Jakarta, Rakyatterkini.com - Penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung, masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Ade Meidian Ambari, mengimbau masyarakat untuk lebih memperhatikan faktor-faktor risiko yang dapat memicu penyakit tersebut. Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan mengobati setelah penyakit terjadi.
Ade menjelaskan bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama yang harus segera dikendalikan.
Seseorang yang memiliki tekanan darah di atas 140/90 mmHg sudah termasuk kategori hipertensi dan perlu mendapatkan penanganan medis agar tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Untuk mencegah hipertensi, masyarakat dianjurkan menjalani pola hidup sehat, seperti mengurangi konsumsi garam dan membatasi makanan dengan kadar garam tinggi, misalnya ikan asin.
Jika tekanan darah tetap tinggi meski telah menerapkan gaya hidup sehat, pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter sangat disarankan agar memperoleh terapi yang sesuai.
Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) itu juga mengingatkan bahwa kolesterol tinggi, diabetes, dan kebiasaan merokok merupakan faktor risiko penting yang dapat meningkatkan peluang terjadinya penyakit jantung.
Ia menyarankan agar kadar kolesterol jahat (LDL) dijaga di bawah 100 mg/dL, sedangkan penderita diabetes sebaiknya mempertahankan kadar HbA1c di bawah 7 persen untuk menekan risiko komplikasi pada jantung dan pembuluh darah.
Sebagai gambaran, Ade pernah menangani seorang pasien berusia 24 tahun yang mengalami serangan jantung akibat kebiasaan merokok secara berlebihan, yakni hingga tiga bungkus rokok setiap hari. Kondisi tersebut menyebabkan penyumbatan total pada pembuluh darah koroner pasien.
Menurutnya, menghindari rokok, menjaga tekanan darah tetap normal, mengontrol kadar kolesterol, serta mengelola diabetes dengan baik dapat menurunkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah hingga sekitar 80 persen. Sementara sekitar 20 persen sisanya dipengaruhi oleh faktor keturunan atau genetik.
Data Kementerian Kesehatan yang dirilis pada 2025 menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Setiap tahun, serangan jantung dan stroke diperkirakan menyebabkan hampir 800 ribu kematian di Tanah Air.(da*)


