Padang, Rakyatterkini.com – Film horor terbaru produksi DHF Entertainment, Urang Bunian, mulai diputar secara serentak di jaringan bioskop Indonesia pada 13 September 2026. Film garapan sutradara Rendy Herpy tersebut mengangkat mitologi lokal Minangkabau sebagai bagian utama dalam cerita.
Antusiasme penonton terlihat sejak hari pertama penayangan. Salah satunya di Bioskop XXI Basko City Mall Padang, yang menggelar acara nonton bersama dan dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, Bundo Kanduang, serta anak nagari Koto Nan Ampek, Kota Payakumbuh.
Kehadiran tokoh adat tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap film yang mengangkat unsur budaya, adat, dan legenda mistis yang berkembang di tengah masyarakat Minangkabau.
Film ini mengikuti perjalanan Teddy (Dimas Aditya), seorang prajurit TNI yang hendak menuju kampung halaman istrinya, Annisa, di Sumatera Barat. Ia melakukan perjalanan bersama sahabatnya, Kevin (Fauzan Nasrul), dengan menggunakan jalur darat menuju wilayah pedalaman.
Masalah muncul setelah keduanya memilih mengabaikan imbauan warga setempat agar tidak melanjutkan perjalanan pada malam hari. Teddy dan Kevin tetap memutuskan untuk berangkat hingga akhirnya memasuki kawasan hutan terlarang yang dipercaya menjadi tempat tinggal Urang Bunian.
Perjalanan mereka kemudian berubah menjadi pengalaman penuh teror. Hutan tersebut digambarkan seperti memiliki kehidupan sendiri, dengan kondisi yang membuat mereka terus kembali ke tempat yang sama. Berbagai suara misterius, penampakan, hingga gangguan terhadap pikiran membuat keduanya harus berjuang mempertahankan keselamatan sekaligus kewarasan.
Ketegangan semakin meningkat ketika Mak Datuak, paman Annisa, berusaha memasuki alam mistis untuk mencari dan menyelamatkan Teddy serta Kevin. Tokoh tersebut diperankan langsung oleh Anton Permana Dt. Hitam, Niniak Mamak Koto Nan Ampek, Kota Payakumbuh.
Kehadiran Anton Permana tidak hanya memperkuat sisi heroik cerita, tetapi juga memberikan sentuhan budaya Minangkabau yang lebih kental dalam film tersebut.
Respons positif pun datang dari penonton setelah pemutaran film. Dina, salah seorang penonton, mengaku ikut merasakan ketegangan hampir sepanjang film.
“Dari awal sampai akhir tegang banget. Suasana hutannya terasa nyata dan beberapa adegannya benar-benar bikin kaget,” kata Dina.
Apresiasi juga disampaikan Bundo Kanduang Nagari Koto Nan Ampek, Wulan Denura. Ia menilai Urang Bunian tidak semata-mata menghadirkan unsur horor, tetapi turut menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga budaya dan menghargai kearifan lokal.
“Ceritanya kuat karena memadukan mitologi Minangkabau dengan pesan adat supaya kita tetap menghormati kearifan lokal,” ujar Wulan Denura.
Sementara itu, Ami menyoroti aspek visual dan musik yang dinilainya berhasil membangun atmosfer mistis selama film berlangsung.
“Scoring musik dan visualnya sangat mendukung. Suasananya benar-benar terasa dan membuat merinding,” ungkap Ami.(da*)


