Notification

×

Iklan

Harga Emas Melemah, Investor Menanti Sinyal Kebijakan The Fed

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:29 WIB Last Updated 2026-08-28T05:29:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com — Harga emas mengalami tekanan setelah sebelumnya sempat mencapai US$4.700 per troy ounce. Pada perdagangan Rabu (26/8/2026), investor memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) yang menjadi salah satu pertimbangan penting Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Hingga pukul 16.08 WIB, harga emas di pasar spot tercatat turun ke level US$4.619,53 per troy ounce. Adapun harga emas berjangka melemah menjadi US$4.674,51 per ounce.

Dengan penurunan tersebut, emas berpotensi mengakhiri reli yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.

Meski demikian, pelemahan harga minyak dunia memberikan sedikit sentimen positif bagi logam mulia. Harga minyak mentah turun di bawah US$90 per barel seiring munculnya laporan mengenai perkembangan diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Harga Minyak Turun Beri Dukungan bagi Emas

Iran dan Oman dilaporkan tengah membahas pembentukan "temporary joint maritime corridor". Jalur tersebut diharapkan dapat memungkinkan sebagian aktivitas pelayaran kembali melewati Selat Hormuz.

Di sisi lain, media Rusia memberitakan adanya kemungkinan Amerika Serikat dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata baru dalam beberapa hari ke depan.

Pergerakan harga minyak menjadi salah satu perhatian pelaku pasar emas karena energi memiliki kaitan erat dengan inflasi. Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi sehingga berpotensi mendorong The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Situasi suku bunga tinggi biasanya menjadi tantangan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan pendapatan berupa bunga. Investor dapat lebih memilih instrumen yang menawarkan imbal hasil ketika tingkat suku bunga berada pada level tinggi.

Sebaliknya, turunnya harga energi berpeluang mengurangi tekanan inflasi. Kondisi tersebut dapat membuka kemungkinan bagi bank sentral untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar, yang pada akhirnya berpotensi mendukung harga emas.

Pasar Menanti Data PCE dan Pidato Kevin Warsh

Perhatian pelaku pasar berikutnya mengarah pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).

PCE menjadi salah satu ukuran inflasi yang diperhatikan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Berdasarkan data Juli 2026 yang dirilis Rabu, inflasi PCE secara tahunan berada di 3,7 persen, sedangkan inflasi inti PCE tercatat sebesar 3,3 persen.

Pidato Warsh juga menjadi sorotan karena menjadi penampilan utama pertamanya sebagai Ketua The Fed dalam forum Jackson Hole. Investor akan mencermati pernyataannya untuk mendapatkan gambaran mengenai kemungkinan arah suku bunga AS selanjutnya.

Perkembangan inflasi dan pernyataan Warsh diperkirakan dapat menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan emas dalam waktu dekat.

"Ini bisa memberikan katalis untuk pergerakan besar berikutnya" pada emas, ujar Senior Market Analyst Trade Nation David Morrison, seperti dikutip Investing.

Dengan kondisi tersebut, pasar emas saat ini mencermati dua faktor utama, yakni perkembangan inflasi AS yang tercermin melalui data PCE dan sinyal kebijakan moneter yang disampaikan Warsh.

Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar mengenai suku bunga AS dan arah dolar Amerika Serikat, sekaligus menentukan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update