Notification

×

Iklan

Pakar ITB: Belum Ada Bukti Galon PC Sebabkan Kanker

Jumat, 10 Juli 2026 | 05:35 WIB Last Updated 2026-07-09T22:35:00Z

Seorang pekerja memindahkan galon guna ulang berisi air minum. 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Guru Besar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Johnner Sitompul, menyatakan hingga saat ini belum terdapat bukti klinis yang secara langsung menunjukkan bahwa paparan Bisphenol A (BPA) dari galon berbahan polikarbonat (PC) dapat menyebabkan gangguan hormon, masalah reproduksi, maupun kanker pada manusia.

Menurutnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga belum pernah mengeluarkan hasil kajian yang membuktikan adanya hubungan tersebut. Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan atas maraknya informasi yang mengaitkan penggunaan galon guna ulang berbahan polikarbonat dengan berbagai risiko kesehatan.

Johnner menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara BPA sebagai senyawa kimia dan BPA yang telah menjadi bagian dari material polikarbonat. Ia mengatakan, BPA yang telah bereaksi membentuk plastik polikarbonat memiliki ikatan kimia yang kuat sehingga sangat sulit terlepas, terutama saat digunakan dalam kondisi normal.

Ia menambahkan, polikarbonat dikenal sebagai material yang tahan terhadap panas sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan kemasan guna ulang yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Menurut Johnner, berbagai penelitian yang selama ini berkembang lebih banyak membahas dampak BPA sebagai senyawa tunggal, misalnya terkait risiko terhadap bayi, sistem hormon, maupun obesitas. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus meneliti polikarbonat sebagai produk akhir yang digunakan untuk wadah air minum.

Lulusan University of Wales tersebut menjelaskan bahwa BPA merupakan bahan pembentuk (monomer) yang mengalami perubahan struktur setelah melalui proses polimerisasi menjadi polikarbonat. Hingga kini, kata dia, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa galon polikarbonat dapat kembali terurai menjadi BPA ketika bersentuhan dengan air.

Ia menerangkan bahwa proses polimerisasi menghasilkan ikatan kimia yang kuat sehingga material polikarbonat menjadi lebih stabil dan tidak mudah mengalami kerusakan saat digunakan sebagai kemasan pangan. Karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai BPA sering kali mencampuradukkan antara bahan penyusun awal dengan produk akhir yang telah memiliki karakteristik berbeda.

Meski demikian, Johnner menilai masih diperlukan penelitian yang secara khusus menguji kemungkinan perpindahan BPA dari polikarbonat ke dalam air dalam kondisi penggunaan sehari-hari. Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah yang objektif dalam menilai keamanan galon guna ulang.

Sementara itu, penelitian yang dilakukan Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) juga menyimpulkan tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsumsi air minum dari galon guna ulang berbahan polikarbonat dengan gangguan hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker.

Penelitian tersebut menganalisis pola konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK), mengukur kandungan BPA pada 10 merek yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, serta mengkaji kaitannya dengan berbagai keluhan kesehatan responden. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paparan BPA dari air minum kemasan dengan risiko gangguan kesehatan tersebut.

Dalam pembahasannya, tim peneliti menyebut kadar BPA yang ditemukan pada seluruh sampel masih berada jauh di bawah batas aman yang ditetapkan BPOM maupun nilai Tolerable Daily Intake (TDI) dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).

Konsentrasi BPA tertinggi yang terdeteksi mencapai 0,099 mikrogram per liter (μg/L), sedangkan kadar terendah sebesar 0,080 μg/L. Nilai tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan batas aman yang ditetapkan BPOM sebesar 0,5 mg/kg.

BPOM sendiri menegaskan bahwa seluruh kemasan pangan dan minuman yang telah beredar di Indonesia telah memenuhi standar keamanan karena memiliki sertifikasi SNI dan izin edar resmi. Kepala BPOM Taruna Ikrar juga menyatakan bahwa penggunaan galon polikarbonat secara berulang tidak terbukti meningkatkan perpindahan BPA ke dalam air minum.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update