Notification

×

Iklan

Bapanas Siapkan Distribusi Cabai ke Daerah Defisit

Senin, 14 September 2026 | 03:48 WIB Last Updated 2026-09-13T20:48:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah untuk memperlancar penyaluran cabai rawit dari daerah yang memiliki kelebihan produksi ke wilayah yang mengalami kekurangan pasokan. Kebijakan tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan sekaligus meredam kenaikan harga cabai di pasar.

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah terus berupaya mengatasi perubahan harga cabai rawit dengan menggerakkan stok dari daerah surplus menuju wilayah yang mengalami defisit.

Menurut Ketut, salah satu mekanisme yang dapat digunakan adalah program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Pelaksanaannya akan dilakukan bersama petani Champion Cabai yang selama ini mendapat pembinaan dari Kementan. Skema tersebut dinilai dapat membantu mengendalikan harga cabai di berbagai daerah.

Ia menegaskan, penanganan fluktuasi harga perlu dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu, Bapanas akan memperkuat koordinasi dengan Kementan untuk menentukan daerah yang membutuhkan dukungan distribusi melalui FDP.

Ketut mencontohkan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang saat ini menghadapi perubahan kondisi harga dan pasokan cabai rawit. Situasi tersebut dinilai perlu segera mendapatkan respons agar tidak berkembang menjadi gejolak harga yang lebih besar.

Bapanas, lanjut dia, akan kembali berkoordinasi dengan Kementan untuk memetakan wilayah yang memiliki stok cukup dan daerah yang membutuhkan tambahan pasokan.

Petani yang tergabung dalam program Champion Cabai juga dinilai memiliki posisi strategis dalam upaya menjaga stabilitas harga. Melalui kerja sama tersebut, cabai dari daerah dengan harga relatif rendah dapat dikirim ke wilayah yang harga jualnya sedang meningkat.

Ketut mengatakan pola distribusi serupa dapat dilakukan dengan memanfaatkan daerah di luar Pulau Jawa yang masih memiliki harga cabai relatif terjangkau. Petani Champion Cabai nantinya dapat dilibatkan untuk membantu mengirimkan komoditas tersebut ke daerah yang mengalami kenaikan harga.

Berdasarkan data Bapanas, pelaksanaan FDP untuk komoditas cabai rawit pada triwulan I 2026 telah mencapai 5.590 kilogram. Rinciannya, sebanyak 3.150 kilogram cabai rawit dikirim dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

Selain itu, sebanyak 1.140 kilogram cabai rawit disalurkan ke Kabupaten Lombok Tengah dan 1.300 kilogram lainnya dikirim ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Distribusi tersebut juga disebut memberikan kontribusi terhadap pengendalian inflasi. Pada April 2026, inflasi tercatat mengalami penurunan, termasuk pada kelompok pangan bergejolak atau volatile food.

Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan, Sudi Mardianto, menyampaikan bahwa ketersediaan produksi cabai rawit nasional diperkirakan masih mencukupi hingga penghujung 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat menjaga kebutuhan masyarakat di sejumlah daerah.

Sudi memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada September mencapai sekitar 119 ribu ton. Volume produksi tersebut menjadi salah satu penopang untuk mempertahankan ketersediaan pasokan dalam beberapa bulan ke depan.

Di Jawa Timur, misalnya, terdapat sekitar 1.486 hektare tanaman cabai rawit yang siap memasuki masa panen di Banyuwangi. Potensi tersebut diperkirakan dapat mendorong tambahan produksi secara bertahap.

Kabupaten Sampang juga memiliki areal cabai rawit sekitar 1.691 hektare. Produksi dari wilayah tersebut mulai menunjukkan peningkatan dan diperkirakan mencapai sekitar 5.000 ton sebagai tambahan pasokan nasional.

Adapun sejumlah sentra cabai rawit di Pulau Jawa masih berada di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Namun, sebagian tanaman di wilayah tersebut masih dalam tahap awal pertumbuhan sehingga belum seluruhnya memasuki masa panen.

Kementan berharap peningkatan produksi dari berbagai sentra tersebut dapat membantu mengantisipasi potensi kenaikan harga cabai rawit menjelang periode Natal dan Tahun Baru 2026/2027.

Sudi juga menyebut petani cabai rawit yang menjadi binaan Kementan siap dilibatkan dalam FDP. Mereka akan membantu memastikan pasokan dapat bergerak dari daerah produksi tinggi menuju wilayah yang mengalami peningkatan harga.

Dengan distribusi tersebut, pemerintah berharap ketimpangan pasokan antardaerah dapat dikurangi, gejolak harga ditekan, serta kebutuhan cabai rawit masyarakat tetap terpenuhi.

Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga cabai merah besar tercatat Rp54.200 per kilogram. Cabai merah keriting berada di level Rp62.950 per kilogram, cabai rawit hijau Rp64.700 per kilogram, sedangkan cabai rawit merah mencapai Rp90.050 per kilogram.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update