Jakarta, Rakyatterkini.com – Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta meminta Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tidak berhenti pada pernyataan kecaman dalam merespons berbagai tindakan Israel terhadap Palestina. Menurutnya, OKI perlu mengambil langkah konkret yang dapat dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“OKI harus mampu membangun wibawa organisasi, tidak dengan kecaman dan pernyataan, melainkan melalui aksi nyata dan berkelanjutan,” ujar Anis dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu.
Pernyataan tersebut disampaikan Anis ketika mewakili Menteri Luar Negeri Sugiono dalam Konferensi Tingkat Menteri Luar Negeri Luar Biasa ke-23 OKI (KTM-LB) yang berlangsung di Jeddah, Arab Saudi, Kamis (27/8).
Dalam forum tersebut, Anis kembali mengangkat persoalan kekerasan serta dugaan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan Israel. Beberapa di antaranya mencakup pembangunan permukiman ilegal, pencaplokan wilayah Palestina, hingga pembunuhan terhadap warga sipil Palestina.
Indonesia, kata Anis, melihat kondisi di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan. Konflik yang berkepanjangan juga telah menimbulkan dampak yang tidak lagi terbatas pada kawasan tersebut, tetapi turut berpengaruh terhadap berbagai negara lainnya.
Ia menilai situasi yang diwarnai perpecahan perhatian di antara negara-negara anggota OKI berpotensi dimanfaatkan Israel untuk melanjutkan tindakan-tindakan yang ditentang Indonesia. Keadaan itu sekaligus menjadi ujian bagi OKI dalam menjaga solidaritas dan memperkuat koordinasi antarnegara anggotanya.
Anis mendorong OKI menggunakan seluruh kapasitas dan mekanisme yang dimiliki untuk memastikan adanya pertanggungjawaban atas tindakan Israel. Ia juga menyatakan bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok pemukim ilegal perlu dikategorikan sebagai tindakan terorisme.
“OKI harus memaksimalkan kemampuan dan mekanismenya untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas berbagai kejahatannya serta mengkategorikan tindakan kekerasan para pemukim ilegal sebagai aksi terorisme,” katanya.
Selain membahas perkembangan konflik Palestina, pertemuan KTM-LB ke-23 juga menghasilkan keputusan mengenai kepemimpinan baru OKI. Forum tersebut menyepakati Ismail Ould Cheikh Ahmed sebagai Sekretaris Jenderal OKI untuk masa jabatan 2026–2031. Ia akan menggantikan Hissein Brahim Taha dari Chad.
Ismail Ould Cheikh Ahmed diketahui pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Mauritania.
Di sela agenda konferensi, Anis juga menggelar sejumlah pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Sudan, Palestina, dan Qatar. Ia turut bertemu dengan Wakil Menteri Luar Negeri Turki dan Somalia.
Sejumlah pertemuan tersebut membicarakan penguatan hubungan bilateral sekaligus perkembangan isu regional dan internasional yang menjadi perhatian bersama.
Kehadiran Indonesia dalam KTM-LB OKI menjadi bagian dari upaya menjalankan amanat konstitusi untuk berkontribusi aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Salah satu fokusnya adalah mendorong penghentian konflik di Timur Tengah yang hingga kini masih menimbulkan dampak bagi banyak negara.(da*)


