Jakarta, Rakyatterkini.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bengkalis, Riau, terus meluas dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 80 hektare.
Hingga memasuki hari ketiga penanganan, tim gabungan masih berupaya memadamkan api sekaligus melakukan pendinginan di kawasan Jalan Tangkahan Tegar Ujung Canal Atiam yang berada di perbatasan Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, dan Desa Buluh Apo, Kecamatan Pinggir.
Upaya pemadaman melibatkan berbagai unsur, di antaranya personel Polres Bengkalis, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta pemerintah kelurahan setempat.
Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar menyampaikan bahwa penanganan kebakaran dilakukan secara terpadu agar api tidak semakin meluas. Menurutnya, prioritas petugas saat ini adalah memastikan api padam hingga ke lapisan bawah, mencegah munculnya titik api baru, serta meminimalkan dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Hasil pendataan di lapangan menunjukkan lahan yang terbakar didominasi semak belukar dan kebun kelapa sawit yang tidak lagi terawat. Proses pemadaman terkendala kondisi lahan yang kering, suhu udara yang tinggi, serta angin kencang yang mempercepat penyebaran api.
Untuk mendukung proses pemadaman, petugas memanfaatkan air dari kanal di sekitar lokasi sebagai sumber utama penyemprotan. Operasi tersebut juga diperkuat dengan delapan unit mini striker, satu mesin Shibaura, puluhan gulung selang berbagai ukuran, serta 12 unit nozel.
Selain itu, tiga helikopter water bombing diterjunkan untuk menjatuhkan air di titik-titik api yang sulit dijangkau oleh tim darat, sehingga upaya pengendalian kebakaran dapat dilakukan lebih efektif.
Di sisi lain, aparat kepolisian mulai melakukan penyelidikan dengan menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa saksi-saksi, mengumpulkan dokumentasi, dan menelusuri penyebab kebakaran. Dari hasil pemantauan sementara, area yang terbakar berada dalam satu hamparan lahan dengan sedikitnya delapan titik panas (hotspot) yang tersebar di beberapa koordinat.
Meski akses menuju lokasi masih dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, kondisi medan berupa lahan gambut dan semak belukar yang lebat membuat proses pemadaman menjadi lebih berat. Hingga kini, identitas pemilik lahan serta penyebab pasti kebakaran masih dalam tahap penyelidikan.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa operasi pemadaman dan proses penyelidikan akan terus dilakukan sampai api benar-benar padam dan penyebab kebakaran berhasil diungkap.(da*)


