Notification

×

Iklan

Kemenkes Percepat Pemulihan RS di NTT

Senin, 17 Agustus 2026 | 23:59 WIB Last Updated 2026-08-17T16:59:00Z

Rumah Sakit Lapangan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT)

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tetap mendapatkan pelayanan medis sekaligus mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien dalam beberapa hari mendatang.

Fokus utama Kemenkes saat ini adalah mengembalikan operasional rumah sakit dan puskesmas yang terdampak. Untuk mendukung penanganan, Kemenkes telah mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC), menurunkan tim manajemen krisis kesehatan dan Emergency Medical Team (EMT), serta menyiapkan rumah sakit lapangan beserta kebutuhan logistik medis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa pemulihan rumah sakit menjadi prioritas agar fasilitas kesehatan di daerah terdampak dapat kembali memberikan pelayanan. Pemerintah menargetkan rumah sakit daerah yang terdampak sudah mampu menjalankan layanan dasar dalam waktu maksimal satu pekan.

“Targetnya dalam waktu paling lama satu minggu, seluruh RSUD terdampak sudah bisa menjalankan operasional dasar. Prioritas diberikan untuk pelayanan penting seperti operasi trauma, layanan ibu dan anak, serta hemodialisa,” kata Budi dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Laporan situasi hingga 15 Agustus 2026 mencatat gempa berdampak pada delapan kabupaten/kota di NTT. Wilayah tersebut meliputi Sikka, Ende, Manggarai Timur, Nagekeo, Manggarai Barat, Manggarai, Ngada, dan Flores Timur.

Dua fasilitas kesehatan yang saat ini mendapat perhatian khusus adalah RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. Untuk memperkuat pelayanan di kedua lokasi tersebut, Kemenkes mengerahkan rumah sakit lapangan yang memiliki fasilitas operasi serta tim EMT pada 16 Agustus 2026.

Menurut Budi, kondisi terparah sementara ditemukan di RSUD Nagekeo dan RSUD Ruteng. Tim medis yang dikirim mencakup dokter spesialis bedah, anestesi, dan tenaga medis bidang kegawatdaruratan.

Khusus RSUD Nagekeo yang mengalami kerusakan cukup berat, Kemenkes menjadwalkan pengiriman satu unit RS Mobil pada Senin (17/8/2026). Fasilitas tersebut dilengkapi ruang operasi untuk menjaga pelayanan dasar dan penanganan kasus darurat tetap tersedia selama proses pemulihan.

Sementara untuk memperkuat sistem rujukan, RSUD Borong dan RSUD Komodo dipersiapkan sebagai rumah sakit tujuan bagi pasien dari Nagekeo yang membutuhkan penanganan lanjutan. RSUD Borong memiliki target waktu rujukan selama dua jam melalui program Quick Win, sedangkan RSUD Komodo ditargetkan dapat menerima rujukan dalam waktu empat jam.

190 Puskesmas Ikut Terdampak

Tidak hanya rumah sakit, Kemenkes juga mempercepat pemulihan puskesmas yang terdampak. Seluruh puskesmas yang mengalami kerusakan ditargetkan setidaknya mampu kembali memberikan pelayanan dasar dalam waktu maksimal dua pekan.

Pelayanan untuk ibu hamil, persalinan, serta imunisasi menjadi beberapa layanan yang diprioritaskan agar kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terlayani selama masa tanggap dan pemulihan.

Untuk memperkuat koordinasi penanganan, HEOC telah diaktifkan di sembilan lokasi. Satu unit berada pada tingkat pusat/provinsi, sementara delapan lainnya ditempatkan di kabupaten/kota yang terdampak gempa.

Kemenkes juga mengirimkan dua Tim Manajemen Krisis Kesehatan ke Sikka dan Ende. Selain itu, dua tim EMT diterjunkan untuk memperkuat pelayanan medis di wilayah terdampak.

Dukungan logistik kesehatan turut disalurkan pada 16 Agustus 2026. Bantuan tersebut berupa delapan paket obat dasar, lima paket Emergency Kit, 1.000 sarung tangan steril, 20.000 sarung tangan nonsteril, 20.000 masker bedah, 10 unit oksigen konsentrator, serta dua unit tenda pos kesehatan.

Sebanyak delapan tenda tambahan juga disiapkan sebagai dukungan pelayanan medis di lapangan.

Berdasarkan data hingga 15 Agustus 2026, dari 21 rumah sakit yang terdampak, sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi penuh. Empat rumah sakit menjalankan pelayanan secara terbatas, sedangkan satu rumah sakit belum dapat beroperasi.

Dari tingkat kerusakan, tiga rumah sakit tercatat mengalami kerusakan berat dan enam lainnya rusak ringan. Sebanyak 12 rumah sakit tidak mengalami kerusakan pada struktur bangunan.

Untuk puskesmas, dari total 190 fasilitas yang terdampak, sebanyak 122 masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum dapat memberikan pelayanan.

Kerusakan tercatat pada 20 puskesmas dengan kategori berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan. Sementara itu, 116 puskesmas lainnya tidak mengalami kerusakan.

Dalam proses pemulihan, Kemenkes terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, dinas kesehatan kabupaten/kota, BNPB, serta Basarnas. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan tenaga medis, obat-obatan, alat kesehatan, dan berbagai fasilitas pendukung tersedia sesuai kebutuhan.

Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan tetap mempertahankan layanan kesehatan dasar. Di saat yang sama, kapasitas fasilitas kesehatan terus diperkuat agar mampu menghadapi kemungkinan meningkatnya kebutuhan pelayanan medis pascagempa.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update