Notification

×

Iklan

Taman Bacaan Muda Nama Bertahan di Era Digital

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48 WIB Last Updated 2026-09-12T12:48:00Z

Puluhan Tahun Bertahan, Pak Erianes Tak Bisa Tinggalkan Kios Buku di Padang Theater

Padang, Rakyatterkini.com – Di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam menikmati bacaan, Pak Erianes masih setia menjaga kios Taman Bacaan Muda Nama di kawasan Padang Theater, Pasar Raya Padang. Setiap pagi, pria berusia 64 tahun itu datang membuka kios yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak usia 18 tahun.

Suasana di sekitar kios kini jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Pengunjung yang datang untuk membaca maupun membeli buku semakin sedikit. Meski demikian, bagi Pak Erianes, meninggalkan kios dan koleksi buku yang selama puluhan tahun dirawatnya bukanlah pilihan mudah.

“Jadi kalau ini (kios buku) ditinggalkan aja umpamanya, dak senang hati tu rasanya. Buku-buku ini harus dirawat,” ungkapnya.

Pak Erianes lahir di Maninjau pada 9 September 1962. Ketika berusia dua tahun, ia bersama keluarganya pindah ke Padang. Ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta pada 1984–1985, namun hanya bertahan selama dua semester.

Setelah itu, perjalanan hidupnya lebih banyak dihabiskan bersama buku-buku di kawasan Padang Theater. Kios yang dikelolanya menyediakan beragam bacaan, seperti komik, novel, majalah, koran, hingga buku pelajaran.

Pada masa kejayaannya, komik menjadi salah satu bacaan favorit anak-anak sekolah. Berbagai judul populer seperti Naruto, Doraemon, Tsubasa dan Conan pernah menghiasi rak-rak taman bacaan tersebut.

“Kalau dulu sebelum tahun 80-an sampai 2000-an ramai, anak-anak sekolah cabut ke sini baca komik. Sampai masuk HP ini dak ada lagi,” tutur Pak Eri saat ditemui.

Perkembangan teknologi dan perubahan pola membaca turut memengaruhi kondisi taman bacaan di kawasan belakang Padang Theater. Jika dahulu terdapat sejumlah taman bacaan yang ramai dikunjungi, kini hampir seluruhnya telah menghilang.

“Ramai dulu di belakang tu, ada banyak taman bacaan, sekarang udah gak ada, cuma bapak sendiri yang bertahan,” katanya.

Meski jumlah pembaca terus berkurang, Pak Erianes tetap merawat buku-buku yang masih tersimpan. Sebagian koleksi bahkan berasal dari pemberian teman-temannya yang sudah tidak lagi membutuhkan buku tersebut.

“Teman-teman yang lain sering bawa buku-buku yang gak dipakai, daripada dak terpakai atau terbuang, bawak aja kemari. Saling bantu aja,” ujarnya.

Harga buku dan komik yang dijualnya cukup beragam, mulai dari Rp5.000 sampai Rp35.000. Harganya menyesuaikan jenis, kondisi, serta ketebalan buku. Bagi pengunjung yang ingin membaca komik di tempat, Pak Erianes juga menyediakan layanan sewa dengan tarif sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000 per buku.

Pembaca dapat menikmati bacaan sambil duduk di kursi kayu panjang yang berada di depan kios.

Tak hanya menjual buku, Pak Erianes juga berusaha memanfaatkan kembali koran dan majalah lama. Ia menggunting artikel-artikel tertentu, kemudian mengelompokkannya berdasarkan tema. Potongan artikel tersebut selanjutnya dijual seharga Rp2.000 per lembar.

Untuk buku-buku keluaran terbaru, kiosnya kini tidak lagi menerima banyak pasokan.

“Yang baru-baru dak ada do, yang lama-lama aja ada. Yang baru dak ada masuk,” katanya.

Kesunyian yang kini terasa di kawasan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang yang dilalui Pak Erianes. Ia mengingat kawasan Padang Theater pernah mengalami kebakaran dua kali, yakni pada 1974 dan sekitar dekade 1980-an.

Setelah melalui masa pembangunan kembali, kawasan itu kembali menggeliat pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Aktivitas dan jumlah pengunjung masih cukup terasa sampai sekitar 2006. Namun, seiring semakin luasnya penggunaan telepon genggam, minat masyarakat untuk datang membaca di taman bacaan perlahan menurun.

Meski begitu, Pak Erianes tidak menjadikan sepinya pengunjung sebagai alasan untuk berhenti. Ia tetap membuka kiosnya setiap hari seperti yang telah dilakukan selama bertahun-tahun.

“Biasa aja, kalau ada yang tanya gimana sepi, biasa aja, gak usah dipikirin, plong aja,” ujarnya sambil tertawa.

Keinginannya untuk terus bertahan juga tidak terlepas dari rasa memiliki terhadap kios dan buku-buku yang telah menjadi bagian dari kehidupannya. Sekitar tahun 2000, ia memutuskan membeli kios tersebut agar tidak lagi harus menyewa tempat.

“Ada duit, kita cari aman aja, ngontrak-ngontrak kita bayar, nanti bisa disepak orang,” tuturnya.

Kini, kios itu sepenuhnya menjadi miliknya. Setiap pagi sekitar pukul 09.00 WIB, ia mulai membuka kios dan menjalankan aktivitas hingga waktu Ashar. Sekitar pukul 16.00 WIB, kios kembali ditutup dan ia pulang.

Pak Erianes tidak lagi memasang target besar dari keberadaan kios tersebut. Baginya, bisa tetap membuka tempat itu dan merawat buku-buku yang tersisa sudah cukup.

“Kalau ada yang datang Alhamdulillah, gak ada juga ya gapapa, gak banyak dipikirin, tu biar plong. Buka pagi, Ashar tutup, terus pulang,” katanya.

Puluhan tahun berlalu, wajah kawasan Padang Theater berubah, begitu pula cara masyarakat memperoleh dan menikmati bacaan. Namun, di tengah perubahan tersebut, Pak Erianes masih memilih berada di tempat yang sama.

Ia tetap membuka kios, merawat koleksi lama dan menunggu siapa saja yang datang untuk sekadar membaca, mencari buku, atau membeli bacaan.

“Memang dasarnya gak bisa bapak tinggal (kios buku) ini,” kata Erianes lirih.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update