Notification

×

Iklan

Tragedi Bendungan Banqiao Tewaskan 171 Ribu Orang

Senin, 06 Juli 2026 | 03:33 WIB Last Updated 2026-07-05T20:33:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Peristiwa jebolnya Bendungan Banqiao menjadi salah satu bencana paling kelam dalam sejarah China. Insiden yang terjadi pada 1975 itu diperkirakan menewaskan sekitar 171 ribu orang, baik secara langsung maupun akibat dampak lanjutan setelah bencana.

Berdasarkan laporan International Rivers Resource Hub, Bendungan Banqiao berada di Provinsi Henan, China. Runtuhnya bendungan tersebut kerap disebut sebagai kegagalan konstruksi bendungan paling mematikan dalam sejarah negara itu.

Bencana bermula pada malam 8 Agustus 1975 ketika wilayah di sekitar hilir bendungan diguyur hujan deras akibat badai besar. Warga yang terdampak awalnya tidak menyangka curah hujan akan berlangsung begitu lama. Seiring waktu, volume air terus meningkat hingga terdengar suara retakan dari arah bendungan.

Tak lama kemudian, Bendungan Banqiao gagal menahan tekanan air dan akhirnya jebol. Air dalam jumlah sangat besar, yang diperkirakan setara dengan isi sekitar 280 ribu kolam renang berstandar Olimpiade, meluncur deras membentuk gelombang banjir dengan kecepatan sekitar 50 kilometer per jam. Gelombang tersebut menyapu serta menghancurkan permukiman dan desa-desa yang berada di kawasan hilir.

Dampak bencana semakin meluas karena kerusakan Bendungan Banqiao memicu runtuhnya 62 bendungan lain di sekitarnya. Fenomena yang dikenal sebagai efek domino itu membuat banjir melanda wilayah yang lebih luas dan memperparah jumlah korban.

Secara keseluruhan, korban meninggal diperkirakan mencapai 171 ribu jiwa. Sekitar 26 ribu orang kehilangan nyawa secara langsung akibat terjangan banjir, sementara puluhan ribu lainnya meninggal pada hari-hari berikutnya karena kelaparan serta wabah penyakit, seperti kolera dan cacar, yang muncul setelah bencana.

Sebelum tragedi tersebut terjadi, Bendungan Banqiao dikenal sebagai salah satu bendungan paling kuat di China. Setelah diperkuat dengan teknologi dan spesifikasi dari Uni Soviet pada dekade 1950-an, bendungan itu bahkan mendapat julukan "Bendungan Besi".

Meski demikian, seorang ahli hidrologi bernama Chen Xing pernah mengingatkan bahwa pembangunan bendungan secara berlebihan di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan risiko besar. Ia juga mengusulkan agar Bendungan Banqiao dilengkapi 12 pintu air untuk meningkatkan kapasitas pengendalian banjir. Namun, usulan itu tidak sepenuhnya diterapkan karena hanya lima pintu air yang akhirnya dibangun.

Selama bertahun-tahun setelah kejadian, pemerintah China disebut tidak mengungkap secara luas besarnya dampak tragedi tersebut. Banyak masyarakat di luar Provinsi Henan baru mengetahui skala sebenarnya dari bencana itu setelah berbagai dokumen dan catatan sejarah mulai dipublikasikan pada 2005, sekitar tiga dekade setelah peristiwa tersebut.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update