Solsel, Rakyatterkini.com – Masyarakat Solok Selatan memiliki tradisi khas dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, salah satunya Maarak Bungo Lamang. Tradisi ini berupa kegiatan mengarak lamang yang telah dihias dengan beragam ornamen, mulai dari bunga kertas beraneka warna, layang-layang hingga berbagai miniatur.
Maarak Bungo Lamang menjadi perpaduan antara nilai keagamaan dan kebudayaan masyarakat setempat. Hiasan yang penuh warna menggambarkan kegembiraan warga dalam menyambut Maulid Nabi. Selain itu, prosesi badikia yang disertai lantunan rebana turut memberikan suasana religius selama kegiatan berlangsung.
Hasil penelitian Dendi Chairi dan Susas Rita Loravianti dari Institut Seni Indonesia Padangpanjang mengungkapkan bahwa tradisi Maarak Bungo Lamang mengandung sejumlah nilai penting, yakni religius, sosial, dan estetika.
Unsur religius tampak melalui pelaksanaan peringatan Maulid Nabi sekaligus sebagai wujud kecintaan masyarakat terhadap Rasulullah SAW. Sementara nilai sosial tercermin dari semangat kebersamaan dan gotong royong warga, terutama ketika menyiapkan bungo lamang hingga melaksanakan prosesi arak-arakan.
Dari sisi estetika, keindahan terlihat melalui pemanfaatan bunga kertas dengan warna-warni cerah serta beragam miniatur yang dipasang pada lamang. Ornamen tersebut bukan sekadar mempercantik tampilan, tetapi juga menjadi simbol penghormatan kepada Nabi melalui karya yang bernilai keindahan.
Upaya mempertahankan tradisi ini juga mulai ditanamkan kepada generasi muda melalui kegiatan di lingkungan pendidikan. Salah satunya dilakukan SDN 18 Sungai Ipuh yang menggelar Maarak Bungo Lamang pada Kamis (27/8/2026), usai pelaksanaan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mengenakan pakaian Muslim dan membawa bungo lamang masing-masing. Mereka kemudian mengikuti arak-arakan secara beriringan melewati lingkungan sekolah hingga ruas jalan di kawasan nagari.
Kemeriahan kegiatan terlihat dari antusiasme para siswa yang ikut ambil bagian dalam prosesi tersebut. Tidak hanya menjadi peserta, mereka juga mendapatkan pengalaman langsung dalam mengenal salah satu tradisi budaya yang berkembang di daerah mereka.
Kepala SDN 18 Sungai Ipuh, Dola Dianita, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah memperkenalkan adat serta tradisi keagamaan lokal kepada anak-anak sejak dini.
Menurutnya, pengenalan budaya lokal penting dilakukan agar nilai-nilai tersebut tetap melekat pada generasi muda dan tidak hilang akibat perubahan zaman.
“Alasan utamanya adalah memperkenalkan dan menanamkan nilai adat dan tradisi keagamaan lokal kepada peserta didik sejak usia dini agar tidak tergerus dengan perkembangan zaman,” ujar Dola Dianita.
Pelaksanaan kegiatan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai unsur. Guru, siswa, orang tua atau wali murid, komite sekolah, tokoh masyarakat hingga pihak jorong turut terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan Maarak Bungo Lamang.
Proses pembuatan dan penghiasan bungo lamang dilakukan secara bersama-sama sebelum prosesi arak-arakan dimulai. Keterlibatan berbagai pihak tersebut sekaligus memperkuat nilai kebersamaan yang menjadi bagian penting dari tradisi tersebut.
Bagi para siswa, Maarak Bungo Lamang menjadi pengalaman untuk memahami budaya daerah secara lebih dekat. Mereka dapat menyaksikan sekaligus ikut menjalankan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi di tengah masyarakat Solok Selatan.
Dola Dianita berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan sehingga generasi muda tidak hanya mengenal budaya daerah, tetapi juga memiliki rasa bangga terhadap warisan tradisi yang dimiliki daerahnya.
Ia menilai keberlanjutan tradisi Maarak Bungo Lamang membutuhkan keterlibatan generasi muda. Dengan pengenalan sejak usia sekolah, tradisi tersebut diharapkan tetap terjaga dan terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Solok Selatan di masa mendatang.(da*)


