![]() |
| Anggota Dewan Pendidikan Sumbar, M.Khudri dan Alforki Martha, saat berkunjung ke MAN 3 Padang. |
PADANG - Kasus ledakan bom rakitan di sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Selasa (14/7/2026) mendapat perhatian khusus dari Dewan Pendidikan (DP) Sumbar.
Dua anggota DP kunjungi sekolah itu yaitu, M.Khudri dan Alforki Martha, Kamis (16/7).
"Kejadian menyentakkan kita, DP perlu mengetahui kejadian yang sebenarnya, dan turut memberikan masukan kepada penyelenggara pendidikan, pemerintah dan masyarakat agar proses pendidikan berjalan dengan baik," kata Alforki.
Kasus ledakan di SMA ini sebenarnya hanya insiden kecil saja, tapi beritanya sangat besar, melampaui bunyinya.
"Kami sedang rapat di ruang ini, tiba terdengar anak ribut, ada yang sebut ledakan. Di tempat kami rapat yang berjarak dua lokal dari lokasi, tak dengar apa-apa, maka disebut ledakan, tidak lah ya, mungkin sekeras bunyi mercon lah," kata kepala MAN 3 Padang, Marliza, yang menerima kunjungan dua anggota DP.
Marliza menyayangkan informasi yang membesar-besarkan peristiwa ini. "Berita yang berkembang di awal kejadian sangat bombastis, terkesan dibesar-besarkan, kerusakan tak ada, hanya sisa mesiu, namun kami menghargai kewaspadaan aparat keamanan dalam rangka mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Djelaskan anak yang membawa alat peledak rakitan dengan inisial R (17) kelas 12, adalah anak pendiam. "Sejauh ini tidak pernah dia melapor kalau dia sering di buly oleh temannya, anak itu selama ini baik-baik saja," katanya.
Sering dibuly membuat sianak punya dendam, kemudian berniat mencelakan kawannya dengan alat peledak, Kepsek mengaku tidak dapat informasi sebelumnya. "Pengakuan itu kan muncul setelah kejadian, sebelumnya baik-baik saja," katanya.
Marliza mengaku mendapat penjelasan dari orang tuanya, sebelum masuk MAN 3 ini, si anak menolak sekolah di MAN 3. "Anak itu mengaku tidak suka dengan anak-anak MAN ini," ujar Marliza.
Setelah menjalani pendidikan di sekolah, anak ini biasa-biasa saja kendati suka menyendiri. "Kata urang tuanya dia di rumah suka menyendiri dan main hape," ujarnya.
Kepsek mengatakan mengambil hikmah peristiwa ini. "Kami akan mengevaluasi pendekatan pembelajaran selama ini, dan akan meningkatkan strategi membangun komunikasi dengan siswa dan menggerakkan kreativitas siswa baik kurikuler maupun ekstra kurikuler," katanya.
Tentang keberadaan si anak yang membawa alat peledak itu, Kepsek mengatakan yang bersangkutan masih di bawah pengawasan polisi. "Dia masih di Polres, kami menunggu bagaimana proses selanjutnya," kata Marliza.
"R" di Mapolresta mendapat pendampingan psikologis dari PPA, karena diketahui setelah peristiwa itu yang bersangkutan kelihatan syok. "Secara mental dia trauma, kita berharap anak kita itu pulih mentalnya kembali," katanya. (MK)


