Notification

×

Iklan

Teater Bala Bhumi Angkat Isu Kerusakan Lingkungan

Selasa, 01 September 2026 | 01:16 WIB Last Updated 2026-08-31T18:16:00Z

Aktor Komunitas Seni Hitam-Putih melakukan proses latihan teater Bala

Padang Panjang, Rakyatterkini.com — Persoalan kerusakan lingkungan yang dipicu aktivitas manusia menjadi tema utama dalam pementasan teater kontemporer Bala Bhumi. Komunitas Seni Hitam-Putih Sumatera Barat akan menampilkan karya tersebut di Taman Budaya Sumatera Barat, Rabu (2/9/2026).

Karya ini digarap oleh Afrizal Harun yang bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara. Dalam berbagai karya teaternya, Afrizal dikenal konsisten membawa isu eksploitasi alam, kehancuran ekosistem, hingga keserakahan manusia sebagai bahan refleksi.

Menurut Afrizal, Bala Bhumi lahir dari kegelisahannya melihat persoalan lingkungan yang semakin berkembang menjadi persoalan kemanusiaan. Dampak kerusakan alam, kata dia, tidak lagi terbatas pada lingkungan, tetapi telah dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat.

“Ancaman lingkungan kini menjadi risiko yang sangat besar karena dampaknya luas dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujar Afrizal saat menjelaskan konsep karya tersebut, Senin (31/8/2026).

Dalam penggarapannya, Bala Bhumi menghadirkan perpaduan antara kekayaan tradisi Minangkabau dan pendekatan teater kontemporer. Filosofi pamenan Minangkabau, yakni pamenan kato atau permainan kata, pamenan mato yang menekankan unsur visual, serta pamenan talingo atau permainan pendengaran, dipadukan dengan dramaturgi teater pascadramatik.

Afrizal menjelaskan, konsep tersebut membuat teks tidak ditempatkan sebagai aturan pertunjukan yang bersifat kaku. Sebaliknya, teks menjadi pijakan bagi aktor untuk melakukan berbagai eksplorasi selama proses kreatif.

Eksplorasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui gerak tubuh yang menirukan satwa liar, mulai dari orang utan, gorila, simpanse, harimau, hingga burung. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan kembali hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya serta pentingnya menjaga keseimbangan alam.

Gerakan para pemain juga terinspirasi dari tari tradisional Minangkabau Ulu Ambek dan tarian Haka dari masyarakat Maori di Selandia Baru. Unsur tersebut digunakan sebagai simbol keberanian sekaligus bentuk perlawanan terhadap tindakan yang merusak lingkungan.

Setelah pertunjukan berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bertema “Kerusakan Lingkungan dan Bencana Ekologis”. Forum tersebut menghadirkan Khalid Saifullah, aktivis lingkungan yang selama ini terlibat dalam advokasi persoalan konflik sumber daya alam. Ia juga dipercaya sebagai dewan pengarah Forum Pengurangan Risiko Bencana Sumatera Barat.

Khalid menyoroti berbagai bencana yang terjadi di Sumatera Barat, seperti banjir dan longsor. Menurutnya, sejumlah kejadian tersebut tidak tepat jika hanya dipandang sebagai bencana alam, karena terdapat faktor kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Pembalakan liar, perubahan fungsi lahan perkebunan, serta kegiatan pertambangan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan disebut turut memperbesar risiko bencana. Pandangan tersebut memperkuat pesan yang dibawa Bala Bhumi, yakni bahwa kerusakan dan bencana dapat menjadi konsekuensi dari keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam.

Pementasan ini merupakan salah satu karya yang berhasil lolos dalam Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan 2026 yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat.

Pelaksanaan kegiatan turut mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat melalui Taman Budaya Sumatera Barat, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang, serta Rumah Kreatif Affan.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Syaiful Bahri, menyampaikan bahwa pemerintah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi komunitas seni untuk membangun kolaborasi. Ia menilai perkembangan kesenian membutuhkan kerja sama lintas lembaga agar karya yang lahir tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid menilai fasilitas kebudayaan perlu dimanfaatkan secara maksimal sebagai ruang bertemunya gagasan-gagasan kritis. Menurutnya, seni dapat menjadi medium untuk menghubungkan kreativitas dengan berbagai persoalan nyata, termasuk isu lingkungan dan kehidupan masyarakat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update
-->