Padang, Rakyatterkini.com – Realisasi investasi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) pada Semester I Tahun 2026 mencapai Rp7,59 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 12,71 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat Rp6,73 triliun.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sumbar mencatat total investasi yang berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), serta Usaha Mikro Kecil (UMK) mencapai Rp7.590.787.094.806. Dibandingkan Semester I Tahun 2025, nilai investasi meningkat sekitar Rp855,99 miliar.
Kepala DPMPTSP Sumbar, Luhur Budianda, mengatakan hingga akhir Juni 2026 realisasi investasi tersebut telah memenuhi 59,07 persen dari target yang ditetapkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM RI sebesar Rp12,85 triliun.
Ia menjelaskan, jika mengacu pada target Semester I yang tercantum dalam RPJMD, Renstra DPMPTSP, dan Perjanjian Kinerja Kepala Perangkat Daerah, capaian investasi bahkan telah melampaui sasaran. Realisasi investasi mencapai 141,40 persen dari target semester atau setara 63,63 persen dari target tahunan sebesar Rp11,93 triliun.
Peningkatan investasi juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Selama Triwulan II Tahun 2026, sebanyak 3.964 proyek investasi berhasil menyerap 2.037 tenaga kerja Indonesia dan 34 tenaga kerja asing. Secara akumulatif hingga Semester I Tahun 2026, jumlah proyek investasi mencapai 8.146 dengan penyerapan 4.244 tenaga kerja Indonesia serta 43 tenaga kerja asing.
Menurut Luhur, hasil tersebut menunjukkan bahwa berbagai langkah yang dilakukan pemerintah daerah dalam memperbaiki layanan investasi mulai memberikan hasil yang positif.
Ia menegaskan pihaknya akan terus meningkatkan kualitas pelayanan perizinan, mempermudah proses investasi bagi pelaku usaha, serta memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota agar target investasi sepanjang 2026 dapat tercapai, bahkan melampaui sasaran yang telah ditetapkan.
Berdasarkan laporan DPMPTSP Sumbar, kontribusi investasi terbesar masih berasal dari PMA dengan nilai Rp2,88 triliun atau sekitar 37,97 persen dari total investasi. Sementara PMDN menyumbang Rp2,59 triliun atau 34,07 persen, sedangkan investasi dari sektor UMK mencapai Rp2,13 triliun atau sekitar 27,99 persen dari keseluruhan realisasi investasi.(da*)


