Notification

×

Iklan

Viral Letusan Anak Krakatau Ternyata Rekayasa AI

Sabtu, 04 Juli 2026 | 23:46 WIB Last Updated 2026-07-04T16:46:00Z

Viral video di media sosial yang memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau 

Jakarta, Rakyatterkini.com– Sebuah video yang mengklaim memperlihatkan letusan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, menjadi viral di berbagai platform media sosial. Dalam rekaman tersebut tampak semburan api merah menyala pada malam hari yang disebut-sebut berasal dari aktivitas gunung berapi tersebut.

Video berdurasi sekitar 10 detik itu direkam dari atas kapal. Sejumlah penumpang terlihat mengarahkan kamera ponsel ke arah langit malam seolah-olah sedang merekam letusan gunung.

Unggahan tersebut juga disertai keterangan yang menyebut, "Izin, dapat video dari teman yang adiknya kerja di kapal Gunung Anak Krakatau jam 20.49 WIB." Narasi itu membuat banyak warganet percaya bahwa video tersebut merupakan rekaman asli.

Namun, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan bahwa video yang beredar merupakan informasi palsu. Berdasarkan hasil pemeriksaan, bentuk gunung yang terlihat dalam rekaman tidak sesuai dengan karakteristik Gunung Anak Krakatau.

PVMBG menjelaskan bahwa video tersebut diduga merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Indikasi lainnya terlihat dari layar ponsel yang muncul dalam rekaman, yang tidak menunjukkan adanya proses perekaman letusan sebagaimana diklaim.

"Dari bentuk gunung saja sudah berbeda dengan Gunung Anak Krakatau. Selain itu, tampilan layar ponsel di atas kapal juga tidak menunjukkan sedang merekam letusan. Karena itu, besar kemungkinan video tersebut merupakan hasil penyalahgunaan teknologi AI," demikian penjelasan PVMBG dalam keterangan resminya, Sabtu (4/7/2026).

PVMBG mengingatkan bahwa perkembangan teknologi AI seharusnya dimanfaatkan untuk tujuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Penyalahgunaan teknologi tersebut untuk membuat atau menyebarkan informasi menyesatkan dinilai dapat memicu keresahan di tengah publik.

Di sisi lain, Badan Geologi sebelumnya telah meningkatkan status aktivitas Gunung Anak Krakatau dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) sejak Kamis, 2 Juli 2026. Keputusan itu diambil setelah terjadi erupsi yang menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak gunung atau mencapai elevasi sekitar 357 meter di atas permukaan laut.

Dengan status Siaga, masyarakat, wisatawan, maupun pendaki diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Warga juga diimbau tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya awan panas, aliran lava, lontaran material pijar, hingga hujan abu apabila aktivitas vulkanik kembali meningkat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update