Arosuka, Rakyatterkini.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meminta masyarakat serta pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan berupa lahar hujan di wilayah Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan kawasan yang sebelumnya terdampak bencana berada di wilayah dengan tingkat kerentanan gerakan tanah menengah. Selain itu, daerah tersebut juga termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) I Gunungapi Talang.
Secara geologi, kawasan bagian hilir Arosuka didominasi endapan vulkanik muda, batu apung, tuf, dan material lahar yang belum sepenuhnya mengalami konsolidasi.
Lana menjelaskan, karakteristik material tersebut membuat kawasan relatif rentan ketika menerima hujan dengan intensitas tinggi. Batuan dan tanah yang memiliki porositas tinggi dapat menyerap air dalam jumlah besar hingga menjadi jenuh, sehingga meningkatkan risiko terjadinya pergerakan massa tanah.
"Material vulkanik yang masih lepas serta lapisan tanah pelapukan yang cukup tebal di bagian hulu dapat menjadi sumber sedimen. Material tersebut sewaktu-waktu dapat terbawa aliran dan berkembang menjadi lahar maupun banjir bandang," ujarnya.
Risiko semakin besar karena sejumlah lembah sungai di kawasan tersebut memiliki bentuk V dengan kemiringan cukup terjal. Kondisi ini membuat air permukaan dari berbagai arah terkonsentrasi menuju bagian hilir.
Badan Geologi juga menemukan masih terdapat material dalam jumlah tertentu di lereng bagian atas yang berpotensi mengalami pergerakan apabila hujan yang turun lebih besar dibandingkan kemampuan tanah dalam menyerap air.
Untuk mengurangi risiko, edukasi dan sosialisasi mengenai kesiapsiagaan menghadapi bencana geologi kepada masyarakat yang bermukim di sepanjang daerah aliran sungai dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Banjir Bandang Dipicu Longsoran di Hulu
Berdasarkan hasil penyelidikan sebelumnya, Badan Geologi menyebut banjir bandang yang melanda Arosuka pada 21 September terjadi akibat perpaduan antara hujan berintensitas tinggi dan material longsor yang menyumbat aliran sungai di kawasan hulu lereng bagian barat Gunung Talang.
Bencana tersebut menimbulkan korban jiwa dan kerusakan sejumlah infrastruktur. Peristiwa bermula dari longsoran di bagian hulu setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras selama dua hari.
Material longsor yang terdiri atas tanah, batuan vulkanik, serta bongkahan andesit berdiameter sekitar 2 hingga 3 meter kemudian masuk ke badan sungai. Material tersebut menumpuk di titik pertemuan dua lembah utama.
Tumpukan material itu diperkirakan membentuk bendungan alami yang menahan aliran air di bagian hulu. Akibatnya, air terakumulasi dalam jumlah besar sebelum akhirnya menerobos dan mengalir deras ke bagian bawah.
Besarnya perbedaan elevasi antara kawasan hulu dan hilir, yang mencapai sekitar 1.325 meter, turut memperkuat daya dorong aliran. Kondisi topografi tersebut menghasilkan energi gravitasi yang besar ketika air dan material bergerak menuju wilayah lebih rendah.
Kajian Badan Geologi juga menunjukkan material piroklastik serta tanah hasil pelapukan di lereng Gunung Talang belum terkonsolidasi secara kuat. Material tersebut relatif mudah terkikis dan terbawa aliran ketika kandungan air meningkat.
Sementara itu, jaringan sungai di Arosuka memiliki pola yang saling bertemu atau konvergen. Kondisi tersebut membuat aliran dari sejumlah anak sungai berkumpul dan akhirnya meluap ke kawasan hilir hingga sekitar 8 kilometer dari titik longsor di bagian hulu.(da*)


