Padang, Rakyatterkini.com – Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand), Refa Rahmaddiansyah, berhasil meraih medali emas dalam kategori Novice Innovation pada ajang The 16th Symposium on Innovation and Creativity (SIC) 2026 yang digelar oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Perlis, Malaysia.
Kompetisi inovasi berskala internasional yang berlangsung secara hybrid tersebut menjadi wadah bagi peneliti, akademisi, mahasiswa, dan para inovator untuk mempresentasikan berbagai ide kreatif. Pada penyelenggaraan tahun ini, tercatat sebanyak 127 inovasi dari berbagai peserta turut berkompetisi, termasuk gagasan yang diusung Refa dari Indonesia.
Dalam ajang tersebut, Refa memperkenalkan konsep pengembangan nanopartikel dengan memanfaatkan bahan alam khas Sumatera Barat, yakni ekstrak gambir dan dadih, yang dipadukan dengan bahan aktif dari oat.
Inovasi ini dirancang sebagai kandidat terapi pendamping untuk menangani keloid, yaitu kondisi pertumbuhan jaringan parut pada kulit yang penanganannya masih menghadapi sejumlah tantangan.
Refa menjelaskan, pemanfaatan sumber daya alam lokal menjadi salah satu landasan utama dalam pengembangan ide tersebut. Gambir dikenal sebagai komoditas unggulan Sumatera Barat yang memiliki kandungan senyawa bioaktif.
Sementara itu, dadih sebagai produk fermentasi tradisional juga dinilai memiliki peluang untuk diteliti lebih jauh dalam bidang kesehatan.
Kedua bahan tersebut kemudian diintegrasikan ke dalam konsep teknologi nanopartikel. Pengembangan ini diharapkan dapat membuka peluang penelitian lanjutan, khususnya terkait ilmu dermatologi dan teknologi penghantaran bahan aktif untuk kebutuhan medis.
Kategori Novice Innovation merupakan ajang bagi peserta yang mengajukan ide atau konsep inovasi pada tahap awal pengembangan. Dalam kategori ini, peserta belum diwajibkan menghadirkan prototipe yang sepenuhnya berfungsi. Gagasan dapat disampaikan melalui sketsa, model, simulasi, maket, maupun prototipe awal sebagai gambaran konsep yang ditawarkan.
Refa mengikuti presentasi secara daring di hadapan dewan juri dan peserta dari berbagai negara. Setelah melewati seluruh tahapan penilaian, hasil kompetisi diumumkan pada 15 Oktober 2026. Dalam pengumuman tersebut, Refa dinyatakan meraih medali emas untuk kategori Novice Innovation.
Bagi Refa, penghargaan ini tidak sekadar menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan potensi bahan alam Sumatera Barat dalam pengembangan inovasi di sektor kesehatan pada tingkat internasional.
“Saya sangat bersyukur bisa membawa gagasan ini ke forum ilmiah internasional. Bagi saya, penghargaan ini menjadi motivasi untuk melanjutkan ide tersebut ke tahap penelitian yang lebih konkret,” ujar Refa, Jumat (16/10/2026).
Ia berharap konsep yang telah dipresentasikan dapat dilanjutkan melalui serangkaian penelitian ilmiah yang terarah. Dengan demikian, gagasan tersebut tidak hanya berhenti sebagai karya dalam kompetisi, tetapi juga berpeluang untuk diuji lebih lanjut dan dikembangkan menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat.
Partisipasi Refa dalam SIC 2026 sekaligus menandai langkahnya dalam mengembangkan inovasi di bidang kesehatan kulit dengan memanfaatkan bahan alam. Melalui pendekatan tersebut, ia berupaya menghubungkan kekayaan sumber daya lokal dengan kemajuan teknologi kedokteran untuk membuka peluang pengembangan solusi kesehatan di masa mendatang.(da*)


