Padang, Rakyatterkini.com – Perbedaan pilihan dan sikap politik semestinya tidak menjadi penghalang bagi para pihak untuk bersama-sama membangun daerah. Kontestasi politik memiliki ruang dan waktunya sendiri, sementara kepentingan masyarakat harus tetap menjadi prioritas bersama.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan bertajuk “Bulan Agustus Bulan Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” yang berlangsung di Kantor DPC PDIP Kota Padang, kawasan Ulak Karang, Minggu malam.
Ketua DPD PDIP Sumatera Barat Alex Indra Lukman dalam kesempatan itu mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga hubungan baik meski memiliki perbedaan pandangan politik. Menurutnya, perbedaan prinsip, ide maupun gagasan merupakan hal yang wajar dalam demokrasi.
“Perbedaan prinsip, ide, dan gagasan boleh saja terjadi. Namun, hubungan emosional dan silaturahmi harus tetap dipelihara,” kata Alex.
Ia bahkan memperlihatkan sikap tersebut dengan mempersingkat sambutannya agar Wali Kota Padang Fadly Amran dapat menyampaikan pidato. Fadly diketahui baru memastikan kehadirannya sekitar satu setengah jam sebelum acara dimulai, sehingga namanya belum tercantum dalam susunan acara.
Alex menyebut dirinya dan Fadly berada di posisi politik yang tidak selalu sejalan. Alex merupakan Ketua PDIP Sumbar, sedangkan Fadly memimpin Partai NasDem Sumbar sekaligus menjabat Wali Kota Padang. Kendati demikian, perbedaan tersebut dinilai tidak menghalangi keduanya untuk berkomunikasi dan berbagi ruang.
“Dalam sejumlah agenda, posisi kami memang tidak sama. Tetapi sebagai sesama anak bangsa, tentu kita dapat berbagi panggung dan waktu,” ujarnya.
Menurut Alex, prinsip tersebut turut dipengaruhi oleh nilai yang diwariskan dua sosok yang menjadi panutannya dalam dunia politik, yakni ayahnya, almarhum Yohanes Lukman, yang pernah menjabat Sekretaris PDIP Sumbar, serta politikus senior PDIP Taufik Kiemas.
Ia mengingat pesan ayahnya agar perjuangan politik tetap memberikan ruang bagi kelompok minoritas dengan tetap menghormati kelompok mayoritas.
Sementara dari Taufik Kiemas, Alex mengaku mendapatkan pandangan mengenai bagaimana menghadapi rivalitas politik. Ia mengutip pesan Taufik bahwa kemenangan tidak harus selalu diraih secara mutlak selama tujuan utama perjuangan sudah tercapai.
Alex menilai, sikap saling menghormati dan menjaga komunikasi tersebut penting diterapkan dalam kehidupan politik maupun pembangunan daerah.
Halida Hatta Soroti Pentingnya Kemerdekaan Berpikir
Gagasan mengenai pentingnya kepercayaan dan kebersamaan juga disampaikan Halida Hatta, putri bungsu Proklamator RI Mohammad Hatta. Dalam pidato politiknya, Halida mengangkat hubungan antara Bung Hatta dan Bung Karno sebagai contoh bagaimana perbedaan kapasitas dapat saling melengkapi dalam perjuangan.
Diiringi musik tradisional yang dibawakan kelompok kontemporer Talago Bunyi, Halida menjelaskan bahwa Bung Hatta dan Bung Karno memiliki kepercayaan satu sama lain serta menjalankan peran masing-masing dalam perjuangan bangsa.
Menurutnya, pola saling percaya juga terlihat antara pemimpin sipil dengan para tokoh militer yang melakukan perjuangan gerilya. Meskipun berada dalam situasi dan posisi berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Memasuki usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Halida mengatakan tantangan bangsa kini tidak hanya menjaga kemerdekaan secara fisik, tetapi juga mempertahankan kebebasan dalam berpikir.
Ia menilai perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi. Namun, kondisi tersebut juga menghadirkan risiko karena tidak semua informasi yang beredar memiliki konteks dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Indonesia memang sudah merdeka, tetapi kemerdekaan dalam berpikir juga harus kita jaga,” tegas Halida.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menerima informasi singkat dan terpotong tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis perlu terus diperkuat.
PDIP Sumbar Dinilai Konsisten Rawat Sejarah Bung Hatta
Kegiatan tersebut juga mendapat apresiasi dari Kepala Bidang Sejarah DPP PDI Perjuangan Bonnie Triyana. Ia menilai DPD PDIP Sumatera Barat menunjukkan komitmen dalam menjaga ingatan sejarah melalui peringatan Pekan Bung Hatta yang umumnya berlangsung pada 12 hingga 17 Agustus.
Bonnie menyebut langkah tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa sekaligus upaya mengenalkan kembali pemikiran Bung Hatta kepada masyarakat.
Ia juga mengajak masyarakat melihat hubungan Bung Karno dan Bung Hatta secara lebih utuh. Menurut Bonnie, keduanya memang mempunyai karakter serta kapasitas berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Karena itu, warisan pemikiran keduanya dinilai penting untuk terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Fadly Amran Kenang Hubungan Bung Hatta dengan Padang
Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran menyinggung kedekatan sejarah Bung Hatta dengan Kota Padang. Menurutnya, Padang memiliki hubungan yang kuat dengan perjalanan pendidikan dan kehidupan sang proklamator.
Fadly menyebut Bung Hatta pernah menempuh pendidikan di Padang. Jejak sejarah tersebut bahkan turut diabadikan dalam Mars Kota Padang.
Dalam acara itu, Fadly juga menyampaikan penghargaan kepada PDIP Sumatera Barat yang disebutnya telah memberikan dukungan politik dalam sejumlah kontestasi yang pernah diikutinya, termasuk Pilkada Padang Panjang 2018 dan Pilkada Kota Padang.
Ia pun melontarkan pernyataan bernada terbuka mengenai kemungkinan kerja sama politik pada masa mendatang.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan pertunjukan naratif musikal yang digarap budayawan Edy Utama. Pertunjukan tersebut mengangkat sejumlah episode penting dalam perjalanan hidup Bung Hatta.
Kisah yang ditampilkan antara lain penangkapan Bung Hatta oleh Belanda, pembelaannya melalui pidato “Indonesia Merdeka”, hingga pesan terakhirnya mengenai keinginan untuk dimakamkan di tempat pemakaman umum, bukan di Taman Makam Pahlawan.
Pertunjukan tersebut menjadi penutup kegiatan sekaligus pengingat bahwa nilai perjuangan, kesederhanaan, literasi, dan semangat kebangsaan Bung Hatta tetap relevan untuk direnungkan di tengah kehidupan Indonesia saat ini.(da*)


