bersih didistribusikan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Menanggapi berbagai kejadian tersebut, BNPB kembali mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan karhutla diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Jika menemukan titik api, warga diharapkan segera melaporkannya kepada petugas agar dapat ditangani sebelum kebakaran meluas.
Sementara itu, warga yang mengalami kekeringan diimbau menggunakan air secara hemat dan menyimpan persediaan air bersih selama pasokan masih tersedia. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga perlu dilakukan agar penyaluran bantuan air dapat menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.(da*)


